Nindy, Ibunya, dan Rahayu sedang menuntun Adiknya Nindy berjalan, mereka memasuki koridor asrama putri dengan kamar-kamar. luas satu kamar hanya sekitar 3 x 5 meter. Ketika memasuki ruangan asrama putri ini, ada 4 kamar samping kiri dan 3 kamar samping kanan. Pada sisi kanan sebelum barisan kamar ada belokan koridor yang merupakan tempat beberapa kamar mandi. Baru masuk pintu pun sudah ada tangga menuju lantai 2. Dan lebihan ruang di samping bawah tangga itu didesain menjadi area dapur dengan kompor di atas meja setinggi perut dari rata-rata para santriwati. Dan di ujung koridor yang satu lagi ada area kosong seluas satu kamar setelah kamar ke empat di sisi kiri. Dan ada tangga naik menuju lantai 2 juga. Akhirnya Pengurus Siswi yang mengantar mereka sampai di kamar ketiga samping kiri. Gadis Pengurus Siswi itu berbadan tinggi, berkulit putih dan sangat kurus.
Pengurus Siswi. : "Silakan, masuk ke sini, di sini kita perkamar itu rata-rata diisi 6 sampe 8 orang dan sesuai Dapu'annya masing-masing. Dan mungkin nanti Nindy dapet dapu'an juga. Tapi untuk sementara Nindy belum kebagian loker dan kalau keadaan kamar sempit, terpaksa harus tidur di lorong. Kami mohon maaf dan maklum memang beginilah keadaannya, Bu...".
Ibunya Nindy. : "Oh... Gitu, ya... Ya udah nggak apa-apa... Biar si Nindy ngerasain susahnya mondok. Hehehe.".
Karena ucapan itu, Nindy cemberut pada ibunya.
Rahayu. : "Ya udah, Nindy langsung taro aja di dalem kopernya.. Kita makan dulu ke Wisma.".
Nindy lalu membawa barang-barangnya dan dibantu oleh Pengurus Siswi. Loker-loker yang ada di ruangan ini menempel melayang di dinding. Dengan jarak dari lantai sekitar 1,5 meter. Loker tersebut memiliki ukuran volume kurang lebih 40 cm x 40 cm x 60 cm.
........
Jam 11:00.
Zimy. : "Jam 11 ya? Kalau gitu makan, dong.".
Zimy pun mengantungi kartu makan pada sakunya, mengambil piring serta sendok yang ditaruh di tumpukkan barangnya. Dan dia segera turun. Setelah dia berada di lantai 2, dia memperhatikan sekitarnya. Banyak sekali sepasang jendela mengelilingi seluruh ruangan masjid ini dengan jarak sekitar satu meter antara sepasang jendela dengan sepasang jendela yang lain. Tembok Di bawah jendela yang jaraknya satu meter sebelum lantai dilapisi ubin ujuran sekitar 5 x 5. Di atas setiap pasangan jendela tersebut terdapat ventilasi udara berbentuk setengah lingkaran yang dipasang jeruji berpola agak rumit hingga pusatnya berbentuk bintang. Area yang tanpa jendela hanya tembok dibalik tembok ubin hitam dan setengah wilayah kanan dari ujung Shof wanita. Ada meja pengajar terletak tepat di bagian depan jendela yang di luar jendela tersebut adalah area balkon tanpa pembatas yang terdapat tulisan huruf timbul stainless Masjid Asfarul-Iman. Jarak satu meter dari jendela terdapat pilar. Dan jarak antar pilar kurang lebih lima meter.
Zimy. : "(Kantin kalau nggak salah ada di lantai satu gedung pas gue daftar tadi ya...).".
.......
Saat Zimy sudah turun di lantai satu dan tanpa menggunakan Alas kaki dia turun ke jalanan paving blok. Dan dia bertemu dengan Nindy, Rahayu, Serta Ibunya Nindy yang sedang menggendong Adiknya Nindy di jalanan Paving blok yang memisahkan antara Masjid dengan rumah warga ini.
Ibunya Nindy. : "Lho. Iky mau makan?.".
Zimy. : "Iya, Bi.. Soalnya katanya jam 11 'kan waktunya makan 'kan?.".
Ibunya Nindy. : "Ikut aja ayo ke wisma tamu. Makan di sana.".
Zimy. : "Oh, gitu... Ya udah tungguin ya Bi... Iky naro piring lagi dulu...".
Ibunya Nindy. : "Iya...".
........
Setelah itu mereka semua berangkat berjalan arah lurus dari tempat mereka turun dari mobil tadi. Beberapa meter dari teras masjid semua adalah jalanan paving blok. Di tepi kanan ada batas cat putih pemisah paving blok jalan dan paving blok area parkir mobil. Akhir dari paving blok ada batas trotoar dan di situ terdapat barisan pohon palem yang berdekatan dengan tembok rumah warga dua lantai. Pemasangan paving blok segi enam untuk jalan dan area parkir mobil berbeda. Paving blok area parkir disusun secara salah satu sudut bertemu sudut lagi, Sehingga memberi ruang kosong tanah berbentuk belah ketupat dan ditumbuhi rerumputan. Sementara paving blok di jalan dibuat semua sisi bertemu sisi sehingga tidak ada ruang tersisa kecuali celah-celah pinggirnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Upadaya Santri Gila
غير روائيّة[Diambil dari Kisah Nyata.] Masa lalu yang kelam sebagai pecinta sesama jenis membuat Zimy ingin mengubah hidupnya dan ingin menjadi seorang Ulama. akhirnya dia memutuskan untuk masuk pondok pesantren. dapatkan dia menjadi seorang Ulama dan hidup...
