"Kenapa harus Papua?" tanya gue yang masih bingung penjelasan dari Agus, tapi di kelas biasa di panggil Suga. Revano mengangguk setuju, "bener anjir, baju adat Papua susah nyewa nya."
Sementara yang lain, masih gumam-gumam ga jelas.
Sebenarnya satu minggu lagi ada project untuk memperkenalkan budaya Indonesia. Yang salah satunya dengan pakaian adat. Gue yang sudah tau dari kelas satu juga ga kaget, Porseni ini dibuka dengan memperkenalkan budaya Indonesia gitu.
Apalagi sekarang Ketua OSIS nya Jeka, gue memang ga dekat dengan Jeka. Tapi ya sering beberapa kali ngomong atau diskusi bareng, dan iya Jeka anaknya memang kritis.
"Ya mau gimana, lo semua mau nego pun juga ga bisa. Bagian pulau Jawa sudah dikasih ke kelas satu," jawab Suga yang membuat kelas jadi ricuh.
Bahkan, Ferrel sampai mengeluh tak terima. Karena dia yang bakal jadi model laki-laki nya.
"Anjir, ya jangan gue lah modelnya! Ridwan sono, dia cocok jadi orang Papua!"
Gue menengok ke arah Ridwan, yang duduk di pojok kanan belakang. Dia menggerutu tak setuju, "gue panitia."
"Alah Rid, panitia apa sih lo? Cuma jadi model," balas Kalandra jadi emosi. Ya, gue juga sih.
Jovanka yang sedang menulis catatan di buku jadi mengangkat kepala, "heh dengerin gue!"
Katanya membuat semua orang jadi menoleh, termasuk gue.
"Duit kas ga nyukup, kalau mau nyewa baju Papua, lo semua harus swadaya uang dua puluh lima ribu."
"TUH KAN GUS! URUNAN LAGI, GUE BELOM ADA KERJA MINGGU INI HUHUHU," Fidelya mengeluh.
Gue yang mendengar itu juga mendelik kaget, "mahal amat Van."
"Ya lo semua kalau mau murah, buat sendiri bajunya, lagian kasih daun pisang juga udah jadi."
"WOOOO MBAK JOVAN! AKU SUKA GAYA MU!" teriak Kalandra seperti orang kerasukan.
Gue heran, kenapa semua orang yang ada di dunia ini, kenapa harus Kalandra?
KENAPA HARUS KALANDRA?
"Kia," gue menoleh. Mengangkat alis pada Ridwan yang manggil gue. Ridwan mengacungkan hapenya. Gue yang mengerti langsung buka hape.
Bakwan Gosong : he bilang sana sama Agus.
Danita : apaan
Bakwan Gosong : gue baru di kasih tau Jeka, kalau yang dapet Prov. Papua diganti sama Aceh.
Danita : ya bilang sendiri lah
Bakwan Gosong : gah
Danita : He Wawan, lo tuh Ketua Paskib, Humas OSIS ngapain ga mau bilang ogeb.
Bakwan Gosong : bacot cepetan bilang.
Danita : Y.
Gue mendengus kesal, kembali menyimpan hape kedalam laci meja. "Gus!"
Gue manggil siapa, yang nengok satu kelas.
"Kata Jeka, yang dapet Papua diganti sama Aceh."
Ucapan gue barusan buat kelas gue langsung bersorak. "Kata siapa lo?" tanya Agus.
"Ridwan."
Setelah gue mengucapkan itu, satu kelas langsung menengok ke Ridwan yang berlagak tak tau apapun. "Yeu si mamas, sok tsundere kalau mau kasih tau ya kasih tau elah, ngapain kudu Danita yang kasih tau," celetuk Rafandhan yang buat Ridwan mengernyit.
"Tsunade?"
"TSUNDERE RIDWAN TSUNDERE! ADOH YUTA TOLONG DAH INI DI RUKIYAH KASIAN DIA, KEBANYAKAN LIHAT OPPAI NYA TSUNADE!" teriak Revano yang duduk didepan Ridwan gemas.
Agus masih mematung di tempatnya, "gue coba telepon Jeka dulu," katanya lalu keluar kelas.
"Heleh, dasar," umpat Kalandra lalu berbalik menghadap Ridwan.
"Oi, Rid, lomba paskib kapan?"
Gue menengok itu, "emang lo ikut Paskib?"
"Enggak sih," jawab Kalandra mencicit kecil.
"Lah terus ngapain nanya?" tanya gue yang masih tak paham.
Yuta melewati Kalndra dan duduk di pojok belakang untuk mengisi daya hape, "lah lo semua ga tau? Dia kan mau gebet itu tuh Flora, IPA 4," ucapnya sambil lewat.
"Flora? Lah dia kan suka sama Ridwan," celetuk Ferrel yang buat satu kelas heboh. Tapi, gue tertegun mendengar itu. Flora? Suka sama Ridwan? Beneran?
"WEEE KALANDRA KALAU LO MAU GEBET TUH LIHAT DULU ELAH!"
"IYA NIH, UDAH SONGONG BANGET TANYA SAMA RIDWAN!"
Sahut Revano dan Rafandhan heboh. Gue yang langsung melirik sinis, "berisik anjir!"
"Wadohh ada yang cemburu nih," kata Yuta.
Gue yang ga mau jauh terlibat jadi pergi ke kantin sama Asia. "Yah pergi dia, haduh Mas Ridwan kejar aku dong."
Gue yang ga tahan langsung ambil buku terdekat, dan lempar itu ke Kalandra.
BRUK!
Pas kena muka dia.
"HAHAHAHAH SUKUR! MAMPUS DANITA MARAH!"
"Udahlah Nita, ayo mau makan mie goreng lada hitam gue," kalau aja ga ada Asia di sebelah gue, mungkin gue udah khilaf baku hantam sama Kalandra.
Gue berjalan dengan Danita menuju kantin, tapi disana gue lihat Zura yang lagi ngobrol sama Flora.
"Itu, Zura bukan? Yang lagi sama Flora," tanya gue kepada Asia.
Asia menyipitkan matanya. "Buset Ya, mata lo udah sipit jangan disipitin, ilang noh!" kata gue membuat Asia melengos malas.
"Itu bener Zura, sama Flora yang lagi ngasih dia bingkisan."
"Bingkisan? Emang udah lebaran?"
"Heh lo, cantik tapi kok bego. Bingkisan kayak cewe yang lagi suka sama cowo!"
"Bukan nya dia suka sama Wawan?"
"Ya mana gue tau?"
Gue diem aja, ga mau lanjut tanya. Ya kalau dia suka emang apa urusannya sama gue? Kan yang penting, ga suka sama Kak Gio.
Setelah dari kantin, gue lanjut balik ke kelas. Disana udah ada Agus, lagi ngobrol sama Rafandhan.
Saat gue masuk, Agus langsung nengok ke gue, "kebetulan, sini Danita!"
Gue dateng, "kenapa?"
"Lo jadi modelnya sama Rafandhan."
Gue ngangguk aja daripada tambah panjang, terus saat gue dan Rafandhan lagi diskusi tiba-tiba saja Ridwan dateng dan narik gue pergi.
"Apasih!"
"Tolak aja napa?"
"Ya kenapa sih, gue mau jadi model!"
"Kenapa ga sama Ferrel aja?"
"Udah deh Rid, gue lagi diskusi!"
Gue meninggalkan Ridwan gitu aja, apa-apaan sih dia. Kekanakan banget, bikin gue bete. Kenapa dia kadang suka posesif sama gue?
A/n
Besok Senin:)
KAMU SEDANG MEMBACA
11 IPS 1 ( TAMAT )
Roman pour Adolescents[ S E L E S A I] Series of DC Highschool 11 IPS 1 bukanlah kelas yang banyak diceritakan seperti kelas-kelas lain. Kelas pojokan di koridor lantai dua ini seakan punya dunia sendiri. Dijuluki kelas aneh dan yang paling beda di seluruh penjuru DC Hi...
