Happy reading...
Ini sudah seminggu sejak kejadian Jimin meninggalkan Alesya di pinggir hutan. Tapi sampai saat ini, Alesya belum juga mengetahui keberadaan Jimin.
Ya, sejak saat itu Jimin tiba-tiba saja menghilang. Alesya sudah berulang kali menghubunginya, namun tidak mendapat balasan. Ponsel Jimin juga dimatikan, sehingga ia tidak bisa melacaknya.
Memang waktu itu Alesya dibentak olehnya, tapi sampai saat ini pun ia masih gigih untuk mendapatkan Jimin.
Berulang kali ia mendatangi gedung Big Hit berharap ia bisa menemui Jimin. Namun ternyata Jimin sedang izin ke luar kota. Ia juga mendatangi apartement Jimin, tapi masih saja kosong.
"Oppa, dimana kau sekarang? Aku merindukanmu," kata Alesya dalam hatinya.
Sekarang ia sedang berada di ruang kelas kampusnya. Meskipun dosen sedang menerangkan di depan, tapi pikiran Alesya hanya tertuju pada Jimin sekarang. Bahkan ia tidak memperhatikan dosen itu sama sekali.
Saat ia sedang sibuk dalam lamunannya sendiri, tiba-tiba ada satu pesan masuk dari salah satu staff di gedung Big Hit.
Waktu itu ia memang sempat memberi nomornya pada salah satu staff disana, agar menghubunginya jika Jimin sudah kembali. Dan tanpa menunggu, Alesya langsung bersemangat membuka pesan tersebut. Ia berharap akan mendapat kabar bahagia tersebut.
Big Hit staff :
Maaf, saya hanya ingin memberi tahu bahwa Park Jimin sudah mulai berlatih kembali di gedung Big Hit. Terima kasih.
Seketika senyum lebar tergambar di wajah cantik Alesya.
"Akhirnya!" pekik Alesya tak sengaja. Membuat orang dikelasnya langsung mengalihkan perhatian padanya.
"Maaf maaf," ucapnya meminta maaf kemudian.
Alesya sudah sangat tidak sabar untuk bertemu dengan Jiminnya. Orang yang sangat ia rindukan.
Akhirnya pelajaran selesai. Dan setelah itu Alesya langsung bergegas mengendarai mobilnya ke gedung Big Hit. Jam menunjukkan pukul 3 sore.
Ia memarkirkan mobilnya di depan gedung, dan masuk ke dalam. Ia mencari ruangan tempat BTS biasanya berlatih. Kemudian saat ia membuka pintunya, disana terlihat ke tujuh anggota sedang berlatih dengan gigih. Dan salah satu diantara mereka ada Jimin.
Kemudian ia masuk ke ruangan tersebut. Ia duduk di salah satu sofa untuk melihat mereka berlatih. Dan Jimin juga menyadari kehadiran Alesya.
Beberapa menit kemudian lagu berhenti, dan mereka telah selesai berlatih.
Ketujuh anggota langsung berhambur, ada yang tiduran diatas lantai, menyender di tembok, atau duduk di sofa.
Dan Jimin memilih untuk duduk di sofa.
"Oppa, minum ini," tawar Alesya pada Jimin sambil menyodorkan sebotol minuman.
Jimin menerimanya, karena ia memang sangat haus.
"Terima kasih."
Namun saat Alesya melihat wajah Jimin, ia sedikit berbeda. Ia berkeringat dan terlihat pucat.
Apa Jimin sakit?
Alesya bergegas menyentuh dahi Jimin.
"Omo! Oppa dahimu sangat panas! Apa kau sakit?" tanya Alesya khawatir.
"Tidak, aku baik-baik saja."
"Baik-baik saja bagaimana? Panas begini," protes Alesya.
"Aku sehat," jawab Jimin.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Miracle
FanfictionSetiap cinta harus melewati proses yang panjang untuk bisa berjalan beriringan. Tak butuh untaian kata untuk diungkapkan, cukup hati yang berbicara dalam diamnya. Cinta bukan soal paksaan, tapi cinta tumbuh seiring berjalannya waktu. "Aku bisa mend...
