MALAM itu House of Cliché mendapat pegawai tambahan. Karma bertahan sampai jam operasional berakhir. Meski sempat tertidur sampai tak melihat pukul berapa persisnya pengunjung terakhir keluar, tetapi Karma refleks terbangun saat beberapa lampu dipadamkan dan Danu, office boy yang bertugas malam itu, mulai berbenah.
Satria sempat meminta Karma untuk duduk manis saja, tetapi namanya Karma, tentu saja dengan senang hati ikut turun tangan. Mana mungkin dia diam memperhatikan sementara yang lainnya sibuk membantu Danu. Dan lagi, Karma rasa-rasanya bisa mengerti isi hati para pegawai Satria, pasti mereka ingin segera tiba di rumah setelah seharian lelah bekerja. Ada kasur yang membayang-bayangi isi kepala mereka; meluruskan punggung sebelum esok hari harus kembali berkutat dengan kesibukan.
"Bye, Mbak Karma! Jangan kapok, ya, bantu-bantu kami." Dua orang terakhir berlalu bersama sepeda motor matic, menyisakan Karma dan Satria di pelataran parkir.
Dari Satria, Karma tahu, mereka berdua baru saja bergabung di House of Cliché. Kurang lebih satu bulan ini. Keduanya sama-sama mahasiswi tahun terakhir, yang selain sibuk dengan skripsi juga butuh pemasukan tambahan. Salah satu alasan yang membuat Satria yakin untuk menerima mereka.
"Aku enggak ngerti lagi, deh, kapan ya ada orang yang enggak suka sama kamu?" Satria melebarkan pintu penumpang untuk Karma sebelum mengitari mobil dan duduk di balik kemudi.
"Gimana, tuh, maksudnya? Kamu lebih suka lihat ada orang yang enggak suka sama aku?"
Deru mesin bergetar halus. Tawa berat Satria menggema. "Enggak gitu." Dia menoleh singkat ke arah sang kekasih sebelum sedan klasiknya meninggalkan House of Cliché. "Kamu, tuh, kayak punya sesuatu yang ngebuat orang langsung suka sama kamu. Kayak—"
"Kayak kamu yang langsung jatuh hati sama aku?" goda Karma. Di keremangan malam, Karma bisa melihat pipi sang kekasih bersemu merah jambu. Kadang-kadang Karma tak habis pikir, sudah tujuh tahun bersama, tetapi Satria masih Satria-nya yang sama, yang selalu malu-malu bila digoda, yang langsung mengalihkan pembicaraan agar rona di pipinya menghilang.
Kalau sudah begitu, Karma lebih suka memupus jarak di antara mereka. Dengan santainya Karma bergelayut di lengan Satria dan berbisik, "I love you, Hon."
Satria tersenyum sembunyi-sembunyi. "I know."
"Romantis dikit, kek!" keluh Karma, lengkap dengan menyentak tangan Satria. Kesal.
"Hahahaha." Bukannya membujuk, Satria malah tertawa keras-keras.
Sisa perjalanan itu diisi dengan Satria yang senang bukan main sudah berhasil mengerjai sang kekasih dan Karma yang lelah ngambek, yang akhirnya kembali jatuh tertidur. Meninggalkan Satria sendirian bersama keheningan, tetapi waktu yang banyak untuk sesekali mencuri pandang ke arah Karma.
Dengan jenis tatapan yang tak akan pernah lelah Satria rasakan,
tatapan penuh cinta.
***
Sebisa mungkin Satria selalu datang lebih awal dari pegawai-pegawainya. Hampir tak pernah dia terlambat, kecuali untuk keperluan mendesak. Hari ini masuk dalam pengecualian itu.
Pukul setengah sembilan, BMW E30 tampak memasuki area parkir House of Cliché. Dari sisi pengemudi, Satria keluar tergesa-gesa. Tanpa melepas kacamata hitamnya, dengan langkah lebar, Satria langsung menuju ke ruang khusus pegawai. Pemuda itu berhenti di depan loker miliknya untuk mengambil apron cokelat gelapnya. Sebelum keluar Satria memastikan penampilannya sejenak di depan cermin besar yang dipasang di sepanjang dinding di seberang loker.
KAMU SEDANG MEMBACA
DALAM TANDA PISAH
RomanceKarma Kanigara punya satu permintaan sebelum mengakhiri masa lajangnya, yaitu diizinkan traveling sendirian. Tidak ada daftar tujuan, tidak ada rencana, Karma hanya ingin menikmati waktu sendirinya. Bermesraan dengan semesta. Adiraga Satria, calon s...
