Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

19 : Feel Free to Smile

154 25 4
                                        

Panas. Gue paling benci kalau hari Senin ada upacara terus panas. Kenapa gue benci? Soalnya gue di depan.

Badan gue emang lebih tinggi dari cewe lain, tapi kenapa sih, sistem sekolah gue tuh yang tinggi harus di depan? Bukannya yang tinggi tuh dibelakang ya? Ah, pokoknya gue harus bisa di belakang sekarang.

Gue melirik ke kanan dan kiri, jujur aja, gue ga mau berurusan sama guru piket buat nawar posisi upacara. Mending berkonsultasi dan nawar ke anak PMR, yaitu Naraya.

"Rayaa, gue dibelakang ya," ucap gue memelas. Untung mata gue ga sipit-sipit amat kayak Agus, jadi gue bisa pakai jurus puppy eyes. Untuk disituasi kayak gini, mengandalkan kelebihan yang dimiliki tubuh kita itu sangat lah penting.

"Elo kenapa? Ga enak badan?"

"Iya, perut gue mual sama pusing." Itu ga sepenuhnya bohong. Perut gue emang mual gara-gara habis makan nasi goreng nya kak Feliks. Ga tau dah, dikasih apa sama dia. Yang penting, berkat itu, perut gue mual sedikit.

Tolong jangan dicontoh perilaku gue ya. Kasian nanti kalau lo semua ketahuan bohong.

Padahal gue ga bohong-bohong amat sih.

"Lo mau ke UKS?" Naraya malah menawari gue buat ke UKS, jujur sebenarnya gue mau-mau aja sih. Tapi, gue ni mual nya ga mual banget, kek nya jahat banget kalau gue ke UKS.

"Engga usah. Gue dibarisan belakang aja boleh? Jangan kena matahari sih, biar ga pusing banget."

Finally, gue pindah ke barisan belakang. Lumayan adem karena disini ditutupi daun-daun. Tapi, sialnya gue malah sebelahan dengan Azura. Padahal dia tinggi juga, kenapa ga di depan sih? Kok dia udah boleh dibelakang? Kok tadi guru piket ga narik dia maju? Heh, ga adil ini namanya.

"Lo kok di belakang?" gue tanya juga akhirnya, soalnya sebel.

Azura hanya melirikkan matanya sedikit ke arah gue. Ya Allah es batu! Emang harusnya lo ke depan biar meleleh sekalian. Gemes banget gue. "He, gue ngomong sama lo ya, Azura."

"Males."

Males.

Males katanya. Ya Tuhan! Enteng banget itu mulut kalau ngomong! "Emang ga disuruh guru tadi? Lo aja lebih tinggi dari gue."

"Gue barusan dateng. Lo juga ngapain dibelakang, kan lo tiang."

Bisa disimpulkan bahwa Azura adalah manusia yang dibuat dengan 60% es batu dan 40% bon cabe level 1000. Ngaca dong, situ juga tiang! "Perut gue mual, kepala gue pusing kalau kena matahari."

"Hmm."

Dih?? Bocah??? Astaga, terserah deh. Emang dikelas ini ga ada yang waras, alien semua.

Mengabaikan makhluk yang beradarah campuran es batu dan bon cabe itu, gue berusaha fokus buat mengikuti upacara ini. Walau ga bisa fokus-fokus amat sih, soalnya dibelakang cenderung berisik. Apalagi ada Kalandra, Rafandhan dan yang lain.

Heran gue, udah ditegur masih aja pada ribut.

Gue berusaha untuk tidak terlibat dalam keributan itu, tapi, telinga gue ini ga sengaja nangkep sesuatu. Sesuatu yang seperti, Ridwan sekarang pacarnya Flora? Seketika itu juga orang-orang yang ada didepan dan samping gue pada noleh.

Kenapa malah pada noleh si anjir? "Ngapain lo?" tanya gue sambil bisik-bisik. Jovanka dan yang lain malah melotot dan nunjuk si cewek yang bilang kayak tadi ke gue.

Gue mengangguk pasrah dan reaksi mereka semua pada melongo. Lalu, dihitungan ke tiga, semua orang langsung balik badan lagi menghadap ke depan. Ajaib nya, sepanjang itu, mereka semua mengikuti upacara dengan tenang.

Mampus, pasti gue di introgasi nanti.

Setelah upacara selesai dan mereka semua masuk ke kelas, minus Ridwan dan Agus, gue langsung di introgasi. Mau ga mau gue harus ngomong semuanya, tentang apa yang gue rasakan dan apa yang terjadi kemarin sabtu dirumah gue.

Kemarin sabtu, setelah Flora minta gue buat putus sama Ridwan, gue bengong. Gue bukan nya marah atau sakit hati, tapi, di kepala gue, gue merasa ga bisa jawab pertanyaan itu. Gue bingung perasaan gue ke Ridwan itu sebenarnya gimana, dan pertanyaan besar gue itu pun tiba-tiba muncul lagi.

Akhirnya, gue putuskan untuk jawab iya.

Awalnya, Ridwan ga percaya dengan jawaban gue, tapi, gue juga harus berusaha cari tau tentang perasaan gue ke dia gimana. Setelah mereka pulang, yang gue rasakan tetep sama. Gue masih bingung. Kayak, sedih engga, seneng juga engga. Datar banget.

Bahkan gue lebih marah pas liat stori kak Feliks yang ternyata lagi jajan boba.

Kan aneh.

Semenjak itu, gue menyadari, kalau rasa gue ke Ridwan yang dulu itu bukan rasa suka, melainkan rasa khawatir aja kalau ternyata Ridwan udah ga mau temenan sama gue. Pas gue sadar akan hal itu, gue merasa bahwa diri gue kekanakan. Sangat kenakan.

Selesai gue cerita tentang hal itu, respon yang pertama kali gue dapatkan adalah diam.

Kan, ini kelas emang aneh. "Kenapa lo semua diem?"

"Bentar, gue masih bingung. Sama lo sih, bisa-bisanya lo disuruh putus mau-mau aja," Jovanka berkomentar sambil narik bangku di samping gue.

"Iya, gue nya juga bingung pas itu. Lagian perasaan gue juga ga jelas ke Ridwan."

"Iya, perasaan lo. Lo nya mikir perasaan Ridwan ga?" tanya Jovanka yang sukses membuat gue diam. Iya juga, selama ini gue terlalu fokus sama diri sendiri sampai lupa kalau gue masih ada Ridwan.

Gue lupa kalau pacaran ini tentang dua kehidupan, maksudnya ya, kenapa gue lupa buat nanya pendapat Ridwan sih??

"Gausah ditanya si Ridwan juga kayaknya suka sama Flora." Bukan gue yang jawab tapi Rafandhan.

"Ridwan ga hubungin Danita lagi, dia bahkan ga protes waktu diputusin Danita, lagi, emang dari awal sejak Flora dateng Ridwan iya-iya aja, jadi ga salah sih menurut gue kalau Danita sampai lupa keberadaan perasaannya si Ridwan ini."

Perkataan Rafandhan membuat yang lain diam termasuk gue. Yang dikatakan dia hampir benar semua. Gue bahkan kaget dia bisa ngomong sebegitu bijaknya.

"Oh sial, kenapa pada diem? Gue ganteng banget ya habis ngomong gitu? Sok, sini gue masih jomblo, feel free to be yours."

Feel free mbah mu, masih aja amuba satu ini menebar jaring.

Diantara itu semua, tiba-tiba Azura masuk dan ngomong kalau semua ini keputusan yang udah tepat untuk gue. Dia juga ngomong, kalau yang lain ga perlu sampai ikut campur, karena ini hidup gue. Kalau misal gue salah ya yang tanggung gue sendiri.

Bener sih, semua nya juga bakal gue tanggung sendiri. Dan, yang lain pun setuju. Setidaknya hari ini gue bisa bernafas lega.

A/n dari Fath :

yeoksi, satu chapter lagi tamat, mungkin besok pagi-pagi di up nya, karena sekarang w mau belajar akuntansi dulu. bener-bener baru inget kalau besok UAS AKT hikd, semoga dosen w ga kasih soal yang bisa bikin rambut w rontok.

oiya, itu aja.

terima kasih sudah menunggu lama and i love u!

11 IPS 1 ( TAMAT )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang