Pacar : masih di kelas?
Danita : iya
Pacar : gue laper :(
Danita : ya... makan
Pacar : bentar lagi bel
Danita : bel pulang?
Pacar : iya
Danita : pulangnya bareng? Kan lo lagi rapat
Pacar : tungguin gue bentar
Danita : di UKS ya
Pacar : ruang Mading aja
Danita : oke
READ
"Ternyata lo emang jadian sama Ridwan."
Gue tersentak, kaget saat melihat Yuta yang diam-diam ngelirik hape gue. Kurang ajar bener itu bocah satu.
"Apaan lihat-lihat hape gue," ucap gue ketus. Yaiyalah, ngapain main ngintip gitu aja.
Yuta menggusar poninya, "ga sengaja lihat," jawabnya enteng.
Yeu dasar Sasuke, awas aja kalau gue chidori lo.
"Gus!" Panggil gue ke Agus yang lagi sibuk ngobrol dengan Rafandhan. Dua laki-laki itu menengok, "bentar lagi bel."
Agus mengangguk begitu juga Rafandhan yang langsung berjalan ke bangkunya untuk berkemas.
Jovanka memandang gue, "Ta, kok sering pulang cepat kenapa ya?"
Gue hanya mengangkat bahu, "ntah tanya Jeka sana."
Kalandra mengangkat sebelah alisnya, lalu menimpali, "apa urusannya coba sama Jeka, emang Jeka kepala sekolahnya?"
"Ya ga gitu juga dodol, kan gara-gara OSIS sama MPK banyak kegiatan jadinya gitu, au dah ga paham gue," jawab gue jadi bingung sendiri.
Gue berjalan menuju bangku Ridwan, membereskan buku-bukunya dan juga tas yang ia bawa.
"Ngapain lo beresin bukunya Ridwan?"
"Kan..."
Oiya. Gue lupa. Kan, anak kelas belom pada tau.
Astaga, mampus kau Danita.
Kalandra memancing sinis, ia maju. Perlahan maju dengan tatapan matanya yang menyipit tajam, "lo... ngaku!"
Gue yang di tunjuk seperti itu cuma menghela nafas panjang, lagian ngapain juga gue main umpet kayak gini.
"Kan pacar gue."
"WOAH!"
Seruan satu kelas, buat kaget hampir jungkal kebelakang.
Bahkan, Asia sampai memeluk tasnya dan meloncat kecil riang. Heran, yang jadian gue yang seneng dia.
Yuta serta Ferrel bersorak heboh buat yang lain ikutan bersorak. Apalagi Kalandra yang tiba-tiba ngajak gue joget padahal ga lagi nyetel musik dangdut.
Ini yang jadian kan gue.
Kenapa satu kelas yang heboh?
Tapi, ada satu hal yang buat gue heran, heran banget malah.
Di ujung sana, Rafandhan menatap gue dingin. Gue bales tatapannya dia.
Tapi dia sama sekali ga respon, malah meninggalkan gue begitu aja. Perlahan punggungnya hilang dengan pandangan gue yang enggak sadar udah ngikutin dia.
Suara Agus jadi membawa gue ke dunia nyata, setelah apa yang gue lihat pada Rafandhan tadi, gue harap semua itu hanya ilusi.
Gue bersiap pergi menuju tempat Mading, seperti yang Ridwan suruh tadi.
"Danita."
Panggilan seseorang membuat gue tersentak, spontan gue jadi diem dan menoleh ke arah samping. Morfuz ada disana.
Dengan muka datarnya seperti biasa.
"Kenapa?" Tanya gue santai.
Morfuz tetap saja diam, dan terus berjalan sampai tepat berhentu di depan gue. Gue bisa merasakan nafasnya dan tatapannya yang ternyata bukan datar melainkan dingin.
Diam-diam gue meneguk ludah secara ga sadar, "ke-kenapa woy anjir."
"Lo ga sadar satu hal ya?"
Kalimat itu, sebenarnya kalimat yang benar-benar biasa aja. Tapi kenapa kalau Morfuz yang bilang rasanya kayak gue baru saja dikasih hukuman?
Gue menggeleng pelan dan hati-hati, "sadar apa?"
Morfuz diam, dengan matanya yang tiba-tiba mengawasi gue.
SUMPAH YA KENAPA TIBA-TIBA GUE YANG JARANG INTERAKSI SAMA NIH CURUT SATU KUDU DAPAT SITUASI YANG KAYAK GINI?
HUHUHUHUHU RIDWAN HUHUHUHU.
"Hati-hati," ucapnya dengan menepuk pelan pundak gue lalu pergi dari situ.
Bulu kuduk gue berdiri, merinding begitu saja saat dia pergi melewati gue dengan santainya.
Gue meneguk ludah getir, "apa maksudnya?" ucap gue pada diri gue sendiri.
Morfuz kalau lo mau kasih peringatan mending jangan pakai kode, karena gue bukan anak Pramuka.
KAMU SEDANG MEMBACA
11 IPS 1 ( TAMAT )
Teen Fiction[ S E L E S A I] Series of DC Highschool 11 IPS 1 bukanlah kelas yang banyak diceritakan seperti kelas-kelas lain. Kelas pojokan di koridor lantai dua ini seakan punya dunia sendiri. Dijuluki kelas aneh dan yang paling beda di seluruh penjuru DC Hi...
