2.Koma

17.5K 1.4K 82
                                        

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Sesampainya di rumah sakit, keluarga Alexander langsung menuju Unit Gawat Darurat sesuai arahan dari resepsionis. Wajah mereka penuh kekhawatiran—meski sebagian menyembunyikannya di balik ekspresi datar. Di luar ruangan, mereka hanya bisa menunggu dalam diam. Suasana tegang menyelimuti lorong UGD.

Ceklek.
Pintu UGD terbuka. Seorang dokter pria melangkah keluar, wajahnya lelah tapi tetap tenang.

"Dok, bagaimana kondisi anak saya? Dia... dia baik-baik saja, kan?" suara Mommy nyaris bergetar, bertubi-tubi, menahan panik.

Dokter menghela napas sejenak. “Keadaan pasien cukup parah. Ia mengalami patah pada kaki dan tangan. Yang paling serius adalah benturan keras di kepala yang menyebabkan pasien koma.”

Sontak, suasana menjadi hening. Mommy menutup mulutnya, shock. Daddy menunduk, matanya memerah. Ketiga kakak Rara pun terdiam. Meski raut wajah mereka tetap dingin, ada sedikit keterkejutan yang tak bisa disembunyikan. Namun, mereka buru-buru menepis perasaan itu. Ego mereka masih berdiri lebih tinggi daripada emosi lainnya.

“K-Koma...?” ulang Mommy dengan suara lirih.

Dokter mengangguk pelan. “Kami akan segera memindahkan pasien ke ruang rawat. Setelah itu, Anda bisa menjenguknya.”

“Terima kasih, Dok.” jawab Daddy singkat.

Tak lama kemudian, Rara dipindahkan ke ruang rawat. Kelima anggota keluarga masuk ke ruangan dengan langkah pelan. Di sana, terbaringlah tubuh mungil Rara—pucat, tak bergerak. Tangan dan kakinya diperban. Kepala terbalut kain putih, selang oksigen terpasang di hidungnya, alat monitor berdetak pelan di samping tempat tidurnya.

Pemandangan itu membuat dada mereka sesak.

Mommy langsung menggenggam tangan Rara yang dingin. “Cepat bangun, sayang... Mommy nggak kuat lihat kamu seperti ini...” isaknya, air mata jatuh membasahi jari Rara.

Daddy berdiri di sisi lain tempat tidur. “Cepat sadar, Putri Daddy… Rumah ini terlalu sepi tanpamu.” bisiknya lirih.

Alex diam, berdiri paling jauh di sudut ruangan. Namun matanya tak lepas dari wajah pucat adiknya. “Kenapa bisa separah ini, Ra? Andai aja lo nggak segila itu... Gue bahkan khawatir, bodohnya…” batinnya, namun segera ia buang jauh perasaan itu.

Devanka dan Devinka hanya saling melirik.
“Beneran koma ya?” batin Devan.

Mereka berada di ruang rawat hingga pukul 12.45 malam. Mommy dan ketiga kakak Rara akhirnya pulang lebih dulu, dipaksa lelah dan emosi. Hanya Daddy yang tinggal di rumah sakit, mengurus administrasi yang belum selesai, sesekali menoleh ke arah putri bungsunya yang masih tertidur dalam ketidakpastian.

Dan Rara… masih diam. Masih terkunci dalam tubuhnya sendiri.

Namun jauh di dalam kesadaran yang tak terlihat…

Ada sesuatu yang mulai berubah.

TRANSMIGRASI ADARACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang