I'm Free but...

19.8K 163 3
                                        

Jalannya terlihat berbeda dari yang sebelumnya... "Kita mau kemana?" Ucapku sambil menatap ke kaca mobil "Lunch..." balas Lucy. "Lunch? ke mana?" Tanya ku kebingungan. Lucy hanya menatapku sambil tersenyum. Senyumannya itu manis, hanya saja dibalik senyuman tersebut selalu ada kelicikan...

Terlihat dari jauh sebuah gedung besar, dan megah. "Ah, mungkin tempat itu." Pikirku. Mobilpun berhenti tepat di depan gedung tersebut. Terlihat seorang pelayan membuka pintu mobil, aku dan Lucy pun  keluar dan  memasuki gedung tersebut, Aku terus menatap sekitar gedung tersebut sabelum masuk hingga masuk ke gedung tersebut. Gedung tersebut terlalu besar untuk sebuah restoran, Lucy hanya berjalan seakan semua itu sudah biasa.

Kami berdua pun duduk di sofa yang berada disudut restoran, "Anna, pesanlah apa yang kau mau." aku hanya menatapnya, tak lama kemudian, seorang pelayan datang membawakann menu makanan, makanan dan tempat ini terlihat seperti restoran Italia, bahkan nama makanan pada menu inipun terlihat aneh. Bukan hanya aneh, tapi harga setiap makanan tidaklah murah, bahkan aku rasa aku tidak akan pernah bisa makan disini.

Harga termurah dimenu ini ialah Rp. 75.000 untuk sebuah minuman saja, aku terlihat kebingungan dalam memilih makanannya, akhirnya Akupun meminta Lucy untuk memesankan makanan kepadaku. Dia hanya tersenyum manis dan memesankan makanan untukku.

Aku merasa makan dengan Lucy dengan terpaksa lebih baik dari pada dengan Dylan sang laki-laki yang kubenci, walaupun aku sebenarnya tidak menyukai salah satu dari mereka.

Terdengar suara bisik-bisik disekitarku. "Dia itu pasti budaknya, Makanya dia paki kalung itu. Tapi kok dia bisa makan dengan tuannya?" "Mungkin Tuannya baik." Balas orang yang ada disekitar. Semua tatapan menghadap ke arahku, membuat aku merasa tidak nyaman, aku memang selalu menjadi pusat perhatian, tapi aku tidak pernah merasakan tekanan seperti ini.

"Lucy, bisakah kamu melepaskan kalung ini?" pintaku dengan suara kecil. "Tidak boleh!" Balasnya dengan cuek dan tersenyum licik. Tak lama kemudian, makanan yang dipesan pun datang, makanannya terlihat lezat, Entah Kenapa aku tidak ingin makan, Padahal tadi aku lapar sekali, mungkin karena Perasaanku yang tidak tenang.

"Shimazaki, Makan makananmu." Ujar Lucy sambil menatapku tajam. "Aku sudah tidak lapar." balasku. "Shimazaki Anna, jangan kira hanya karena perlakuanku baik kepadamu bukan berarti kamu bisa tidak melakukan apa yang aku minta." Ucapnya dengan suara Keras. Sorot mata yang tajam disekitar semakin menatapku. "Gadis Licik!" Teriakku sambil berlari keluar dari restoran tersebut. Aku berlari hingga ke tepi Jalan Raya.

Lucy hanya berjalan keluar dengan santai, sebuah mobil berhenti tepat didepanku, "Anna, butuh tumpangan?" suara familiar itu terdengar, "Dylan!" tanpa basa basi aku masuk ke dalam mobilnya, aku duduk di kursi belakang. "Untuk sementara aku harus lari dari gadis licik itu!" pikirku. Dylan menjalankan mobilnya dan berjalan menjauh dari restoran tersebut. Terlihat wajah Lucy yang amat terkejut dan akhirnya menghilang dari tatapanku. "Yes!!! Akhirnya aku bisa lari!!!" Ucapku dalam hati, wajahku terlihat begitu amat senang, "Anna kamu Kenapa? Kamu senang ya aku antar?" Ujar Dosen sok keren itu kepedean "Gak lah yau..." Balasku dengan merasa jijik. "Jadi kita kerumah Paman dan Bibimu?" Tanyanya "Tidak!" jawabku spontan, aku belum memikirkan ingin Pergi kemana. "Sudahlah, pulang saja paman dan Bibimu mengkhawatirkanmu." Nasihatnya.

Akupun diantar sampai kerumah Paman dan Bibiku, aku sangat tidak ingin pulang, Pintu rumah tersebutpun terbuka, Tampak Bibi dan paman berjalan keluar dari Rumah tersebut sambil berjalan memelukku, tidak biasanya mereka memelukku dan aku tau itu hanya tipu muslihat belaka. "Terima Kasih Dylan telah mengantarkan Anna pulang. Dylanpun Pergi sambil tersenyum bahagia dan kami bertiga masuk ke dalam rumah.

Saat inilah yang aku benci. "Anna! Kemana saja kamu?!! Lihat kerjaan kamu! mengurusi rumah ini saja belum selesai!!! Jika saja Ibu dan Ayahmu tidak meninggal maka hidup kami berdua akan lebih senang!!!" Teriak bibi setiba didalam rumah. Paman mengambil rotan dan memukul sekujur tubuhku, kini tubuhku penuh dengan garis merah bekas pukulan.

"Kalung apa ini?!! Kamu kemana saja hah? Tidak mengerjakan pekerjaan kami, tidak Pergi ke kerja sambilan?!!" Ujar Paman sambil memegang dan menggoyangkan kalung dari gadis licik tersebut. Aku hanya diam dan menahan sakit dari setiap pukulan tersebut, walaupun pukulan ini sudah biasa terjadi tetapi aku masih tetap tidak bisa menahan rasa sakit ini. Aku tau mereka mempunyai banyak harta yang tidak kuketahui, bahkan gaji dari kerja sambilanku diambil mereka, aku bahkan tidak mendapatkan sepeserpun gaji hasil kerja kerasku. Rumah ini, dari setiap sudutnya aku yang selalu membersihkannya, aku bagaikan budak beneran didalam keluargaku sendiri. Tiba-tiba aku jadi teringat Gadis Licik itu, dia tidak pernah memperlakukan begitu walaupun dia menganggap aku ini budaknya.

~~

Jam menunjuk pukul 6 sore kurang 5 menit, aku harus Pergi kerja sambilan, jika tidak aku bisa dipukul lagi. "Hei!!! Anna, kamu masih belum pergi? Kalau kamu masih mau tinggal disini kamu harus kerja!!! Jangan pikir mentang-mentang kami ini orangtua pengganti, kamu bisa manja-manjaan seperti dengan orang tuamu!!!" Teriak bibi, Paman hanya mengeluarkan rotan sebagai kode bahwa aku harus cepat pergi jika tidak, akan terjadi kesakitan yang lain.

Orangtuaku angkat telah meninggal 7 Tahun lalu, semenjak itu aku tinggal bersama paman dan Bibiku, aku adalah anak adopsi, aku hanya hidup sebatang kara di panti asuhan, tetapi orang tua angkatku mengadopsiku dan menyayangi seakan anak mereka sendiri, saat mereka meninggal aku masih berumur 11 Tahun, Hidup tersiksa semenjak 7 Tahun setelah kejadian itu, aku merasa siksaan itu sudah biasa. Karena itu aku terpaksa kerja sambilan untuk membayar bibi dan pamanku.

Aku sampai di rumah makan tempat aku bekerja, Jam menunjukkan pukul 7.30. Aku masuk tepat waktu. "Anna? Kamu Annakan?" Terlihat Boss terkejut melihatku. "Maaf Boss aku tidak bekerja selama 3 hari." Ujarku ketakutan, aku belum siap untuk dipecat. "Tidak apalah, yang penting hari ini kamu datang untuk bekerja. Lalu kalung apa itu?" Balas Boss sambil tersenyum. "Ah, aku juga tidak tau, aku tidak bisa melepasnya." "Oh, kalung itu keren." Balas Boss sambil pergi dan tersenyum. Boss tempat aku bekerja memang baik, dia tidak pernah memarahi pekerja di rumah makan ini. Akupun bekerja seperti biasa yaitu sebagai pelayan. Aku selesai bekerja pada pukul 10 malam, Aku masih belum ingin pulang, tapi aku juga tidak mungkin jalan-jalan dengan kalung ini. Akhirnya aku memutuskan untuk pulang, sesampaiku dirumah. Paman dan Bibi telah tertidur pulas, Akupun mempersiapkan diri untuk tidur. Aku tidak tau lagi apa yang akan disuruh oleh Paman dan Bibi, Dalam hatiku, aku kangen dengan papa dan mama. Tak lama, Akupun tertidur pulas sambil memikirkan mereka berdua.

Blind SlaveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang