"ICAA, KAMU KENAPA??" Narisa datang, membawa dompetku dan segera bertanya.
Aku menutup wajahku dengan kedua tanganku, aku tidak menutupi wajahku karena aku sedang menangis, tidak. Aku hanya sedang mengontrol emosiku. Tapi ayolah? luka ini sepertinya belum sepenuhnya rapat, tapi kenapa ketika aku telah menerima kenyataannya, aku malah di suguhkan kebahagiaan yang malah menyayat luka lamaku lagi?
Narisa masih tetap duduk di sampingku, menenangkan ku dalam keadaan seperti ini. Dia adalah sahabat yang memiliki rasa peduli yang sangat tinggi, itu mengapa aku sangat menyayanginya.
"Caaa, kenapa sih tiba-tiba nutup muka gitu?"
Aku berusaha menatap mata milik Narisa, tak ingin membuatnya khawatir aku langsung menceritakan kejadian yang terjadi tadi.
"Kak aku ketemu dia. Tadi dia ada di sebelah meja itu, aku pengen negur suer kak, cuman negur engga ada niatan lain.. tapi pas aku mau ke meja itu, ada Calya.. tiba-tiba tangan mereka saling genggam gitu, hahaha" tak sadar selama aku mengatakan semua itu satu demi satu tetes air mata mendarat di pipiku begitu saja.
Narisa merangkulku, mengatakan banyak kata-kata penenang bagi luka yang terbuka lagi ini, menyakinkan bahwa aku bisa baik-baik saja suatu saat nanti.
"Terima kasih." hanya kata itu yang menjadi penutup hari di Cafe Kencarati, menanti dan menangisi.
𝟐𝟎𝟐𝟏, 𝐆𝐎𝐑𝐄𝐒𝐀𝐍 𝐉𝐈𝐍𝐆𝐆𝐀.
KAMU SEDANG MEMBACA
❨ 𝐆𝐎𝐑𝐄𝐒𝐀𝐍 𝐉𝐈𝐍𝐆𝐆𝐀 ㅡ #조유리 ❩
FanfictionBeberapa hal, memang tidak harus bergerak atau terhenti karena keinginan. Merelakan atau menjalani hari dalam fase melupakan adalah sebuah pilihan maju atau tetap berdiri pada tempatnya. People changes, Yurica- katanya.
