Teman Misterius Simbok

3 1 0
                                        

Hendra terkejut. Ucapan Akbar hampir sama dengan pesan WhatsApp yang diterimanya tadi, bahwa bisa jadi, selanjutnya dia yang akan menjadi sasaran teror pelaku yang ingin balas dendam atas kematian Airin.

“Beneran kamu tidak pernah mengirim pesan padaku?”

Akbar menoleh. “Kenapa? Apakah ada seseorang yang mengirim pesan aneh-aneh kepadamu?”

Hendra mengambil ponselnya. “Bukan pesan aneh sebenarnya. Dia memperingatkanku agar lebih waspada, karena bisa jadi, aku akan menjadi sasaran teror selanjutnya. Pesan itu menjadi aneh karena kamu juga mengatakannya barusan.”

Akbar ikut terkejut. Dihentikannya laju mobil, lalu segera meraih ponsel dari tangan Hendra. Benar-benar ceroboh memang. Di jalan sempit seperti itu berhenti, bagaimana kalau ada mobil lain dari arah berlawanan? Apalagi dia memutar musik dalam mobil dengan suara keras, bagaimana bisa dengar suara klakson kendaraan lain?

“Bar, mobilnya jangan parkir di tengah jalan. Bisa dimarahi orang kita nanti.”

“Halah, sebentar saja, Ndra. Enggak apa-apa. Siapa yang berani memarahi kita?” sanggahnya. Hendra sempat berpikir, apakah orang lain juga sama songongnya kayak Akbar ini?

Akbar meraih ponsel Hendra, membaca pesan yang tertulis di sana, dan melihat nomor si pengirim. Seketika dia tersenyum. “Dia ada di sini rupanya!” desisnya.

Dikembalikannya ponsel ke tangan Hendra, lalu melanjutkan perjalanan. Tak seberapa jauh lagi mereka akan sampai di rumah Airin.

⸙⸙⸙⸙⸙⸙⸙

Rumah itu masih sama seperti dulu. Rumah klenengan. Bagian bawah dibangun dengan semen, sedangkan bagian atas masih terbuat dari anyaman bambu. Bedanya, rumah mungil itu kini terlihat lebih cerah. Selain karena dindingnya yang tampak baru saja dikapur putih, juga karena banyaknya bunga berwarna-warni menghiasi halaman rumahnya yang sempit. Pagar bambu yang menjadi pembatas halaman dengan jalan pun tampak putih bersih.

Sesak terasa dalam dada. Hendra menahan diri agar tidak sampai menangis melihat rumah kenangan itu. Kamu cowok, Bro. Masak mau nangis di sini? Yang kuat dong. Harus kuat! bisiknya menyemangati diri sendiri.
Akbar melongo melihat Hendra komat kamit sendiri sambil memejamkan mata.

Kamu kenapa, Ndra?”

Hendra menggelengkan kepala.

“Enggak apa-apa,” jawabnya singkat.

“Oh, oke,” Akbar ragu-ragu melihat mata Hendra yang berkaca-kaca. “Mm, kita jadi masuk gak nih?” Pertanyaan bodoh sebenarnya. Sudah sejauh ini, setelah sampai di depan rumahnya, masak  iya mau balik lagi.

Hendra terpaksa tertawa memikirkan lelaki di sebelahnya itu. “Ayo masuk!” serunya.

Mereka berdua memasuki halaman yang penuh dengan bunga-bunga dalam pot beraneka ukuran. Bukan pot bunga seperti yang dijual di toko, sebenarnya. Pot bunga yang ada di halaman rumah ini sebagian besar terbuat dari wadah nasi kenduri yang sudah tidak terpakai lagi. Beberapa tanaman kecil seperti stroberi ditanam dalam botol plastik ukuran tanggung yang dicat dan dilubangi bagian bawahnya, lalu digantung di sepanjang dinding luar rumah.

Akbar sempat heran melihat semua yang dilihatnya. “Bukannya Simbok tinggal sendiri ya?” celetuknya.

Hendra menoleh. “Harusnya iya, karena cucu satu-satunya ya Airin itu. Kenapa memangnya?”

“Jadi, Simbok yang merawat semua tanaman ini?”

“Pastinya. Siapa lagi?” Hendra mengajukan pertanyaan retoris itu sambil mendekati pintu depan.

“Assalamu’alaikum!” ucapnya sambil mengetuk pintu.

Tak berapa lama kemudian, terdengar jawaban dari dalam rumah.

“Wa’alaikum salam.”

Seorang nenek berkebaya dengan rambut putih yang digelung rapi tampak bergegas keluar. “Nak Hendra ya? Waah, lama sekali Nak Hendra tidak ke sini. Ayo, silakan masuk!”
Hendra tersenyum. Simbok tidak berubah. Dia masih tetap lincah seperti dulu. Yang membuat Hendra senang, Simbok ternyata juga masih ingat kepadanya.

Mereka berdua duduk dalam ruang tamu yang sederhana tapi bersih. Lantai rumah yang dulunya masih berupa tanah, sekarang sudah diplester.

Tak berapa lama, Simbok datang dengan membawa nampan berisi kue dan teh hitam. “Senang sekali, masih ada teman Airin yang mau datang ke sini,” ucapnya sambil meletakkan piring berisi kue dan dua gelas teh tersebut di meja.

“Memangnya, anak-anak lain tidak pernah ke sini, Mbok?” tanya Hendra.

Simbok menggeleng. “Tidak ada yang ke sini. Ah, jangankan setelah Airin tiada. Saat dia masih ada pun, teman-temannya sudah jarang ke sini. Paling cuma kamu sama Rangga dulu yang sering ke sini.”

Mendengar nama Rangga, Hendra dan Akbar langsung tertarik. “Rangga masih datang ke sini, Mbok?”

Simbok menggeleng lagi. “Anak itu, bahkan saat Airin meninggal pun dia tidak muncul,” jawabnya.

Dua orang di depannya saling berpandangan. “Jadi, Rangga tidak pernah ke sini lagi sejak setahun yang lalu?” Akbar bertanya, memastikan.

Simbok memandangnya dengan sedikit heran. Mengetahui hal itu Akbar langsung sadar. “Maaf, Nek. Kita belum kenalan ya? Saya Akbar, teman Hendra. Saya yang dulu pernah datang ke sini saat Airin meninggal.”

Simbok langsung tersenyum. “Pantas saya seperti pernah melihat kamu sebelumnya. Kamu yang datang bersama Mbak Erina kan? Panggil saya Simbok.”

“Oh, iya, Mbok.”

“Kamu kenal dengan Rangga juga?” tanya Simbok.

Akbar memandang Hendra sejenak sebelum menjawab, “Saya tahu dari cerita Hendra, Mbok. Katanya, sebelum meninggal, Airin akrab dengan Rangga ya?”

“Ya, begitulah, Nak. Airin itu keras kepala. Jarang ada orang yang bisa cocok dengannya. Rangga salah satu yang bisa mengambil hatinya. Mungkin karena dia tampan, atau entah apa yang membuat Airin begitu baik dengannya. Padahal, Simbok sendiri tidak begitu suka dengan anak itu. Menurut Simbok, dia terlalu memanfaatkan kebaikan Airin. Yahh, meskipun dia juga memberikan uang yang lumayan banyak untuk kami, tapi itu tidak sebanding dengan pengorbanan yang dilakukan Airin.”

Air mata Simbok menetes saat menceritakan cucunya yang telah tiada.

“Lihatlah sekarang. Begitu dia tahu Airin sudah tidak bisa dimanfaatkan lagi, dia menghilang, tak pernah lagi datang ke mari. Bahkan Airin meninggal pun dia tak datang, sekadar untuk mengucap belasungkawa.”

Diulanginya lagi kalimat itu dengan penuh amarah dan kesedihan.
Dua orang di depannya hanya diam mendengar cerita Simbok.

“Selama setahun ini, Simbok tinggal seorang diri saja?” Akbar yang kemudian membuka percakapan lagi.

Simbok mengangguk. “Iya, Nak. Sama siapa lagi? Satu-satunya keluarga Simbok ya hanya Airin saja.”

“Simbok suka merawat tanaman? Saya lihat bunga di depan rumah bagus-bagus semua, Mbok.”

Hendra mengernyitkan kening mendengar ucapan Akbar. Apa-apaan anak ini? Situasi pemilik rumah sedang sedih gini malah tanya tanaman.
Ternyata, Simbok justru kembali ceria karena pertanyaan itu.

“Ooh, bunga-bunga itu. Iya, Nak. Saya memang suka bunga. Beberapa saya dapatkan dari tetangga kanan kiri yang juga merawat bunga. Kalau yang bagus-bagus itu, teman Simbok yang bawa.”

Akbar manggut-manggut. Syukurlah, ternyata Simbok dikelilingi orang-orang baik. Meski begitu, dia merasa aneh dengan beberapa bunga mahal yang dipajang Simbok di halaman depan.

“Begini, Mbok. Kedatangan kami ke sini, sebenarnya untuk menanyakan laptop yang dulu dipakai Airin, apakah masih ada?” Hendra melirik orang di sebelahnya. Rupanya itu tujuan Akbar mengajaknya ke rumah ini.

Simbok mengangguk. “Ada di kamarnya. Tunggu sebentar.”

Simbok masuk ke kamar Airin. Sebentar kemudian, dia sudah kembali lagi dengan membawa sebuah laptop putih yang dulu dipakai Airin. Akbar dan Hendra heran melihatnya. Mereka berdua membayangkan laptop itu mungkin dalam kondisi yang kurang baik dan pasti kotor atau ditumbuhi jamur karena lama tidak dipakai. Namun apa yang mereka lihat ini sebaliknya. Laptop Airin masih putih bersih seperti baru, dan tidak ada bau lembab atau jamuran sama sekali.

“Teman Simbok yang mengajari merawat laptop peninggalan Airin ini agar tidak sampai rusak.”

Akbar dan Hendra berpandangan. Teman Simbok benar-benar misterius.[]

Rahasia AirinCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang