Aku bangun kembali di balik jeruji ini, aku melihat Lucy duduk di depan pintu Jeruji memperhatikanku, tentunya aku sudah terbiasa dengan tatapan tajamnya dan senyuman manisnya, hanya saja, aku masih bingung kenapa aku harus begini.
"Lucy..." aku berkata sambil menatap memelas kearahnya. Aku ingin memperlurus segala hal, mengapa semua ini bisa terjadi padaku.
Aku hanya mendapat jawaban bisu darinya, aku bangkit dan berjalan menuju pintu jeruji, saat mendorong pintu jeruji, pintunya masih terkunci. Lucy aneh sekali hari ini. Aku mulai menaikan nada bicaraku.
"Lucy..." dia kembali menatapku dan berjalan ke arahku. Dia membuka pintu jeruji, dan tersenyum licik, dia mengeluarkan seutas tali semacam tali pengait dan dipasangkan ke kalung yang dileherku, aku hanya berpikir, apa yang ingin dilakukannya.
Dia menarik kalung itu, aku hanya mengikutinya, ya... Aku lelah terus melawannya, kenapa tidak Ikuti saja kemauanya sampai ia puas dan bosan, aku pun mengikuti ia berjalan sambil menarik tali tersebut, bagaikan seorang anjing mengikuti tuannya. Kami melewati lorong dan sampai di ruang mewah dan megah yang sering aku lihat dan lewati. Dia menarik tali tersebut dan duduk disofa mewahnya, aku yang masih berdiri ditariknya tali kalungku sehingga posisiku duduk dilantai, dan dia duduk disampingku disofa. Aku masih bingung dibuat olehnya, saat aku duduk dekatnya, aku baru menyadari di kakinya ada bekas luka, seperti bekas luka yang masih baru, masih seperti baru terjadi.
"Temani aku duduk." Kata Lucy memecahkan keheningan.
"Ada apa denganmu tiba-tiba? Bukannya kamu biasa membiarkan aku duduk dibalik jeruji." Tanyaku.
"Kamu juga biasanya terus memberontak." Jawabnya memasang muka datar.
"Aku lelah, jadi sekarang kamu mau kita duduk begini saja?" Balasku yang dari tadi penuh tanya.
Dia tidak menjawabnya. Keheninganpun terjadi lagi.
"Gadis Licik Kakimu kenapa?" Tanyaku lagi
Dia hanya menatapku tajam seakan menyuruhku diam. Aku tidak memperdulikannya dan mulai menyentuh bekas lukanya.
"Auchh..." terdengar suara merintih dari Lucy. Dia mulai memukul tanganku dengan tangannya lalu, menatapku tajam.
Jujur saja aku merasa kalau biasa aku menyentuh bekas lukanya, aku akan dipukuli dengan cambuk, apa lagi memanggilnya dengan nama "Gadis Licik". Entah apa yang terjadi padanya.
Lukanya ini bisa dibilang seperti luka bekas dipukuli hingga berdarah, tidak biasanya dia seperti ini. Aku tiba-tiba merasa kasihan, jujur aku benci perasaan ku seperti ini, ini kedua kalinya aku merasa iba untuk gadis kejam ini yang tidak mengenal belas kasihan.
"Gadis Licik ada obat luka?" Kata-kata itu terlontar dari mulutku, aku hanya mengatakan tanpa berpikir panjang lagi.
Dia tidak mengatakan apa-apa dan menunjuk sebuah lemari. Aku yakin didalam sana ada obat-obat luka. Akupun berdiri dan berjalan ke lemari tersebut, setelah aku membuka lemari tersebut, sesuai dugaan banyak obat-obatan didalam lemari, bukan hanya kotak P3K tetapi semua obat-obatan lengkap, sesuai dugaan untuk orang yang tingkat tinggi. Tapi aneh, untuk apa Obat sebanyak ini. Akupun mengambil Obat merah, kapas, perban dan obat-obatan yang dibutuhkan.
Ya, aku tau obat-obatan untuk luka karena aku sendiri dipukuli hingga luka.
Aku berjalan kembali ke arahnya seperti anjing, dia hanya terus menatapku dengan tatapan tajam dari tadi. Aku duduk kembali di lantai dan mulai mengobati lukanya, beberapa kali aku mendengar dia merintih kesakitan, tetapi dia sama sekali tidak melawan saat aku obati, aneh sekali Gadis Licik hari ini, mungkin dia lagi stress mungkin.
Selesai aku mengobatinya, dia hanya tertawa licik dan memberi belaian di kepalaku. Seperti anjing yang diusap kepalanya. Aku hanya menatapnya kebingungan, sebenarnya aku ini budak atau semacam binatang peliharaan? Apakah kedua hal itu sama? Entahlah, lama-lama aku bisa gila terus berpikir seperti ini.
Suasana dalam ruangan masih hening. Aku mencoba memecahkan keheningan.
"Lucy, Kakimu sebenarnya kenapa?" Tanyaku seakan pura-pura perduli
"Bukan urusanmu." Jawabnya cuek.
"Cihh, sudah baik aku mau obatin, malah dijawab kayak gitu, emang Gadis Licik lama-lama makin kayak Nek Lampir." Ucapku dalam hati merasa kesal.
Tiba-tiba perutku berbunyi, karena dari tadi aku bangun, belum makan apapun, setelah mendengar bunyi itu dia berdiri dan menarikku ke Kamar mandi, dan menatapku, melepaskan tali dari kalungku seakan menyuruhku membersihkan diri. Akupun masuk membersihkan diri seakan mengerti apa yang dia inginkan, didalam Kamar mandi ini, terdapat baju yang sudah ku mengerti bahwa baju ini akan kupakai. Setelah keluar dari kamar mandi, ia memasang kalungku kembali dan menarikku sampai ke depan meja makan. Tapi anehnya, aku benar-benar diperlakukan seperti binatang. Dia duduk diatas kursi dan aku duduk dilantai tepat disampingnya. Dia mengambilkanku makanan yang bisa kukatakan sangat lezat bagiku. Tapi, mungkin bagi dia itu biasa saja, karena dia kan high class.
"Dari tadi pagi aku belum ada memberontak padanya, tapi jikalau aku tidak memberontak rasanya Gadis Licik ini memperlakukanku tanpa kekerasan. Aku baru tau pola pikir Gadis Licik ini. Sebenarnya apa sih yang dipikirkannya. Kenapa dia memperlakukanku seperti ini." pikir ku sambil menyantap makanan seperti anjing yang makan dilantai, hanya saja ada piring dan aku duduk memakannya.
So, Sorry kalo udah lama ga update, hehe... Soalnya sibuk banget. Kalo ada ide-ide buat chapter selanjutnya silakan comment, Mohon Bantuannya wkwkwk....
KAMU SEDANG MEMBACA
Blind Slave
Novela JuvenilShimazaki Anna ialah seorang gadis yang cukup populer, hingga suatu hari dia diculik. dan bertemu Lucy dan merasakan sebuah tali ikatan yang tidak dimengerti oleh Anna... Dan tentunya ia diperlakukan dengan sangat aneh yang tidak pernah dialaminya.
