Kota M, 1 April 2020
Kamar kos-kosan di lantai tiga Jalan Raya Kuningan Kota M kini disegel polisi. Beberapa petugas tampak mondar-mandir dalam indekos yang sempit itu.
“Semua harap berkumpul di bawah! Jangan lupa pakai masker dan jaga jarak!” Ucapan petugas itu membuat para penghuni indekos panik dan bergegas turun. Beberapa tampak pucat dan gemetar. Terdengar bisik-bisik di antara mereka.
“Ada apa?”
“Apa yang terjadi?”
Sedang yang ditanya hanya mengangkat bahu karena mereka sama-sama tidak mengerti.
Dalam sekejap, ruang tamu di lantai bawah sudah dipenuhi para penghuni kamar kos yang mayoritas mahasiswi, ditambah ibu pemilik indekos, seorang laki-laki petugas kebersihan, dan seorang nenek cantik yang sedikit bungkuk. Petugas susah payah mengatur mereka agar jaga jarak, dan juga terpaksa memberikan masker kepada beberapa orang yang mengaku belum punya masker kain. Sebagian terpaksa harus berdiri berjajar di tangga karena ruang tamu penuh.
“Kalian cek semua kamar! Saya dan Detektif Akbar akan mewawancarai mereka di sini,” ucap AKP Reyhan kepada rekan-rekannya. Tiga orang yang ada di hadapannya mengangguk dan segera berlalu, menuju kamar-kamar yang ada di lantai dua dan tiga.
“Ada apa sebenarnya, Pak Polisi?” tanya salah seorang penghuni kamar. Pak Reyhan dan Akbar, seorang reserse polisi, menoleh ke arah wanita tersebut. Dari penampilan dan gaya bicaranya, bisa dipastikan wanita ini adalah salah seorang mahasiswi yang kuliah di kampus agak jauh dari Jalan Kuningan. Bisa dilihat dari sepatunya yang sudah aus di bagian bawah padahal bagian atasnya masih bagus. Pasti sepatunya sering dipakai berjalan jauh. Kaki wanita tersebut juga menunjukkan dia sering melakukan aktivitas di luar ruangan. Belum lagi kulit tubuhnya yang sedikit gelap di bagian yang tidak tertutup pakaian.
Akbar menjelaskan kepada orang-orang, dia mendapat laporan dari seseorang bahwa telah terjadi pembunuhan di kamar indekos nomor 317.
“Kamar 317? Itu kan kamarnya Reni?” celetuk salah seorang wanita.
“Kamu kenal dengan korban?”
Wanita itu mengangguk. “Tentu saja. Siapa yang tidak kenal dengan Reni? Gadis paling aktif dan ramah yang pernah kutemui. Semua orang di sini mengenalnya.”
Berdasarkan laporan tim forensik, Reni diperkirakan meninggal antara pukul 04.00 sampai 05.00 tadi pagi. Kulit tubuhnya yang putih tampak biru lebam pada beberapa bagian. Wajahnya penuh riasan, menandakan dia sudah mandi sepagi itu dan hendak keluar. Namun sekarang, wajah cantik penuh riasan itu kini juga dipenuhi luka dan lumpur.
Ya, itulah kejanggalan yang ditemukan petugas. Kamar itu tidak hanya dipenuhi darah yang berceceran, tapi juga lumpur. Itu aneh, karena bangunan ini terletak di tengah kota. Kamar Reni juga terletak di lantai tiga. Jika ada orang lain yang naik ke kamarnya dalam keadaan kotor, tentu lantai di bawahnya ikut kotor, sedangkan kondisi bangunan setinggi empat lantai itu bersih tak bernoda. Tangga di dalam rumah dan tangga darurat pun bersih, tidak ada tanda-tanda bekas lumpur yang baru dibersihkan.
“Bagaimana dengan CCTV?” tanya Reyhan. “Adakah orang yang mencurigakan? Atau mungkin, orang luar yang masuk ke sini tadi malam sampai subuh tadi.”
Petugas memeriksa CCTV yang terdapat pada beberapa sudut bangunan. Namun, tidak ada satu orang pun yang mencurigakan datang pagi itu. Reyhan meminta agar semua orang yang tampak keluar masuk di kamera CCTV mulai kemarin untuk ditandai.
***
Di ruang tamu lantai bawah, Akbar memeriksa alibi semua orang.
“Kami berempat berangkat ke masjid sekitar pukul setengah empat. Tapi waktu itu, tidak ada yang aneh. Ya kan, Mbak Ani?”
KAMU SEDANG MEMBACA
Rahasia Airin
Misteri / ThrillerAirin-seorang penulis yang karyanya dimuat atas nama orang lain-ditemukan meninggal karena kelelahan menulis selama tiga hari berturut-turut tanpa istirahat. Setelah meninggalnya Airin, banyak kejadian aneh dialami teman-temannya. Hendra mencoba men...
