"Aku mau kita seperti dulu, Kak." Dia mulai berjalan mendekat kearahku. Aku mulai panik.
"Stop!" peringatku. Aku bisa mendengar langkahnya terhenti.
"Kak ...."
"Ingat, aku hanya menganggapmu junior disini, dan anggap saja aku senior! Jangan melewati batasmu saat disini ataupun saat berada di luar!" ancamku. Setelah itu aku menghapus air mataku lalu pergi secepat kilat.
Aku menunduk seraya berjalan cepat, tak kusangka langkahku telah menabrak seseorang. "Aw ...." Ringisku, dengan cepat aku mendongkak menatapnya. "Maaf, Pak." Ternyata orang yg kutabrak pak Aldo. Dia sama meringis seraya menatapku.
"Kenapa, kok mata kamu merah," balasnya. Aku kembali menunduk.
"Enggak, Pak. Maaf saya buru-buru," aku langsung pergi dengan cepat.
Aku melangkah menuju kamar mandi dengan secepat kilat. Berpapasan dengan pak Aldo membuatku sedikit teringat kembali dengan ucapannya, "kamu mau jadi pacar pura-pura saya?" Apa ini, aku malah memikirkan ucapannya kembali. Apa iya aku harus menyakiti hati perempuan yg akan dijodohkan dengannya? Ya ... aku tidak mau lah.
Pantulan cermin di depanku, membuatku menatap sesaat bayanganku sendiri. Kejadian lima tahun lalu membekas dalam
hatiku. "Kaka, jauhin aku. Aku gak suka Kak, kenapa Kaka gak pernah paham sih, aku gak suka. Tapi kenapa Kaka selalu paksain. Ingat Kak, Kaka lebih tua dari aku, aku gak enak untuk berkata kasar!"
Aku menangis kembali. Takdir kenapa membawanya kembali ke dalam kehidupanku, jujur hatiku tak sanggup dengan ucapannya tadi. Hatiku kembali berdesir hebat seperti dahulu. Tapi, kala aku ingat ucapan terakhir kalinya, dia membuatku hancur tanpa sisa, bahkan karna perasaan itu aku hampir menutup hatiku untuk mengenal cinta kembali.
Dan dengan mudahnya dia mengajakku untuk berhubungan kembali dengannya seperti dahulu, tak sadarkah dia. Saat dia berteriak di depan wajahku! Menolakku dengan kasar tepat di depan wajahku.
Sorry aku menutup hati ini rapat-rapat.
Drrret ... drrrettt ....
Aku melirik ponselku yg bergetar, disana terdapat sebuah notif message dari Sarah yg menanyai keberadaanku. Mungkin dia khawatir dengan tidak adanya aku di gudang penyimpanan saat ini.
Dengan bergegas aku membalasnya. "Iya, aku lagi di kamar mandi, Sar."
Aku segera mencuci wajahku. Menghilangkan kemerahan dimata dan hidungku sedikit sulit memang tapi aku terus mencucinya.
******
"Lo kemana aja, Nu. Dari tadi kita cariin!" tegas Daniel. Dia sepertinya sedikit emosi, jelas sekali dari nada bicaranya padaku.
"Maaf, Niel. Aku tadi di kamar mandi sebentar," lirihku.
"Apa-apa hubungin dulu, biar kita gak khawatir nyariin," sambar Daniel dengan cepat. Dia menatap ku tajam, raut wajah marahnya sedikit mereda saat pak Aldo tiba-tiba menghampiri kami disana.
"Ada apa sih!" tegasnya.
"Gak papa, Pak." Sarkasku dengan cepat.
"Ini, Pak. Nunu sekarang sering banget kabur-kaburan terus!" kesal Sarah tiba-tiba.
"Kalo aja kalian tau perasaanku lagi gimana." Batinku.
"Eh! Kalian gimana sih, temen kalian tuh lagi galau malah dimarah-marahin. Gimana sih sahabat deket tapi gak tau perasaan temennya lagi sedih!" tegas pak Aldo. Jelas sekali dia membelaku.
Mereka berdua membeku menatapku sedikit tak percaya, sepertinya mereka sedikit merasa bersalah.
"Pak!" seruku.
"Kalian gak peka amat! Liat tuh matanya merah, pasti abis nangis tuh!" ucap pak Aldo kembali. Setelah melontarkan kata itu, pak Aldo pergi dengan membanting pintu yg cukup keras.
"Nu ...," lirih Sarah.
"Gue minta maaf, Sar." Sambung Daniel. Keduanya merasa bersalah sekarang.
"Kalian gak salah kok, maaf ya gue lagi ada masalah pribadi. Maaf, malah kebawa ke kantor," ujarku.
"Masalah apa? Kan, bisa curhat sama pangeranmu yang tampan ini!" seru Daniel membuatku tertawa sekejap.
"Pangeran mata lu katarak!" ketus Sarah. Terlihat sekali dia tak terima dengan ucapan Daniel.
"Apasih, Mak Lampir."
"Kasian si Pangeran, namanya ternodai!" ujar Sarah kembali.
"Emang gue najis!" Daniel menyolot.
"Dasar mugoladzoh!" sama halnya Sarah, kami terbahak bersama.
*****
Semangatku kini meredup, mood-ku juga sudah berantakan. Pikiranku terus beputar pada kejadian satu jam yang lalu, dia benar-benar membuat hariku kembali tak berselera. Jangankan untuk tersenyum, Daniel mengoceh dekat telingaku saja tak di gubris sama sekali.
"Sayanggg ... udah galaunya dong, aku cape dari tadi ngoceh." Keluhnya, tak ada lelahnya dia terus saja melawak agar aku tersenyum. Bodoh! Aku tak ingin tersenyum. Gerutuku dalam hati.
"Nu, ayo. Ini jam kita harus ngajarin anak magang." Ajak Sarah. Dia terus menarik lenganku agar mengikutinya.
Masih berat dan lesu, aku mengangkat tubuhku agar tegak berdiri. Sejenak aku merapihkan pakaianku yg sedikit kusut agar terlihat rapi. Sebenarnya, pikiranku masih enggan untuk melakukan aktivitas, tapi demi keprofesionalan bekerja aku memaksa tubuhku untuk semangat.
Sarah terus menggandeng tanganku yang masih lemas, sepanjang jalan bahkan ia terus mengoceh menyemangatiku, aku tak habis pikir ternyata Sarah itu cerewetnya melebihi Daniel saat iya seperti ini.
"Se-Ma-Ngat! Semangat!!!" serunya. Dia mengangkat tanganku ke atas, layaknya berhore atas sesuatu. Aku tersenyum kearahnya dengan sedikit terpaksa.
Sesampainya disana, aku masih terlihat murung. Berkali-kali Daniel menyuruhku tersenyum dan aku juga menurut, aku tersenyum dengan paksa.
Sarah meyuruhku untuk mengecek desain anak magang untuk brand tas keluaran terbaru hasil produksi kami, Disana kulihat satu persatu gambar yang mereka buat.
Sekejap aku terhenti dari pilihan ketiga desain yang mereka buat, aku mengamati sejanak gambar yang nampak berbeda dari yang lainnya.
Aku tau hasil siapa ini, dengan polesan warna hitam yang dominan dan perpaduan biru muda sebagai polesan setiap garisnya, jelas sekali ini milik Siapa ....
.
.
.
TBC!
KAMU SEDANG MEMBACA
ANUGRAH
De TodoAku tidak ingin bertemu dengannya lagi, ini terlalu menyakitkan. Aku tau aku yg salah karena jatuh bahkan terperosok oleh pesonanya. Sedari awal harusnya aku sadar dia telah memberiku penolakan dengan cara halusnya. Tapi dengan tingkat kepedean dan...
