Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"KUBILANG, aku tidak setuju, Mark!" Jeno tiba-tiba bangkit, selagi menggebrak meja di hadapannya. Gejolak amarah dalam dada sudah meletup-letup sejak Mark lagi dan lagi membujuknya merekrut Renjun jadi bagian dari band. Sebab itu, tak lagi peduli dengan suasana ramai di kantin siang ini, Jeno meluapkan semua amarahnya.
Mark pun Jaemin agak terkejut sebenarnya. Lantaran, sebelum ini Jeno selalu lebih tenang dari gelapnya malam. "Setidaknya kau harus punya alasan, Lee Jeno!" Kesal, Mark menatap runcing bola mata Jeno.
"Sudahlah, semua orang melihat ke arah kita." Bisik-bisik mulai terdengar, pun tatap seluruh pengunjung kantin tak luput dari atensi Jaemin. Anak laki-laki itu mengelap sejenak kuah ramyeon yang tumpah sebab gebrakan tangan Jeno, sebelum menggenggam kepalan tangan Mark yang kini turut mengambil posisi berdiri.
"Kau pikir, permainan gitarmu itu sekelas dewa apa? Selalu saja kau berpikir tidak ada suara yang bagus untuk mengiringinya. Ck, omong kosong macam apa ini?"
"Sialan!" Dengan cukup keras, Jeno mendorong tubuh Mark. Tiada lagi peduli dengan imejnya yang mungkin akan hancur. Jeno hanya kesal dengan Mark. Dengan Renjun sebenarnya. Sialnya, Mark tidak jua berhenti membicarakan sosok itu.
Tak terima mendapat perlakuan kasar, Mark balik membalas dorongan Jeno.
"Orang-orang bodoh ini! Hentikan!" Jaemin berusaha merelai. Ia menarik tubuh Jeno agak menjauh dari Mark. Sadar bahwasanya bendera perkelahian telah dikibarkan kala Mark memberi pukulan tepat di wajah Jeno. Sementara itu seluruh orang mulai berkumpul guna menonton laga yang tengah berlangsung.
"Minggir kau, Na Jaemin!" Jeno mendorong Jaemin ke samping. Lantas berjalan mendekat ke arah Mark. "Kau ini teman macam apa, hah?!" Kuat, Jeno mencengkeram kerah seragam Mark.
"Kau yang teman macam apa? Egois, keras kepala, angkuh!"
"Hei, sudahlah! Jangan seperti anak kec——ugh!" Kalimat Jaemin terputus sebab baru saja sebuah tinju yang hendak Jeno layangkan ke arah Mark justru mendarat di wajahnya. Refleks, Jaemin menangkup hidungnya yang dirasa berdarah.
"Jaemin?" Sadar kalau Jaemin tidak baik-baik saja, Jeno dan Mark kompak memanggil dan menoleh ke arah temannya itu.
"Sungguh menyebalkan!" rutuk Jaemin seraya membawa langkahnya berlari. Menjauhi kerumunan yang tengah berlangsung. Menjauhi Jeno dan Mark yang sama-sama terpaku di tempatnya.
"Kau! Aish …." Sadar akan kesalahan fatal yang Jeno timbulkan, Mark nyaris melontar sumpah serapah. Namun, ia lebih khawatir akan kondisi Jaemin sehingga Mark memilih untuk mengulum kembali rutukannya dan segera menyusul langkah Jaemin.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.