Alana sedang melamun seorang diri di teras sambil melihat bulan. Ia tak menghiraukan kakinya yang gatal karena sedari tadi digigit nyamuk. Memangnya dia tidak takut digigit nyamuk 'edis' apa? Kalau kena demam 'denggi' seperti di Upin Ipin, bagaimana?
"Lagi mikir apa?"
Alana menoleh karena mendengar suara yang familiar menegurnya. Adrian baru saja pulang kerja, pria itu masih memakai setelan kerjanya. Setelah lulus kuliah Adrian segera mendapatkan pekerjaan di perusahaan yang lumayan bonafide. Berkat kuliah di tempat prestisius dan IPK yang lumayan tinggi.
"Mas Adrian?"
Adrian duduk di samping Alana, ia membawa dua buah kantong plastik yang berisi makanan ringan.
"Aku ke sini nganter oleh-oleh dari Tante aku, beliau baru pulang dari Bogor."
"Makasih ya, Mas."
Alana menerima kantong plastik itu, ia memeriksa isinya. Ada roti unyil, ia mengambilnya dan membukanya.
"Kok nggak dijawab? Kamu tadi mikir apa?"
Alana tersedak roti unyil. Dengan penuh perhatian Adrian menepuk punggungnya.
"Nggak mikir apa-apa, Mas."
"Beneran?"
"Cuma mikir ujian nanti." Alana beralasan, tak mungkin ia mengatakan sedang berpikir bagaimana caranya menolak keinginan Adrian untuk mengajaknya pergi ke Australia.
"Kamu pasti lulus."
"Aamiin, doain ya, Mas. Soal tawaran yang tempo hari ...."
"Besok aja dipikirin lagi, setelah kamu lulus. Sekarang fokus ke ujian dulu," potong Adrian.
"Oh ...."
Alana merasa lega karena Adrian memberinya kesempatan berpikir sampai dia selesai ujian.
"Lan, bulannya indah, ya?"
Alana mengikuti arah pandang Adrian. Bulan memang tampak lebih besar dan penuh, karena sekarang tanggal 15 hitungan Jawa.
"Iya. Indah banget." Alana melihat wajah Adrian dari samping. Wajah yang tampan itu tampak lebih tampan saat terkena sinar bulan.
"Aku harap walau kita nggak bersama lagi, kamu jangan pernah merasa kehilangan aku."
Alana terkejut mendengar perkataan Adrian yang tiba-tiba. Perkataannya itu seperti orang yang akan pergi untuk selamanya. Seketika perasaan Alana menjadi tidak enak.
"Mas, aku 'kan belum jawab mau ikut kamu apa nggak."
"Kamu fokus aja ke ujian, ya. Semoga kamu bisa lulus dengan baik." Adrian dengan tulus memberi semangat kepada Alana.
***
Seminggu setelah ujian kelulusan usai ....
Malam ini Alana akan menghadiri acara prom night bersama kawan-kawannya. Akhirnya mereka berhasil menyelesaikan ujian, walupun hasilnya tidak begitu memuaskan, tapi setidaknya mereka berhasil lulus.
Edgar menjemput Alana, dia tampak tampan dengan memakai jas kasual. Kali ini dia meminjam mobil papanya. Ia tak mau Alana kesulitan menaiki motor sport-nya jika menggunakan gaun.
"Gar, kamu cakep amat malem ini?" Bunda Alana menyambut kedatangan Edgar.
"Bunda bisa aja, aku juga hari-hari cakep."
Alana tiba-tiba keluar, Edgar melihatnya takjub. Malam ini Alana menggunakan dress selutut berwarna peach, rambutnya dibiarkan tergerai, hanya berhias bando sederhana.
"Duh, anak bunda cakep amat."
Alana malu mendengar pujian bundanya, ia berdehem karena Edgar menatapnya dengan aneh.
"Kenapa lo, Gar?"
"Nggak papa, cuma nggak nyangka aja lo bisa berubah jadi cantik."
"Bundaaa ...." Alana merajuk pada bundanya karena Edgar meledeknya.
"Itu baju Bunda waktu masih muda, bagus 'kan?" Bunda memutar tubuh Alana di depan Edgar.
"Nggak aneh 'kan, Gar? Gue nggak kelihatan kayak anak SD yang lagi ultah 'kan?"
"Nggak, lo cantik kok, suer!"
"Ya udah, berangkat sana, ntar kemaleman. Ingat! Jam sepuluh harus sampai rumah." Pesan bunda Alana.
***
"Gimana keputusan lo? Lo jadi ke Aussie?" tanya Edgar saat berada di dalam mobil.
"Gue masih galau, Gar."
Alana melepas bandonya, ia merasa bando itu yang menjadi sumber sakit kepalanya, ia tak biasa memakainya. Bunda yang memaksanya.
"Bukannya bentar lagi dia berangkat?"
"Hm, iya." Alana menggaruk rambutnya yang sudah disisir rapi.
"Apa yang membuat lo galau?"
"Gue ngerasa nggak bisa adaptasi di sana, gue juga takut pisah sama bunda. Dan yang paling penting, gue ... Belum siap menikah, gue belum yakin. Gue baru 18 tahun, Gar."
Edgar diam, ia tak tau harus bagaimana menasehati Alana. Dalam hati ia berharap Alana menemukan solusi atas permasalahannya.
Kalau boleh ia memilih, ia ingin Alana tetap di Indonesia. Mereka akan tetap kuliah di tempat yang sama. Tapi ia sadar, ia tak boleh egois. Alana harus bahagia.
KAMU SEDANG MEMBACA
Teman Tapi Cinta
HumorNggak ada persahabatan yang murni antara pria dan wanita? Setuju? Kalau nggak percaya baca aja cerita ini.
