End merenung di dalam kamarnya mengingat-ingat apakah ini pertama kalinya ia membunuh sesuatu? Sepertinya tidak.
Hari ini End kehabisan buku untuk dibacanya. Karena Angel sedang pergi untuk membeli jas hujan baru dan tidak ada pekerjaan lain yang dapat ia lakukan, End menjadi termenung sendirian di dalam kamarnya memikirkan masa lalu.
Suasana rumah yang sepi, membuat rintik hujan dapat terdengar disetiap sudut rumah. End memejamkan mata, seluruh tubuhnya mati rasa, mereka sedang beristirahat terlelap tidur, hanya otaknya saja yang masih terjaga.
Pikirannya mulai kembali ke masa lalu, mengigat serpihan-serpihan kenangan yang memberikan dirinya gejolak perasaan aneh namun menyenangkan sehingga membuatnya tidak bisa lupa.
Flashback On
Ketika End berusia 10 tahun, di suatu hari pada waktu sore. End berjalan pulang sehabis membeli bahan makanan yang di minta ibunya.
Saat dalam perjalanan End berhenti, ia mendengar suara anjing menggonggong. Suara gonggongannya terdengar aneh, namun itu membuat End penasaran. End memutuskan untuk mencari tahu dari mana suara itu berasal sebelum kembali berjalan pulang.
Tidak jauh dari jalan yang dilalui End tadi ada tempat pembuangan perabotan rumah tangga, disana banyak sekali perabotan yang sudah tak layak pakai. End berjalan-jalan sebentar di sekitar tempat itu sambil memperhatihan setiap detail tempatnya.
'Sepertinya orang-orang kesini hanya untuk membuang sampah, dan para penganggut sampah juga jarang mengunjungi tempat ini,' batin End
Setelah puas mengamati, End kembali pada tujuan awalnya.
End sedikit memutari tempat itu mengukuti arah suara gonggongan. Ia pun menemukannya.
Ada seekor anjing kecil yang terjebak dipagar paku kawat, ia menggonggong terus menerus sebagai tanda permintaan tolong. End mendekatinya, anak anjing itu dapat melihat End, ia menggonggong semakin cepat dan keras, sekeras yang bisa ia keluarkan. Berharap agar manusia yang ia panggil dapat memahami maksudnya.
End sebenarnya mengerti apa yang anak anjing itu inginkan, End merasa sedikit kasihan padanya, sebab anak anjing tersebut meminta tolong pada manusia yang salah.
Sedikit kasihan? entah kata itu pantas atau tidak untuk menggambarkan perasaan yang sekarang dirasakan oleh End.
Anak anjing itu melihat End yang hanya diam mematung di tempat, menatapnya dan berfikir 'apakah manusia ini tidak mengerti apa yang ia maksudkan?'. Lalu anak anjing pun mulai meronta-ronta bergerak kesana-kemari, kali ini ia benar-benar berharap manusia yang menatapnya dalam diam itu mengerti sinyalnya.
'Ada apa dengan anjing itu? kenapa ia malah bergerak liar, dilihat dari manapun juga yang dilakukannya sia-sia, ia tidak akan bisa keluar dengan cara seperti itu,' batin End heran.
Karena anak anjing tersebut bergerak dengan liar, hal itu menyebabkan tubuhya semakin tergores oleh paku kawat. Luka tersebut tentu saja sangat dalam hingga mengeluarkan banyak sekali darah.
Mata End berbinar. Ada perasaan aneh yang tidak dapat ia jelaskan dengan kata-kata ketika melihat anak anjing tersebut mengeluarkan darah, serta mendengar suara gonggongan kesakitannya yang semakin kuat.
Kawat, tanah, serta tubuh anak anjing itu kini dilumuri oleh darah. End merasa haus, ia mengambil minuman yang baru saja ia beli tadi, dan meminumnya tanpa mengalihkan pandangan dari anak anjing sedetik pun.
End tidak merasa jijik atau pun mual saat melihat sesuatu seperti ini sambil menelan sesuatu, yang ada setiap detiknya End penasaran dengan ekspresi apa yang akan dikeluarkan oleh muka anak anjing yang imut dalam keadaan tenggah sekarat di depannya.
"Guk... kaing.. kaing.."
Sudah hampir dua puluh menit berlalu. Anak anjing itu terkapar lemas sepertinya sudah tidak memiliki tenaga untuk bergerak lagi, namun perutnya terlihat masih naik turun, menandakan bahwa ia masih hidup dengan keadaan darah yang terus keluar dari tubuhnya.
Sekian lama End melihat dari kejauhan, ia akhirnya mendekati anak anjing tersebut. Bau amis tercium oleh hidungnya, dan terlihat dengan jelas keluar cairan bening dari mata puppynya. 'Sepertinya anak anjing yang imut ini menangis,' ucap batin End.
End jongkok di depannya, mengulurkan tanganya, mengelus kepala anak anjing.
"Terima kasih atas hiburan yang singkat ini, sekarang kau boleh pergi dengan tenang." End mulai mencekiknya, tidak lama kemudian End sudah tidak dapat merasakan detak nadinya.
Sebagai hadiah, End menguburkan mayatnya ditempat yang nyaman. Setelah selesai kini tangan End menjadi kotor dengan tanah yang tercampur oleh darah. Baunya mungkin sudah seperti tanah kuburan, bedanya yang ini tercium jelas bau amis darah.
Bukan hanya itu ditahun-tahun sebelumnya End sudah sering melakukannya juga.
Ketika End berusia 7-9 tahun ia membunuh semua cicak yang ada di rumah. Alasannya End tidak suka dengan keberadaan mereka, mereka terlihat seperti sedang menatap atau mengawasi dirinya.
Cara membunuhannya simple, End akan menangkapnya lalu memotong ekornya, Setelah itu ia akan melakukan berbagai macam eksperimen entah itu memotongnya, membakarnya, melemparnya, atau bahkan menindihnya dengan benda berat selama beberapa hari hingga menjadi gepeng. Jangan lupakan juga ia sering melindesnya dengan sepeda.
Korbannya bukan hanya cicak, bahkan kecoa, jangkrik, ulat, capung, dan berbagai macam serangga lainnya sudah pernah ia coba.
End tidak terlalu ingat apa yang pernah ia lakukan pada serangga-serangga itu. Serangga yang belum pernah End bunuh sepertinya hanya kupu-kupu.
End ingat jika ibunya menyukai hal-hal yang indah, dan kupu-kupu termasuk dalam kategori indah, End juga menyutujuinya. Maka dari itu ia membunuh ulat-ulat sebelum berubah menjadi kupu-kupu.
Jadi sebisa mungkin End tidak akan menyentuh atau bahkan membunuh serangga yang indah, namun hanya selama hal itu tidak mengganggu dirinya.
Jika ada yang bertanya kenapa End melakukan semua itu? Jawabannya singkat.
End hanya bosan.
End tidak suka bersosialisasi, temannya hanya buku dan Angel. Ibunya tidak selalu berada dirumah, End merasa ia bisa melakukan apapun yang ia mau tanpa seorang pun melarangnya.
Flashback Off
End sangat sadar hal-hal yang dilakukannya itu salah, namun siapa yang menyangka bahwa membunuh dan menyiksa sesuatu itu sangat menyenangkan.
Tidak pernah terpikirkan dalam benak End, untuk berhenti melakukannya. Ia merasa ingin melakukannya lagi dan lagi, tidak ada yang bisa menghentikan dirinya.
Dan sampai sekarang tidak ada seorang pun yang mengetahui hasrat buruknya itu.
End merahasiakannya dari sang ibu dan juga Angel. End tau jika ia mengatakannya mereka pasti akan sangat shock. Ibunya akan memberikan pengobatan secara berkala padanya atau bahkan sampai mengirimnya ke rumah sakit jiwa. Dan Angel, mungkin dia akan menjauhi End dan mengganggap mereka tidak pernah bertemu.
Dari semua kemungkinan yang terjadi tidak ada satu pun yang ingin dilihatnya. Di dalam hidup End sekarang hanya memiliki seorang ibu dan seorang teman masa kecil.
Tidak ada satu pun dari mereka yang di izinkan pergi dari dirinya.
Tidak ada yang dapat merebut mereka dari dirinya.
Tidak ada yang boleh menyentuh mereka.
Tidak ada yang boleh mendekati mereka.
TIDAK ADA!
Hanya End saja yang dapat, hanya End saja yang boleh, pokoknya hanya End saja!
End telah berjanji pada dirinya sendiri. Siapapun yang mengganggu mereka, siapa saja yang menyakiti mereka, ia tidak akan segan-segan untuk mengirim mereka bertemu ajalnya.
Jika memang belum waktunya mereka untuk menemui ajalnya, maka dengan senang hati End akan menjadi 'malaikat maut' bagi mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Membunuh, KARENAMU.
Novela Juvenil"Apapun akan kulakukan untuk membuatmu bahagia hingga membunuh orang sekalipun." • • "Aku tau, aku tak pantas untukmu. Tapi setidaknya biarkan aku melindungimu dari belakang untuk memusnahkan orang-orang yang mengejarmu." • • "Tolong jangan menghada...
