Happy reading..
Matahari sudah menelusup masuk lewat celah-celah jendela kamar Alesya. Namun, gadis itu masih saja tidak mau beranjak dari kasurnya dan terus melanjutkan tidurnya.
Hingga akhirnya, ia mendengar bunyi handphone-nya tanda panggilan masuk. Ia pun meraba nakas yang ada disamping ranjangnya. Kemudian mengambil benda pipih itu dan menggeser tanda hijau.
"Halo?" tanya Alesya masih dalam suara serak khas bangun tidur.
"Oy oy oy bangunnnn... Kamu lupa ini hari apa?!" teriak Prisil dari sebrang sana.
"Hari Minggu," jawab Alesya malas.
"Bukan ituuu... Ini hari ulang tahun Park Jimin!! " tegas Prisil.
Mendengar itu seketika Alesya langsung terperanjat dan berteriak.
"Hahh??!! Jimin ulang tahun OMG! AKU PIKUN BERAT!"
"Dasar nenek-nenek," celetus Prisil.
"Lalu aku harus bagaimana?"
"Ya terserah kamu, kamu kan biasanya banyak akal."
"Hmmm, coba aku pikir dulu."
"Yaudah aku tutup dulu ya telponnya."
"Oke, terima kasih sudah mengingatkanku."
"Baiklah."
Setelah itu, Alesya bergegas mencari ayahnya. Ia berjalan ke halaman, ke dapur, ruang tamu, dan akhirnya menemukan ayahnya di ruang baca.
"Ayah, apa aku mengganggumu?"
"Tidak sayang, ada apa?"
"Aku ada satu permintaan boleh?"
"Banyak juga boleh, memang kamu mau apa? Katakan saja," jawab ayahnya.
"Aku ingin tahu nomor handphone Jimin Oppa," pinta ia sambil tersenyum kikuk.
Sejenak ayahnya berpikir.
"Oh itu gampang, nanti ayah tanyakan. Jika sudah langsung ayah kirim ke nomor kamu."
"Wahh thank you Ayah... Aku menyayangimu," ucapnya sambil berhambur memeluk ayahnya.
"Aku lebih menyayangimu sayang," jawab ayahnya tulus.
Setelah cara peluk-memeluk antara ayah dan anak, Alesya kembali ke kamarnya dan membersihkan diri.
"Aku beri apa ya? Bagaimana kalau nanti Jimin Oppa tidak suka?" monolognya.
Kemudian ia memutuskan untuk pergi keluar untuk memberi bucket bunga dan kue ulang tahun.
Setelah memilih bucket bunga dan kue ulang tahun untuk Jimin, ia membayarnya.
Ia memilih istirahat sebentar disebuah restoran. Ia mengisi tenaganya setelah lelah berjalan.
Namun tiba-tiba ada pesan masuk dari ayahnya.
Ayah:
Sayang, ayah sudah mendapat nomornya.
Alesya:
Mana ayah, kirimlah
Ayah:
Baik sayang.
08**********
Alesya:
Terima kasih ayah Sayang💕
Ayah:
Sama-sama sayang.
Ia pun langsung menyimpan nomor Jimin kemudian menelponnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Miracle
FanfictionSetiap cinta harus melewati proses yang panjang untuk bisa berjalan beriringan. Tak butuh untaian kata untuk diungkapkan, cukup hati yang berbicara dalam diamnya. Cinta bukan soal paksaan, tapi cinta tumbuh seiring berjalannya waktu. "Aku bisa mend...
