Kenangan tentang Airin

7 1 0
                                        

Almira, wanita yang tinggal sendiri di indekos lantai empat menjelaskan, pada malam kejadian, dia terus berada di dalam kamar. Mahasiswi tingkat akhir itu sedang menyelesaikan skripsinya yang sempat tertunda. Karena itulah dia memilih untuk tinggal di lantai atas yang sepi, agar bisa konsentrasi dalam mengerjakan tugasnya.

Akbar memandang wanita di hadapannya. Wajah manis yang tampak lelah, lingkaran hitam di bawah mata, dan sikap yang berulang kali menguap menguatkan ceritanya.

“Biasanya, pukul berapa kamu mengerjakan skripsi?”

“Siang saat semua orang sudah berangkat kerja, dan malam saat orang-orang istirahat. Itu waktu terbaik karena indekos sepi, jadi saya bisa konsentrasi mengetik. Lucu ya, karena waktu istirahat saya pun jadi tidak teratur.” Lagi-lagi, wanita itu menguap. Untungnya dia mengenakan masker sehingga Akbar tidak begitu terganggu.

“Jadi, tadi malam sampai pukul lima pagi ini, kamu masih terjaga?”

“Pastinya. Dua hari lagi sudah harus selesai, sedangkan data yang harus saya masukkan masih kurang.”

“Apakah tadi malam kamu mendengar keributan di bawah, di kamar 317? Atau mungkin, sesuatu yang mencurigakan?”

Almira diam beberapa saat, mencoba mengingat-ingat apa ada hal yang mencurigakan tadi malam. “Kalau dari kamarku, tidak begitu terdengar jika ada sesuatu dari lantai tiga, Pak,” ucapnya. “Bapak bisa cek kamar saya di lantai empat. Kamar paling belakang. Di sana sepi sekali.”

Akbar mengangguk mendengarnya. “Baiklah, nanti saya cek ke sana,” ucapnya. “Saya rasa cukup ini dulu, Mbak. Nanti kalau ada apa-apa, saya hubungi lagi.”

Almira mengangguk dan mengulurkan tangan untuk bersalaman, tapi Akbar menangkupkan tangan sebagai ganti. Wajah Almira memerah karena malu.

“Maaf, Pak. Saya lupa kalau dilarang jabat tangan selama masa pandemi. Ah, mungkin karena terlalu lama saya tidak berinteraksi dengan orang-orang.”

⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙

Hendra meninggalkan TKP di Jalan Kuningan dengan wajah keruh. Sejuta angan bergelayut dalam benaknya. Memikirkan kematian Airin yang masih misterius, dan juga kejadian pagi ini. Peristiwa pembunuhan di kamar Reni.

'Siapa sebenarnya wanita yang ada dalam kamar itu?' pikirnya. 'Lalu di mana Reni sekarang?'

Dering ponsel mengejutkannya. Diraihnya benda mungil tersebut dari dalam saku celana. Sebuah pesan WhatsApp dari nomor tidak dikenal.

“Sebaiknya kamu lebih waspada mulai saat ini. Bisa jadi, kamu sasaran berikutnya.”

Kening Hendra berkerut.
“Ini siapa?” ketiknya. Namun hanya centang satu. Terkirim tapi belum diterima. Sedikit kesal Hendra menelepon nomor tersebut, tapi tidak terhubung.

“Berengsek!” Lelaki itu mengumpat sendirian. “Siapa pengirim pesan ini? Mau menakutiku rupanya,” gumamnya.

'Bisa jadi kamu sasaran berikutnya.' Kalimat itu dibacanya berulang-ulang. Hatinya galau. Apa benar, semua yang terjadi hari ini adalah teror pembalasan atas kematian Airin?

Ah, Airin. Malang benar nasib gadis itu. Terlahir dari keluarga dengan ekonomi bawah membuatnya harus bekerja keras untuk bisa tetap bertahan hidup bersama Simbok. Beruntung, Airin anak yang pandai. Dia mendapatkan beasiswa prestasi setiap tahun. Hal itulah yang membuatnya mampu melanjutkan belajar hingga kuliah di Sastra Indonesia di sebuah universitas negeri favorit di kota ini.

Hendra tersenyum mengingatnya. Airin adalah sosok gadis manis berlesung pipit yang pendiam dan baik hati. Hendra bersahabat dengannya sejak SMA. Lelaki itu sudah hafal bagaimana perilaku Airin dan kesehariannya. Airin adalah seorang yang selalu siap sedia membantu siapa saja yang membutuhkan bantuannya, tapi akan menghilang jika dia berada dalam kesulitan.

Ya, Airin anak yang introvert. Dia selalu kesulitan berbagi cerita dengan orang lain. Dalam hatinya, dia tak pernah ingin menyusahkan orang lain dengan masalahnya. Karena itulah, bersahabat dengan Airin juga susah-susah gampang. Bagaimana tidak? Saat teman butuh bantuan, dia dengan senang hati membantu. Saat teman akan menolongnya, justru dia yang menolak dan marah-marah.

Persahabatan Airin dan Hendra mulai renggang sejak kuliah, tepatnya, sejak Airin mengalami musibah itu. Ditabrak mobil di depan kampus sehingga harus kehilangan kaki kirinya, membuat dia putus asa dengan keadaannya. Saat itu, berulang kali Hendra ingin membantu gadis itu, tapi Airin menolak. Dia tak ingin dianggap tidak mampu dan hanya menjadi beban bagi orang lain. Airin hanya ingin orang menghargai prestasinya, bukan mengasihani.

“Ah, Airin. Andai saja kamu tidak keras kepala seperti itu, tentu tidak akan sampai begini jadinya,” keluh Hendra. Meninggal dengan tidak wajar, kasus yang tidak ditangani polisi, hingga teror pembunuhan setahun kemudian. Hendra merasa, semua itu tidak akan terjadi jika dia tetap berada di dekat Airin. Ya, dia yang harusnya ada bersama Airin, bukan Rangga.

Hendra menghentikan langkahnya. Mengingat nama Rangga membuatnya berpikir buruk. 'Apakah Rangga yang telah melakukan semua ini?' pikirnya. Lelaki berengsek itu menghilang beberapa hari sebelum kematian Airin, dan tak diketahui rimbanya hingga sekarang.

Hendra bergegas mengambil ponselnya untuk menghubungi Detektif Akbar, tepat saat detektif itu meneleponnya lebih dulu. Hendra tersenyum. Bagaimana bisa kebetulan begini?

“Hallo, Assalamu’alaikum,” ucapnya.

“Wa’alaikum salam. Ndra, kamu di mana sekarang?” tanya suara di seberang sana.

“Masih di jalan, Pak. Baru mau sampai rumah. Ada apa?”

“Aku ke sana sekarang ya? Penting.”

Hendra baru mau menjawab saat telepon ditutup. Ah, ini orang sama-sama enggak sopannya dengan pengirim WhatsApp misterius tadi. Sebagai seorang petugas, Akbar tidak pernah mau bicara saya-anda dengannya. Malah aku-kamu saja. Dia pikir aku saudaranya?

Suara klakson mobil menghentikan angannya. Hendra menoleh. Dilihatnya polisi muda itu tengah mengemudi dengan tangan kanan, dan makan roti dengan tangan kiri. Kekanakan. Hendra menepuk dahi melihatnya.

“Sorry, habis lapar banget aku. Belum sempat sarapan sampai siang begini.”

“Iya,” jawab Hendra pendek.

“Ayo masuk, Ndra. Aku ingin kamu ikut,” teriaknya di sela deru kendaraan yang lalu lalang.

Hendra masih bingung. “Ke mana?”

“Sudahlah, nanti aja aku beritahu. Sekarang ayo, masuk dulu!”

Hendra mengangguk dan masuk ke mobil. Tidak menuruti kemauan petugas adalah salah satu hal yang tidak sopan, meskipun Hendra tahu, Akbar juga tidak sopan, mengajak orang yang tidak dikenalnya dengan berteriak begitu saja dari dalam mobil.

Geely keluaran 2010 itu melaju pelan menuju arah selatan. Awalnya, Hendra bingung ke mana tujuan Akbar. Namun, begitu sampai di gang-gang sempit yang hanya cukup untuk satu mobil saja, Hendra langsung terkesiap.

“Ini kan jalan menuju rumah Airin?” lelaki itu menoleh ke arah Akbar yang hanya tersenyum dan tetap menyetir dengan tenang.

“Anda mau membawa saya ke mana? Rumah Airin?” tanyanya lagi.

Kali ini, Akbar menoleh. “Iya, kita harus mulai mengusut kasus meninggalnya sahabatmu itu. Jika tidak, aku khawatir akan ada lagi kejadian buruk yang menimpa teman-temanmu, atau malah menimpamu sendiri,” ucapnya.

Hendra mengernyitkan kening.

"Pak…”

“Panggil saja aku Akbar. Kurasa, kita seumuran kan ya?”

“Oke, Akbar. Apakah kamu yang mengirim pesan WhatsApp kepadaku tadi?”

Akbar mengernyitkan kening, heran.

“Apa maksudmu, Ndra? Aku hanya meneleponmu tadi, tidak kirim pesan. Lagipula, nomorku sudah kamu simpan kan? Hanya satu itu saja nomor ponsel yang kupunya. Kau tahu, Ndra. Aku paling benci dengan orang-orang yang suka mengganti nomor ponsel berkali-kali. Buat apa coba? Apa nomor lama bermasalah? Atau karena tidak ingin dihubungi?”

Akbar terus saja berbicara, sedangkan Hendra bertanya-tanya dalam hati. Jika bukan Akbar, lalu siapa…[]

Rahasia AirinCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang