5.🔥

8 1 0
                                    

Hari ini Dava teman SMA Amaira akan mengunjunginya, dua tahun tinggal di negri paman sam membuat dirinya rindu akan tanah air.

Untuk mempersiapkan kedatangannya, Amaira membuat kue brownies, Amaira ingat dulu kue brownies yang dibekalkan Amaira padanya, kandas oleh Dava. Ia berkata 'kalau nanti ia ingin setiap hari di masa depannya ada seseorang yang membuatkannya kue brownies seperti ini' sungguh ambigu bukan(?)

" Ama.." panggil seorang bersuara bass dari belakang punggung Amaira.

"Eh.. i..iya" sial. Amaira gugup.

" Gue pengen soto " ucapnya to the point.

Ya.. seorang bersuara bass itu adalah Raja. Sejak hari itu sikap raja mulai 'sedikit' berubah. Ingat sedikit!

" Emmm Raja mau sekarang ya "

" Gue ngomong sekarang, berarti maunya juga sekarang "

" Em mm Raja tunggu dulu mungkin agak lama soalnya Ama lagi buat kue brownies dulu "

" Lu tumben tumbenan bikin kue gtu, mau ada sapa si? "

" Enggak 'tumben' raja, ama sering kok bikin yang kayak gini cuman versi kue keringnya biar bisa disimpan di toples dan dinikmati dalam jangka panjang.. "

" Hmmm " seperti biasa Raja acuh tak acuh akan perkataan Amaira.

" berharap raja mau relain mulutnya buat nikmatin kue buatan Ama " gumam Amaira.

Sejam lebih Amaira berkutat didapur akhirnya kue brownies dan soto siap dihidangkan. Kepulan asap dari Kuah soto mengetuk Indra penciuman Raja yang sedang berkutat dengan laptopnya.

Ting Tong

Bel berbunyi amaira segera membuka pintu dan Seorang berprawakan tinggi bahu lebar wajah Asia kental dengan pakaian casual berdiri sembari menenteng paper bag.

" Assalamualaikum Ukhti " salamnya.

" Wa'alaikumussalam Davaaaa "

" Pangling ya, makin terpesona kan lu ma " ucapnya dengan PD.

Ya seorang itu ialah Dava.

" Ahaha hah, dari dulu emang masih melekat ya tingkat akut kepercayaan dirinya "

" Iyalah gambaran suami idaman tuh ya ke gini " ucapnya ngawur.

" Yaudah ayo masuk "

" Eh gak lupa kan lu buatin gua kue brownies " ucapnya disela sela perjalanan.

" Yaelah kagak usah diingetin gue udah peka apa yang lu mau "

" Salah lu gak pernah peka sama gue, apalagi perasaan gue " gumam Dava yang terdengar samar oleh Amaira.

" Eh gimana "

" Emm apa? "

" Tadi gue denger lu ngomong, tapi apa ya samar soalnya "

" Oh gak cuman gumaman gak percaya lu kok bisa cantik aja, padahal dulu paling burik " guyon Dava.

" Sekate Kate lu "

Saat sampai ruang tamu Amaira langsung menuju dapur untuk mengambil brownies.

" Siapa?"

" Hah "

" Ada siapa?"

" Emm temen SMA Ama "

" Cowok ?" ucapnya disela sela kunyahannya.

" Ya "

Setelah itu tak ada pembicaraan lagi dan Amaira langsung ke ruang tamu.

" Emmmm wanginya dah kecium dari jarak belasan meter " ucap Dava.

Amaira hanya menggeleng geleng kecil menanggapinya.

" Eh katanya disini ada si kembar mana? "

" Oh mereka lagi keluar sama Haris "

Dava hanya manggut manggut menanggapinya. Dulu ia masih sempat melihat si kembar yang masih bayi merah, sebelum berangkat ke Amerika untuk melanjutkan studinya.

" Mana suami lu,? gue mau silaturahmi " ucap Dava dengan pembawaan yang tenang.

Sebenarnya ada suatu hal yang menyebabkan Dava pindah ke negri paman Sam itu.

Nnti teteh bahas skarang buat Raja panas dulu.

" Huffft di ruang makan " jawab Amaira seadanya.

" Gue bawa buah tangan ni dari AS aseli bukan kaleng kaleng " canda Dava sembari memberikan paper bag berwarna kunyit itu.

" Gue juga percaya kali, yakali lu ngasih yang kaleng kaleng ke gue " timpal Amaira.

" Termasuk perasaan yang mengalir masih sama dan pastinya bukan kaleng kaleng " gumam Dava.

" Gimana disana udah Nemu yang cocok belum? "

" Lu kan tau tipe gue ke gimana "

" Yang ke gue " dengan percaya dirinya Amaira menjawab membuat Dava salting.

" Yeeeuuhh lu, kenape jadi PD gini sih, ketularan gue lu, baru aja ketemu dah bulat Bae ni virus PD " ucap Dava berguyon menutupi dirinya yang sempat salting.

" Gak ada salahnya juga gue ngomong gtu, kan gue udah punya suami "

" Emng lu mau gue jadiin calon istri " telak Dava tanpa memperdulikan ucapan Amaira.

Dukk

Atensi mereka tertuju pada seorang yang berada di dekat lemari kaca.

Seorang itu ialah Raja yang tak sengaja mendengar sepenggal pembicaraan mereka.

Tak tau mengapa hatinya terasa teremas melihat Amaira yang begitu dekat dengan pria lain selain dirinya.

Raja tau menurutnya perasaan ini salah, tapi mau bagaimana lagi hati tak bisa dikendalikan.

Tanpa sadar Raja menghampiri mereka. Ia duduk disamping Amaira sembari merangkul bahu kecil istrinya. Bila ditafsirkan dari gerak geriknya, ia menegaskan kalau Amaira istrinya.

" Baru pulang? " dengan sok akrabnya raja menyapa, padahal mereka baru bertemu satu kali saat pernikahan.

Lima detik berlalu suasana hening sempat mencekam, sampai akhirnya Amaira membuka suara.




Harapan TerbesarTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang