part 2:Persimpangan Hati

527 42 24
                                        

Di kamarnya yang sunyi, Anneth merebahkan diri, pikirannya berkecamuk bagai ombak yang tak berkesudahan. Lamaran Deven bagaikan petir di siang bolong, mengguncang ketenangan hatinya. Ia merasa terombang-ambing antara kebingungan, keraguan, dan secercah harapan yang mulai menyala.

"Kenapa sekarang? Kenapa dengan cara seperti ini?" bisiknya lirih pada diri sendiri.

Semalaman, mata Anneth enggan terpejam. Bayangan Deven, senyumnya, tatapan matanya yang tulus, terus berputar dalam benaknya. Ia mencoba mencari jawaban, menggali lebih dalam perasaannya, namun yang ia temukan hanyalah labirin pertanyaan yang tak berujung.

Pagi menyingsing dengan membawa kelelahan yang mendalam. Anneth bangun dengan mata sembab dan kepala yang terasa berat. Di ruang makan, kedua orang tuanya sudah menanti dengan sarapan yang tersaji di meja.

"Kamu kenapa, Neth? Kok pucat begitu?" tanya Bu Chelsy, ibunya, dengan nada khawatir.

Anneth berusaha tersenyum, menyembunyikan kegelisahan yang melandanya. "Nggak apa-apa kok, Ma. Cuma kurang tidur aja," jawabnya.

"Beneran? Nggak ada masalah di kampus?" timpal Pak Damanik, ayahnya, dengan tatapan menyelidik.

Anneth menggeleng pelan. Ia belum siap untuk berbagi cerita tentang lamaran Deven. Ia merasa ini adalah masalah yang harus ia hadapi sendiri, setidaknya untuk saat ini.

"Ya sudah, kalau ada apa-apa cerita ya, Nak," kata Bu Chelsy lembut.

Anneth mengangguk, lalu menyantap sarapannya dalam diam. Pikirannya tetap melayang pada Deven dan lamarannya yang tiba-tiba.

Di sepanjang perjalanan menuju kampus, kenangan masa kecil bersama Deven kembali menghantuinya. Ia ingat bagaimana Deven selalu ada untuknya, melindunginya dari segala macam masalah, dan membuatnya tertawa dengan lelucon-leluconnya. Ia juga ingat betapa Deven selalu mendukungnya dalam meraih cita-cita.

Namun, apakah semua itu cukup untuk menjadi dasar sebuah pernikahan? Apakah ia benar-benar mencintai Deven, atau hanya merasa nyaman dan aman bersamanya? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar dalam benaknya, membuatnya semakin bimbang dan ragu.

Anneth menghela napas panjang. Ia tahu, ia harus segera menemukan jawabannya. Ia tidak ingin menggantungkan harapan Deven terlalu lama. Ia juga tidak ingin menyakiti hatinya jika pada akhirnya ia tidak bisa menerima lamarannya.

Sesampainya di kampus, Anneth langsung menuju perpustakaan. Ia ingin mencari ketenangan dan mencoba menjernihkan pikirannya. Di tengah rak-rak buku yang tinggi menjulang, ia menemukan sebuah buku tentang cinta dan pernikahan. Ia membukanya dan mulai membaca dengan seksama.

Setiap kata yang ia baca seolah membuka mata hatinya. Ia mulai menyadari bahwa cinta sejati bukanlah sekadar perasaan nyaman dan aman, tetapi juga tentang komitmen, pengorbanan, dan kesediaan untuk saling menerima kekurangan.

Anneth merenung. Apakah ia siap untuk semua itu? Apakah ia siap untuk membangun sebuah rumah tangga bersama Deven?

Tiba-tiba, ponselnya berdering. Sebuah pesan dari Deven.

"Neth, maaf ya kalau aku bikin kamu bingung. Aku cuma pengen kamu tahu, aku sayang banget sama kamu. Aku akan nunggu jawaban kamu, berapa lama pun itu."

Air mata Anneth menetes tanpa bisa ia tahan. Ia merasa terharu dengan ketulusan Deven. Ia tahu, Deven adalah pria yang baik dan sangat mencintainya.

Namun, apakah itu cukup untuk membuatnya yakin? Apakah ia benar-benar siap untuk melangkah ke jenjang pernikahan?

Anneth menutup buku yang sedang ia baca. Ia tahu, ia tidak bisa menemukan jawaban di dalam buku. Jawaban itu ada di dalam hatinya sendiri.

Ia bangkit dari duduknya dan melangkah keluar dari perpustakaan. Ia memutuskan untuk mencari Deven dan berbicara dari hati ke hati. Ia ingin jujur tentang perasaannya, tentang kebingungannya, dan tentang keraguannya.

Ia tahu, ini adalah langkah yang sulit. Namun, ia juga tahu bahwa ini adalah langkah yang harus ia ambil untuk menemukan kebahagiaan sejati.

Anneth menarik napas dalam-dalam dan mulai melangkah menuju tempat di mana ia berharap dapat menemukan jawaban atas semua pertanyaan yang menghantuinya.

...


Anneth melangkah keluar dari perpustakaan dengan tekad yang baru. Udara sore yang sejuk sedikit menenangkan pikirannya yang kalut. Ia memutuskan untuk mencari Deven di taman kampus, tempat mereka sering menghabiskan waktu bersama dulu.

Di sepanjang jalan, Anneth terus merenungkan semua yang telah terjadi. Lamaran Deven bagaikan mimpi di siang bolong yang tiba-tiba menjadi kenyataan. Ia merasa seperti sedang berada di persimpangan jalan, dihadapkan pada pilihan yang akan menentukan arah hidupnya.

Ia ingat semua kenangan manis bersama Deven. Saat mereka masih kecil, Deven selalu menjadi pelindungnya. Ia selalu ada untuknya, menghiburnya saat ia sedih, dan membuatnya tertawa saat ia merasa bosan. Deven adalah sahabat terbaiknya, tempat ia berbagi suka dan duka.

Namun, setelah Deven pindah ke luar kota, mereka kehilangan kontak. Anneth merasa kehilangan separuh dirinya. Ia merindukan kehadiran Deven, canda tawanya, dan perhatiannya.

Bertahun-tahun berlalu, Anneth mencoba melupakan Deven dan melanjutkan hidupnya. Ia fokus pada studinya dan berusaha meraih cita-citanya. Namun, jauh di lubuk hatinya, ia selalu menyimpan kenangan tentang Deven.

Ketika Deven kembali ke Depok dan bertemu dengannya lagi, Anneth merasa ada sesuatu yang bergejolak di dalam hatinya. Ia merasa senang bisa bertemu kembali dengan sahabatnya itu. Namun, ia juga merasa bingung dengan perasaannya. Apakah ia hanya menganggap Deven sebagai teman, atau ada sesuatu yang lebih?

Lamaran Deven semakin membuatnya bingung. Ia tidak tahu apakah ia siap untuk menikah. Ia masih muda dan ingin mengejar karirnya. Ia takut jika menikah, ia akan kehilangan kebebasannya dan tidak bisa meraih cita-citanya.

Namun, di sisi lain, ia juga merasa takut kehilangan Deven. Ia tahu Deven adalah pria yang baik dan sangat mencintainya. Ia takut jika ia menolak lamarannya, ia akan menyesal seumur hidupnya.

Anneth tiba di taman kampus dan melihat Deven sedang duduk di bangku di bawah pohon rindang. Ia tampak sedang melamun, menatap ke kejauhan.

Anneth mendekat dan duduk di samping Deven. Deven terkejut dan menoleh ke arah Anneth.

"Neth, kamu di sini?" tanya Deven dengan nada senang.

Anneth tersenyum tipis. "Iya, aku pengen ngobrol sama kamu," jawab Anneth.

Deven mengangguk. "Aku juga pengen ngobrol sama kamu," kata Deven.

Suasana menjadi hening sejenak. Anneth dan Deven saling bertatapan, mencoba membaca pikiran masing-masing.

"Deven, aku minta maaf kalau aku bikin kamu nunggu," kata Anneth memecah keheningan.

Deven tersenyum lembut. "Nggak apa-apa, Neth. Aku ngerti kok. Aku tahu ini bukan keputusan yang mudah buat kamu," jawab Deven.

Anneth menghela napas panjang. "Deven, aku jujur sama kamu. Aku bingung dengan perasaanku. Aku nggak tahu apakah aku siap untuk menikah. Aku masih muda dan pengen mengejar karirku. Aku takut kalau menikah, aku akan kehilangan kebebasanku," kata Anneth dengan jujur.

Deven mendengarkan dengan seksama setiap kata yang diucapkan Anneth. Ia mengerti apa yang dirasakan Anneth.

"Neth, aku ngerti apa yang kamu rasakan. Aku nggak akan maksa kamu untuk menikah denganku kalau kamu belum siap. Aku pengen kamu tahu, aku sayang banget sama kamu. Aku akan selalu ada buat kamu, apapun keputusanmu," kata Deven dengan tulus.

Air mata Anneth kembali menetes. Ia merasa terharu dengan ketulusan Deven. Ia tahu Deven benar-benar mencintainya.

"Deven, aku juga sayang sama kamu," kata Anneth dengan suara bergetar. "Tapi aku nggak tahu apakah aku mencintaimu sebagai seorang teman, atau sebagai seorang kekasih."

Deven tersenyum lembut dan menggenggam tangan Anneth. "Neth, cinta itu butuh waktu untuk tumbuh. Aku nggak akan memaksa kamu untuk langsung mencintaiku sebagai seorang kekasih. Aku akan sabar menunggu sampai kamu benar-benar yakin dengan perasaanmu," kata Deven.

Anneth menatap Deven dengan tatapan penuh haru. Ia merasa beruntung memiliki Deven di sisinya.

"Deven, makasih ya udah sabar sama aku," kata Anneth.

Deven tersenyum. "Sama-sama, Neth. Aku akan selalu sabar sama kamu," jawab Deven.

Anneth dan Deven saling berpelukan. Mereka merasa lega bisa saling jujur tentang perasaan masing-masing.

"Deven, aku butuh waktu untuk memikirkan semua ini. Aku harap kamu bisa mengerti," kata Anneth setelah melepaskan pelukannya.

Deven mengangguk. "Aku ngerti, Neth. Aku akan kasih kamu waktu sebanyak yang kamu butuhkan," jawab Deven.

Anneth tersenyum. "Makasih, Deven," kata Anneth.

Anneth dan Deven kembali duduk di bangku taman. Mereka saling berdiam diri, menikmati kebersamaan mereka.

Anneth tahu, ia masih harus mencari jawaban atas semua pertanyaan yang menghantuinya. Namun, ia merasa sedikit lebih tenang setelah berbicara dengan Deven. Ia tahu, apapun keputusannya, Deven akan selalu ada di sisinya.

Ini adalah kisah tentang perjalanan menemukan cinta sejati. Kisah tentang perjuangan, pengorbanan, dan harapan. Kisah tentang "Karena Cinta Tak Pernah Salah". Dan kini, kisah Anneth dan Deven baru saja dimulai. Mereka akan menghadapi semua tantangan bersama-sama, dan mencari jalan menuju kebahagiaan sejati.


Penasaran kan kelanjutan kisah mereka?

Love you all 😚❤🤗 Jangan lupa tinggalkan jejak yaaa~
Lanjut ke part 3? Tinggal bilang aja!

Karena Cinta Tak Pernah Salah (Terbit)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang