Tay menatapi kaca hanya untuk memeriksa luka dilehernya, sudah dua hari berlalu tapi luka kecil itu tidak ada tanda-tanda akan mengering bahkan terlihat makin parah sampai membuat sekitaran luka itu ikut memerah dan becek karna tidak mendapat udara segar sebab Tay dengan sengaja menutupnya dengan plaster setiap waktu dan hanya dilepas ketika mau mandi untuk diganti yang baru.
Tay membuka bungkus plaster lalu menempelkannya pada kulit lehernya yang terluka, bekas plester membentak dilehernya berwarna pucat sangat kontras dengan warna kulit Tay yang berwarna tan. Ia melakukan itu semua untuk menutupi lukanya, walau dengan cara ini rasa sakit pada lukanya semakin terasa tapi ia ingin menghindari segara pertanyaan dan membuat mamanya mencemaskan keadaannya, telingan Tay juga sudah sangat panas mendengar Off yang terus memanggilnya anak Mama.
Setelah selesai Tay menyisir sebentar rambutnya menggunakan kelima jarinya lalu menarik tas punggungnya dan keluar dari kamarnya buru-buru, bayang-bayang dimana New yang langsung menghilang setelah kemauannya tercapai membuat Tay tidak betah berada dikamarnya sendiri. Ada kemarahan dan juga kesedihan yang menghantuinya kini.
Hari ini Tay ada kelas pagi dan Off pasti sudah ada diruang makan dengan mulut yang tidak berhenti mengoceh dirinya didepan Wira, Tay sudah hafal betul dengan prilaku Off yang satu ini, ia akan menjelek-jelekkan Tay dan memuji dirinya pada Wira. Btw Tay tidak bisa mengendarai mobil atau pun motor ia menjadi anak yang tumbuh dengan segala kemanjaan yang Wira berikan. Dulu saat ia masih sekolah ditingkat TK-SMA Tay selalu diantar jemput oleh supir pribadinya tapi menginjak keperguruan tinggi Tay mulai merasa malu dan meminta agar Off saja yang mengantar jemput dirinya, lagi pula keduanya ada dikelas yang sama sedangkan Singto dia memilih mengambil jurusan Ekonomi karna tidak menyukai sesuatu yang berbau hukum seperti kedua sahabatnya.
"Kenapa gak gadai si Tawan aja sih Tan? " dari kejauhan Tay mendengar suara Off yang kembali berulah. Sudah biasa. "Kepala batu gitu, jadi batu beneran terus dikantongin sama orang yang kebelet BAB pas dihutan kan gak lucu, 'TAY TAWAN ANAK MANJA DARI WIRA RAMIDA PENGUSAHA SUKSES TERKENA AZAB MENJADI BATU KARNA KEPALA BATUNYA' duh pasti keren kalau jadi sinetron azab,nanti coba Off rekomendasikan ke pihak Indosiar. "
"Hush kamu ini lagi dimeja makan masih aja suka ngomong jorok, sini Tante tambahin ayam gorengnya segitu mana kenyang diperut kamu. "
Off hanya tertawa ia langsung memberikan piringnya yang sudah terisi dua paha ayam dan kini Wira menambahkan satu dada ayam goreng lagi keatas piringnya.
"sudah berapa lama kau tidak makan enak Off? Jangan membuat keluargaku bangrut hanya karna terus memberimu makan setiap kau kesini. Dan gratis. "dari samping Tay duduk wajahnya terlihat sangat segar dengan rambut yang masih sedikit basah.
Off tidak menyahut melihat Wira yang menyuruhnya untuk mengabaikan hinaan anaknya, lagi pula acara sarapan pagi ini tidak akan menjadi sarapan pagi lagi jika Off dan Tay tidak ada yang mau mengalah secara terpaksa dalam adu menghina mereka.
"Tay Mama perhatikan dua hari ini kamu selalu memakai plester dilehermu? Kamu terluka? Nanti sore kita periksa kerumah sakit ya... "
"Dicupang mahkluk ghaid paling Tan, "
"Off Tante lagi khawatir gini kamu masih aja becanda. "
"Masalahnya Tay itu jomlo Tan, jadi siapa yang mau ngasih dia cupang gratis kalau bukan mahkluk astral."
Kali ini Tay yang mengabaikan ocehan Off, entahlah rasa sakit dari kulit sehatnya yang terkoyak kembali terasa membuat Tay menutup plester dilehernya dengan tangan kirinya. Panas, perih dan rasa terbakar menyatu sangat menyakitkan. "Tidak perlu Ma, nanti Tay kerumah sakit sendiri saja, maksudnya biar Off yang menganter." Tay itu tidak suka sarapan yang berat-berat seperti Off biasanya ia hanya menimun jus atau susu coklat dan roti bakar seperti saat ini.
"Kamu masih sama Gun, Off? "tanya Wira, Wira itu sebenarnya mempunyai kenangan buruk dengan homo tapi dia bukan Tay yang akan menendang Off saat tahu bahwa sahabat anaknya itu tengah menjalin hubungan dengan ponakan jauhnya. Gun Atthapan. Laki-laki berumur 1o tahun manum masih terlihat sepeto bocah menggemaskan, satu lagi dia adalah adek kesayangan Tay.
Off menghentikan sendokannya pada mulutnya. "Masihlah Tan." jawab Off melirik sebentar pada Tay yang seperti tidak peduli dan tengah makan rotinya sambil bermain ponsel ditangan kirinya. "Memangnya ada apa Tan? Mau do'a yang aneh-aneh kayak Tay ya? " slidik Off matanya yang sipit kini tinggal segaris.
"Enggaklah emangnya kapan Tante pernah ikut campur sama hubungan asmara kalian. Besok-besok ajak juga Gun sarapan pagi disini biar ram___"
"PERGI BRENGSEK! " bentak Tay dengan suaranya yang terdengar penuh kemarahan sukses membuat Wira menghentikan ucapannya dan Off yang langsung meletakkan sendoknya tiba-tiba karna ikut kaget dengan suara Tay yang tiba-tiba memenuhi ruangan.
"Tay! " panggil Wira khawatir melihat anak semata wayangnya itu langsung meletakkan rotinya yang tidak habis dan berjalan cepat meninggalkan ruang makan begitu saja.
"Tan tadi Off ngomong kegiatan Off diatas ranjang ya?! Biasanya Tay akan meledak seperti itu ketika melihat Gun yang kesulitan berjalan saja." tanya Off dengan suara bergetar. Off itu kalau ngoceh suka melantur kemana-mana dan sekalinya disuruh mengulangi apa yang sudah dia bicakan dia lupa, itu sebabnya Off bertanya seperti itu pada Wira karna Off lupa semua pembicaraannya dengan Wira sedari tadi dan membuat Tay meninggalkan ruang makan dalam keadaan marah besar.
Wira hanya menggeleng wajahnya terlihat penuh kekhawatiran sekarang. "Tidak. Tay memang dua hari ini bersikap aneh, seolah dia kehilangan kendali dirinya. Bahkan dua malam ini dia tidak mau tidur dikamarnya dan meminta untuk tidur dikamar Tante lalu saat tengah malam dia akan berteriak kesetanan mengusir seseorang bernama Newwiee." awalnya Wira berniat akan memendamnya sendirian dan akan berkonsultasi langsung pada psikeater tapi melihat Tay yang meledak seperti itu didepan Off membuat Wira membukanya pada Off. Lagi pula Off adalah orang yang selalu menjaga Tay ketika jauh dari jangkauan Wira. " Off apa dikampus ada mahasiswa bernama Newwiee? Mungkin saja dia terus meneror Tay sampai membuat Tay terlihat seperti ini. "
Off seketika bernafas lega walau ia juga cemas dengan kemarahan Tay yang tiba-tiba. Leganya karna Tay marah bukan karna Off keceplosan sehingga Off terhindar dari Tay yang akan memusuhinya paling sebentar satu bulan dan cemasnya Off karna ia sampai tidak tahu bahwa Tay saat ini tengah mengalami teror oleh orang yang namanya asing bagi Off. "kayaknya Tay gak punya musuh deh Tan orang temennya cuma Off sama Singto. Tapi nanti Off coba minta bantuan Singto, Gun dan Krist buat bantu cari siapa yang sudah berani gangguin Tay. " Off meminum airnya dan tertawa geli melihat piringnya yang kini bersih, ternyata mengobrol sambil makan itu benar-benar tidak baik buktinya Off sampai tidak sadar kalau dia sudah menghabiskan sarapan untuk porsi dua orang pantas saja Gun selalu marah ketika Off mengajaknya bicara saat sedang makan.
"Iya makasih ya Off maafin Tante yang cuma bisanya ngerepotin kamu terus.. ."
"apaan dah Tan kayak sama orang lain aja. Eh tapi kenapa gak Tante coba cari tahu siapa tahu Newwiee itu salah saru rival Tante didunia bisnis. "
"Astaga Tante bahkan tidak sampai kepikiran kesana, Tante akan hubungi joss dan menyuruhnya untuk menyelediki masalah ini juga. "
"Ya udah Tante yang sabar dulu Off pasti bakal bantu cari tahu kenapa Tay jadi seperti ini sekalian Off mau nyusul Tay sekarang. Don't cry ok." Off langsung mengambil tas punggungnya yang ia letakkan dikursi samping dia duduk dan beranjak meninggalkan Wira yang tengah menghubungi Joss asisten pribadinya.
Disudut meja makan Newwiee hanya mengulup senyum melihat kegaduhan yang telah dia buat. Lagi pula New merasa bahwa dia tidak melakukan kesalahan apa pun, hanya muncul tiba-tiba untuk menyapa Tay yang tengah sarapan tapi si homophobia itu langsung mengusirnya padahal New hanya menyapanya 'selamat pagi Te'. Sebenarnya New itu masih marah pada Tay dua malam ini Tay tidak tidur dikamarnya dan malah tidur dikamar Wira, pokok permasalahannya bukan disitu tapi di Tay yang tidak mau melepaskan pelukannya dari Iera saat tertidur jadi New yang kesal selalu membangunkan Tay secara paksa agar Tay melepaskan pelukannya dari Wira dan Tay pergi kekamarnya seperti yang New perintahkan. Tapi siapa sangka bukannya mengikuti perintah New, Tay malah membentaknya dan lagi-lagi mengusir dirinya ditengah malam.

KAMU SEDANG MEMBACA
The My Last Breath [TAYNEW]
Mystery / ThrillerTay Tawan laki-laki yang memilih akan bunuh diri saja ketimbang menjadi objek obsesi cowok aneh dengan dua sayap indah dibalik punggungnya. Sayap yang mampu berubah menjadi sehitam bulu gagak dan seputih bulu angsa, sesuai dengan suasana hatinya. "...