Berhubung segala sesuatunya bebas, jadi bebasin aja! 😂😂😂
****
“Kalau mak enggak ada umur, mak pengen tempat di sebelah kakakmu di kampung.”
***
Sueb memantik lagi geretan kayunya. Kembali, dua batang kretek di sela bibir menyala. Diselingi seruput kopi hitam yang ketiga, pikirannya membumbung tak berarah. Kadang khayal membawanya ke masa silam, ketika banyak kambing diantar ke kandang. Semenit kemudian pindah ke zaman di mana dia berkelana dengan gitar dari satu angkot ke angkot lain. Lalu, seolah asap rokoknya dimantrai, itu semua menyatu di udara dan membentuk wajah si emak. Seketika dia terbatuk. Tersedak hasil isapan puntung yang lagi dinikmati. Buru-buru ditenggaknya kopi. Bukan lega, dia makin kewalahan. Disengat panas, masih terbatuk-batuk, lidahnya terjulur.
Puas mengademkan lidah, Sueb bersumpah serapah. Segala binatang dibawa-bawa. Semua disalahkan, termasuk Siti yang membuat kopi, dua batang rokoknya yang sudah dibikin mati, dan emak. Mendadak berhenti dia mencak-mencak. Sambil mengusap tengkuk dia singkirkan si emak. Jangan sampai tambah kualat lantaran muka emaknya yang tadi mendadak muncul. Namun, wajah penuh keriput dengan pipi yang kempot, ditambah sepasang kantong mata yang kendur dan lebar, juga iris yang kehilangan warna asli, dan bibir yang menganga kaku, menjadi sangat lekat di matanya. Bahkan pesing yang dulu menguar dari kamar si emak turut tercium. Sueb terduduk di lantai. Tidak hanya mata, hidung pun kini ditutupnya.
Hampir sebulan sejak Sueb ditarik ke kamar emak begitu sampai rumah. Masih mengenakan baju penuh tepung, dilihatnya emak yang megap-megap. Langsung duduk dia di pinggir ranjang. Mengamati mata emak yang setengah terbuka, ditelannya marah untuk Siti. Pelan, dia genggam tangan emaknya. Mungkin sebentar lagi emak akan pergi. Mungkin sekarang emak tengah menatap malaikat maut.
Hati Sueb sudah siap menerima, ketika genggamannya tidak dibalas. Setengah berteriak dia memanggil Siti yang diam di ambang pintu. Saat Siti berdiri di sisi, dada emak sudah berhenti naik-turun. Sueb menatap istrinya yang lirih berucap bela sungkawa, lalu ke mata emaknya yang masih setengah terbuka. Sedih mulai merayap. Satu-satunya orang tua yang dipunya telah kembali ke Sang Pencipta. Siti berbisik, untuk memberi tahu tetangga. Diberi waktu berdua, Sueb lantas membelai kepala si emak. Teringat dia waktu hidup di desa. Berdua saja dengan emak. Juga, apa yang diinginkan emak belakangan ini.
Emak sangat jarang meminta. Meski harta Sueb terus bertambah, jika tidak ditanya mau apa, bibir tipisnya tetap bungkam. Sekalinya terlontar, paling minta dibelikan ketoprak dengan bawang putih yang banyak. Namun, sejak gerak badan sebatas kasur kapuknya, emak jadi sering mengoceh. Itu pun hanya dengan Sueb dia mau berceloteh.
“Temani emak kali-kali, A.”
Diserbu permintaan serupa dari Siti setiap pulang, Sueb jadi sering bertukar peran. Hampir setiap hari Siti yang beranjak ke toko kelontong mereka di pasar, sedang dia menyuapi emak sarapan. Baru dia sadari kala mengelap badan si emak, betapa kurus emaknya. Dulu, emak sering menggendongnya di punggung saat keliling jual gorengan. Sekarang, jangankan ke kamar mandi, berdiri saja tidak mampu. Bukan tanpa usaha dia mau emak sembuh. Dari rumah sakit besar sampai dukun mereka sambangi. Namun, umur tidak bisa dikekang.
“Jum di mana?” Juga pikunnya yang sering kumat. Sueb sudah terbiasa.
“Di kampung, Mak.” Sueb kembali mengelap lengan emak. Sedikit tersentak dia, ketika lengan emak yang bebas memegang tangannya.
Emak selalu anteng, saat Sueb atau Siti membersihkan tubuhnya. Namun, kali ini emak ingin didengar. Rasa rindunya pada Jum semakin membuncah. Anak bontotnya ini harus tahu, dia mau ketemu Jum. Mau kembali merawat Jum. Mau temani Jum.
KAMU SEDANG MEMBACA
Event Mingguan
ContoCerita yang disajikan akan berbeda-beda, sesuai dengan tema yang ditentukan ^_^
