05 : Ekhem, Maba

3 0 0
                                    

"WOY, NDRE!"

Andre berbalik, menemukan Juna yang berlari ke arahnya.

"Tumben telat?"

"Males sekolah." Juna menghela napas. Juna bohong, semalaman ia menculik Pak Ivan untuk berkeliling kota menggunakan motor barunya. Alhasil, mereka baru kembali dini hari, dan, ya, Juna telat bangun.

"Cuma bikin persiapan doang," ujar Andre. "Harusnya OSIS aja, kenapa kita juga repot?"

"Mau gimana lagi? Ijazah gue masih di sini."

"Cih, yang udah jadi maba," cibir Andre.

"Kenyataannya emang gitu." Juna memasang tampang songong. "Kenapa lu gak lanjut kuliah, btw?"

"Otak gue gak kuat, kerja aja. Kasian Emak."

"Kalo gue biayain, gimana?" tanya Juna asal.

"Jangan ngawur! Gue bukan istri lu yang harus dibiayain."

"Lu mau jadi istri gue?"

"Najis!"

Juna tertawa mendengar jawaban Andre. Sobatnya yang satu ini memang straight, tapi, bukan berarti ia membenci para gay, hanya risih saja.

Mereka masuk ke aula sekolah. Di sana sudah ada beberapa anak seangkatan mereka yang sudah mulai mendekorasi tempat itu.

"Jun, Ndre, sebelah sini. Bantuin kita tiup balon!" seru seorang siswi memanggil keduanya yang masih berdiam di ambang pintu.

Keduanya menghampiri. Namun, bukannya membantu, mereka malah bermain dengan kumpulan balon hingga meletus beberapa, membuat Andre menjadi latah dan menjauh dari balon.

Juna tertawa laknat saat Andre mengumpat karena kaget. Akan tetapi, tawa Juna hilang, giliran Andre yang tertawa saat sekumpulan siswi memarahi Juna karena insiden itu.

"Mampus!" Tawa Andre belum mereda saat Juna kabur dari kumpulan 'hyena barbar'.

Menjelang malam, mereka baru bubar, kembali ke kediaman masing-masing. Mereka akan kembali besok, hingga seminggu ke depan.

•••

"Papa ...."

Pak Ivan menoleh saat kepala Juna muncul di balik pintu ruang kerja.

"Ya?"

"Pinjem jas Papa, boleh?"

"Buat?" Pak Ivan kembali fokus pada pekerjaannya.

"Bentar lagi mau ada pesta perpisahan di sekolah. Yang laki harus pake jas." Juna masuk, duduk di depan Papanya.

Pak Ivan menyimpan file-nya lalu menghadap Juna.

"Kenapa gak beli aja?"

"Gak Mau. Naksir jas Papa."

"Yang mana?"

"Yang putih, ada motifnya warna item."

(This Is Not) A Ray Of HopeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang