A Little Bit Jealousy

7 1 0
                                    


"Gue udah bilang berapa kali sih, Ji?" Yeji kini menangis di pundak Lia setelah mendengar cerita dari Ryujin, dia tidak habis fikir bagaimana bisa pacarnya menyebutkan kata-kata kasar padanya. Belum lagi apa yang dia lakuin semalam.

Iya, semalam Yeji dan Yeonjun terlibat pertengkaran hebat yang mengakibatkan Yeji dilempar koper oleh Yeonjun saat sedang berada dirumahnya. Itulah yang membuat Yeji takut untuk bercerita kepada kedua sahabatnya ini. Dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika dia bercerita semua itu kepada kedua sahabatnya.

Tapi dia tidak bodoh untuk menyadari bahwa hubungan dia dengan Yeonjun sudah sangat tidak sehat. Dia juga bingung dengan dirinya sendiri. Dia ingin sepenuhnya lepas dari Yeonjun, namun hatinya berkata tidak bisa.

"Udah, Jin."

"Yeji lagi kenapa-napa, simpen amarah lo."

Mendengar ucapan Lia, Ryujin meninggalkan mereka untuk kedua kalinya. Tidak keluar dari café, melainkan untuk memesan seporsi brownies dan segelas americano. Dia sangat membutuhkan mereka disaat-saat seperti ini.

"Jen, Iced Americano sama Brownies." Melihat mimik wajah Ryujin yang seperti sedang tidak ingin diganggu dan sekali lagi melihat pesanan dia saat ini sungguh menunjukan bahwa Ryujin sedang tidak baik-baik saja. Jeno menganggukan kepalanya sambil berkata, "gausah bayar."

Ryujin menggelengkan kepalanya kuat mendengar perkataan jeno barusan, "gak, Jen."

"Iya, Jin. Dah sono." Setelah melalui perdebatan kecil, Jeno membalikan badannya menuju bar untuk membuatkan pesanan Ryujin.

Gadis itu berdecak pelan melihat perlakuan Jeno barusan, selalu saja seperti itu. Disaat Ryujin memesan Iced Americano dan Brownies pasti Jeno tidak ingin dia membayar pesanannya.

Ryujin melangkahkan kakinya menuju bagian outdoor café ini dan duduk disalah satu meja tunggal, lalu mengeluarkan sekotak rokok dari sakunya. Waktu yang tepat untuk merokok bagi Ryujin adalah disaat dia memiliki sesuatu yang sedang mengganggu pikirannya.

Gadis itu mengambil satu batang rokok dan menyematkan rokok itu dimulut kecilnya, namun saat dia akan mematik korek api tiba-tiba ada tangan yang menahannya dan langsung mengambil korek itu begitu saja. Ryujin mengangkat kepalanya dengan raut muka sebal, "jangan." Desis Soobin.

Melihat siapa orang itu, Ryujin langsung tersenyum canggung. Dia bahkan sedikit terkejut melihat ada Soobin didepannya yang sudah duduk dengan manis di kursi depannya.

"Balikin korek gue, Bin." Cowok yang dipanggil Bin itu menggelengkan kepalanya.

Belum sempat Ryujin mau mengeluarkan protesnya, dia sudah lebih dulu terkejut dengan kelakuan Soobin yang mengambil rokok yang tersemat di bibir gadis itu dan menyematkannya di mulutnya sendiri. Lalu setelah itu menyalakan pematik dan membakar ujung rokok itu.

Soobin menghisap dalam nikotin itu dan mengeluarkan lesung pipi andalannya, setelah itu laki-laki itu menghembuskan asapnya kearah atas secara perlahan. "Gue beli pake duit ya." Soobin, memberhentikan kegiatannya sejenak dan memfokuskan diri kepada gadis kecil yang ada didepannya.

"Gak ada yang bilang beli pake beha." Ryujin mengendus pelan.

"Permisi mas, mbak. Saya mau nganter pesanan." Ucap Jeno dengan senyuman khasnya.

Ryujin dan Soobin secara bersamaan menolehkan kepalanya kearah Jeno yang sedang memindahkan segelas iced americano dan brownies Ryujin dari nampan ke meja. "Cepat membaik mood-nya." Ucap Jeno sambil mengusak pelan kepala Shin Ryujin.

Ryujin berterima kasih kepada Jeno dan menganggukan kepalanya sedikit antusias. Ryujin sangat senang dimana seseorang mengusak pelan kepalanya walaupun sedikit memberantakan rambut pendeknya tapi itu membuatnya nyaman. Seperti mengirimkan energi kepadanya.

Jeno meninggalkan dua sejoli yang sedang fokus kepada kegiatan masing-masing. Kegiatan masing-masing yang dimaksud adalah Ryujin yang fokus dengan Jeno, Soobin yang fokus melihat kegiatan dua orang didepannya itu.

"mesra banget." Ryujin menolehkan kepalanya kearah Soobin yang masih dengan kegiatan merokoknya.

Tidak menghiraukan ucapan Soobin, Ryujin menyuapkan sepotong brownies ke mulutnya. "Pacaran?"

Uhuk uhuk

Soobin menyodorkan segelas iced americano yang ada didepannya kearah Ryujin, dengan perlahan Ryujin meminumnya dan menatap Soobin penuh tanda tanya.

Karena pertanyaan dadakan Soobin, Ryujin baru saja tersedak brownies favoritnya. Bagi Ryujin, pertanyaan Soobin benar-benar tidak masuk akal dan terlalu kekanakan. Bagaimana bisa dia menyimpulkan suatu hal dalam sekejap mata seperti itu.

"Jangan ngaco."

"Habis mesra banget."

Ryujin berdecak pelan dan kembali melanjutkan kegiatannya kembali, begitu juga dengan Soobin. Tidak hanya kegiatan merokok dan makan, mereka juga saling bertukar candaan satu sama lain. Sehingga keadaan meja itu sedikit ramai dengan tawa mereka berdua.

Lia yang melihat keadaan itu berhenti sejenak dan mengangkat kedua ujung bibirnya membentuk sebuah senyuman indah dengan perlahan. Dia bahagia melihat Ryujin bisa mengobrol seperti itu dengan seseorang yang telah mencuri perhatiannya sejak lama.

Dengan pelan Lia melangkahkan kakinya kearah dimana Ryujin dan Soobin sedang berada, "Shin." Panggil Lia pelan.

Ryujin membalikan badannya kearah Lia yang berada dibelakangnya dengan sendok dibibirnya, "masi lama gak?" mendengar pertanyaan Lia, Ryujin segera mengambil sendok itu dari bibirnya dan mengatakan bahwa dia tidak akan lama.

Setelah mendengarkan penuturan Ryujin, Lia kembali melangkahkan kakinya ke bagian indoor café ini. Kearah dimana meja mereka berada.

Ryujin mengembalikan posisi duduknya menjadi menghadap Soobin yang sedang memandang punggung Lia yang sudah sangat jauh. Ryujin yang menyadari tatapan Soobin ke Lia langsung melunturkan senyumnya, "gue pergi."

Berjalan secepat mungkin meninggalkan Soobin yang belum sempat mengeluarkan kata-katanya. 

COMPLICATEDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang