~
.
~
.
~
.
~
.
~
.
.
.
.
“Hiks... hiks… Aku capek… pura-pura jadi orang jahat… pura-pura nyakitin orang supaya mereka semua menjauh dari aku… Aku... beneran capek...” Tangisannya pecah, sesenggukan makin keras.
“Aku cuma pengen sembuh, Tuhan... aku cuma pengen hidup normal kayak orang lain. Aku cuma pengen ngerasain disayang... dicintai...” Suara jeritannya memecah sepi. Tangannya mengepal, tubuhnya bergetar hebat.
Adara Queency Florentina Alexander, atau biasa dipanggil Rara, dikenal sebagai gadis manja, pembuat onar, dan tukang cari perhatian. Ia suka membully, menggoda pria-pria tampan, dan berebut perhatian, terutama dari ketiga abangnya. Tidak ada yang benar-benar menyukainya. Semua orang menilainya murahan. Kecuali dua orang yang selalu melihatnya sebagai seorang anak, Mommy dan Daddy.
Namun tak ada yang tahu. Semua sikap buruk Rara hanyalah tameng. Ia menyimpan penyakit mematikan yang perlahan menggerogoti tubuhnya. Hanya kedua orang tuanya yang tahu, bahwa di balik senyum dan kelakuan menyebalkannya, Rara sedang berjuang bertahan hidup.
Malam itu, ia mengemudi dengan emosi tak terkendali. Air matanya belum sempat kering ketika sebuah truk melaju kencang dari arah berlawanan.
Remnya blong.
“Tidaaakkkk!”
BRAK!!!
Bunyi hantaman keras. Mobil terguling. Pecahan kaca berhamburan. Tubuhnya terbanting, darah mengucur. Pandangannya mulai kabur. Napasnya tersendat.
“Tuhan… kalau ini akhir hidupku… tolong... izinkan jiwaku melanjutkan hidup… lewat siapa pun yang Kau pilih...” Perlahan, semuanya menggelap.
Sementara itu...
Di kediaman keluarga Alexander, suasana terasa tegang. Mommy mondar-mandir di ruang tamu, wajahnya cemas.
“Kenapa Rara belum juga pulang, Dad? Sudah larut malam. Perasaan Mom nggak enak,” ucapnya panik.
“Tenang, mungkin dia sedang bersama teman-temannya,” jawab sang suami, mencoba menenangkan meski wajahnya pun terlihat khawatir.
“Alah, paling juga keluyuran di klub malam,” ujar Alexio Rengga Dewanta Alexander, anak sulung, usia 21 tahun. Abang pertama Rara yang lebih dikenal sebagai Alex. Pemuda tampan, dingin, dan menyandang ketua organisasi motor.
“Iya, mungkin juga lagi godain om-om tua,” sahut Devanka, abang kedua.
“Ck. Dasar murahan,” desis Devinka, si bungsu dari tiga bersaudara laki-laki itu, saudara kembar Devanka, hanya berbeda tujuh menit.
Mereka bertiga duduk dengan wajah datar. Sikap dingin mereka menunjukkan rasa muak—atau itulah yang ingin mereka tunjukkan. Padahal jauh di dalam, ada rasa yang belum pernah benar-benar mereka pahami tentang adik bungsu mereka itu.
“Kalian ini, Rara itu adik kalian! Sekalipun dia bandel, tetap tugas kalian melindunginya!” bentak sang ayah.
Ketiganya hanya membuang muka. Dalam hati mereka, "Selalu saja dibela."
Tiba-tiba, suara dering telepon rumah memecah ketegangan.
Drrtt… drrtt...
Sang ayah buru-buru mengangkatnya. Wajahnya yang semula tenang berubah tegang, lalu pucat.
“Apa?! ...Kami segera ke sana!”
“Ada apa, Dad?!” tanya Mommy panik.
“Rara… dia… kecelakaan. Tertabrak truk. Kita harus ke rumah sakit sekarang!”
Mommy langsung lemas. Air matanya pecah seketika.
Sementara itu, ketiga kakak Rara membeku. Ekspresi mereka tak berubah, namun batin mereka bergejolak. Tapi mulut mereka tetap melontarkan ejekan:
“Syukur. Meninggal aja sekalian,” gumam Devan.
“Ngapain ke rumah sakit. Nenek lampir itu nggak penting,” timpal Devin.
“KALIAN BERTIGA IKUT! ATAU MOM SITA SEMUA FASILITAS KALIAN!” teriak Mommy dengan nada ultimatum.
Dengan terpaksa, tiga kakak laki-laki itu ikut menuju rumah sakit,menuju pertemuan yang akan mengubah segalanya.
*******
Vote dan komen ya guys!!
Stay safe!!!
KAMU SEDANG MEMBACA
TRANSMIGRASI ADARA
FantasíaApa jadinya ketika jiwa seorang gadis cerdas dan tenang, yang tampak lugu di luar namun menyimpan karakter dingin dan tak terduga, berpindah ke tubuh gadis paling populer sekaligus paling dibenci di sekolah? Adara Britney Colins dikenal sebagai prib...
