Sneaking

161 14 0
                                        

Hari-hari selanjutnya, tidak begitu banyak interaksi antara Jake dan Jay—selain saat jam makan—karena keduanya berada di regu berbeda—dan masing-masing regu punya kegiatan berbeda. Tidak benar-benar berbeda, sih. Hanya jadwalnya saja yang berbeda, seperti saat tadi siang regu Jay sedang belajar tentang dasar-dasar menyintas di alam liar, sedangkan regu Jake kebagian acara crafting dengan bahan dasar  tanah liat.

Kegiatan harian yang memang dikhususkan untuk per-regu ini juga tujuannya adalah agar masing-masing regu menjalin solidaritas yang tinggi agar saat akhir pekan—dimana akan diadakan banyak lomba, masing-masing regu bisa dengan kompak mengalahkan regu lainnya.

Tidak terasa, ini sudah hari kelima mereka berada disini yang berarti besok dan lusa akan diadakan banyak lomba. Lomba yang akan diadakan besok adalah bisbol, pertunjukan musik dan yang paling ditunggu adalah kayaking!

Tapi, jujur saja Jake bukanlah penggemar berat olahraga air itu karena dia memang belum lancar berenang. Jadi, disaat anak-anak lain dengan semangatnya berbicara tentang kegiatan yang akan mereka lakukan besok, Jake malah dengan menunduk murung. Ia takut kalau-kalau ia akan tenggelam.

Mereka sedang berada di sekeliling api unggun menunggu makan malam—para kakak pembina sedang membakar daging barbeque. Jay yang sedang membantu para kakak itu memasak langsung menghentikan aktivitasnya saat ia melihat Jake yang murung di seberang sana. Ia lalu mengambil daging dan sosis yang sudah matang lalu berlari kecil menuju temannya itu.

"Hey, what's wrong, man? Something happened?" ujarnya sambil mendudukkan dirinya di samping Jake.

"Huh? No... nothing." Jake rupanya berusaha berbohong. Beruntungnya, Jake tidak pandai berbohong. Mungkin mulutnya iya, but his eyes tell.

"Hei ayolah, kamu benar-benar keliatan murung, tau? Nggak usah bohong gitu deh, Jake." kata Jay sambil menyodorkan piring berisi daging dan sosis itu, "Nih mau nggak?"

Jake mencolok sosis itu dengan garpu yang dipegangnya, "Jay, i'm serious. I am perfectly fine. Just a bit anxious." katanya, lalu menyuapkan sosis itu ke dalam mulutnya.

"Anxious? Why?"

Jake yang tau banget temen barunya ini suka menjahilinya sebenarnya agak ragu mau memberi tahu kegelisahannya. Iya, takut diejek dia.

"Berenang... aku gabisa berenang. Kurang lancar aja, sih.. tapi kan besok kayaking..." ujarnya sambil menundukkan wajahnya, malu.

"Apa? HAHAHAHAHAHAH... God, I thought all Aussies are good at swimming?!"

Kan, ini nih yang Jake nggak mau. Langsung dicubit deh tuh tangannya si Jay, "Aww!"

"Rasain! Makanya gausah ngejek!" ujar Jake sambil mengambil daging terakhir di piring Jay lalu memasukkannya ke dalam mulutnya rakus.







Jay's side

"Eh, itu punyaku tau! Sembarangan banget ngabisin dagingku, ambil sendiri sana!" ujarku pura-pura kesal karena Jake langsung memasukkannya semua ke dalam mulutnya. Sesungguhnya ini sangat lucu, dagingnya nggak muat sampai bikin dia gembungin pipi gitu pas ngunyah.

"Biarin, salah sendiri kamu ngejek aku!" katanya lalu pergi,

"Eh mau kemana, Jake? Tungguin!" Aku berlari kecil mengejar Jake. Kupikir dia marah, ternyata dia hanya mau mengambil makanan lagi.

"Ngapain ngikutin, sih! Aku kan mau ambil daging doang!" ujarnya, masih dengan nada kesalnya itu.

"Was it good?"

"What?"

"Dagingnya."

Dia ngangguk-ngangguk lucu sambil terus jalan lalu duduk di tempat kami tadi.

"Itu aku yang buat, loh."

Jake langsung menoleh, membulatkan matanya, "Really?"

"Nggak sih, bohong. Cuma bantuin aja tadi."

.

Sesi makan malam sudah selesai, sekarang waktunya tidur. Tapi daritadi aku nggak bisa berhenti mikirin Jake yang katanya nggak bisa berenang. Sebenernya sih, kayaking gak terlalu membutuhkan skill berenang, but considering that this is going to be a race—of course there will be some annoying opponents that might harm Jake if he can't swim.

"Jake!" panggilku saat ia baru saja hendak memasuki kabinnya.

Dia menoleh, "Hum? Why?" tanyanya sambil berlari kecil kearahku.

"Gimana kalau aku ajarkan berenang?" bisikku.

"Huh? Kapan? Kan besok sudah lomba."

"Of course, tonight."

"Jay are you crazy? What if we get caught?" tanyanya sambil ikut berbisik. Peraturan jam malam di camp ini memang lumayan ketat, semua peserta harus sudah tidur dibawah jam 10. Kalau nggak, besok pagi disuruh cuci piring bekas anak-anak lain sarapan.

"Then we'll make sure we won't."

"How?" 

"Nanti kamu jangan tidur dulu, Jake. Kalau dengar ketukan pintu dua kali, itu aku. Then we'll sneak through, nobody gon' see us.

Jake menatap kearahku dengan tatapan kayak 'i-don't-trust-you-but-okay-lets-do-this', lalu dia menangguk, "Jangan kelamaan tapi nyamperinnya, nanti aku keburu ketiduran."

Akupun mengangguk, "You can always count on me."

.

Aku mengecek jam tanganku, pukul 10.17. Aku buru-buru turun dari kasurku, lalu mengendap-ngendap keluar. Aku mengetuk pintu kabin Jake 2 kali. Tidak berapa lama, anak itu keluar sambil celingukan. Wajahnya lucu banget, kayaknya dia abis ketiduran tadi.

"Ayo!" bisikku sambil menarik tangannya, membawa kami menuju jalan yang memang bukan jalan setapak yang biasa dilewati. Sampailah kami di dekat danau, dimana ilalang-ilalang tinggi itu berada. Kami memanfaatkan ilalang ini untuk menyembunyikan tubuh kami. Aku menyuruh Jake untuk merundukkan tubuhnya agar sejajar dengan ilalang itu, dia pun langsung menuruti.

Setelah perjalanan kecil yang cukup menegangkan, akhirnya kami sampai di dermaga. Aku lalu membuka bajuku dan bersiap melompat. Aku menoleh sedikit ke arah Jake, dan dia terlihat sedikit... takut.

"Hey? Is everything alright, man?"

"Eh? Iya kok, cuma takut tenggelem aja..." Rengekan lucunya membuat aku tertawa renyah.

"Well, don't worry, then. You got me." ujarku lalu menepuk punggungnya, berusaha menenangkan dia.































©HAPPYBIRTHJAY

We Lost The SummerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang