Hurt Your Heart (Bagian 2)

173 3 2
                                    

        Kepopuleran Chai tak membuat ia melupakanku, aku seolah seperti ekor baginya. Aku tak punya teman selain Chai, teman-temanku mengejekku bahkan mencerca parasku yang cantik, kadang aku menerima perlakuan yang tak senonoh dari teman-teman laki-laki, mereka berlaku kurang ajar dengan mencolek daguku sampai berani mencoba membuka kancing seragamku. Aku hanya berusaha memberontak sekuat tenaga yang aku bisa tapi tetap kalah dengan kumpulan laki-laki itu, sampai tangan Chai yang membantuku menghajar mereka. Aku tetap masih terus di sampingnya setelah apa yang sering aku alami, Chai tidak terlalu mempermasalahkan itu, ia bahkan masih tetap menjadikan aku sahabatnya. Chai tidak sungkan untuk merangkul bahuku saat ke kantin dan mencoba menggodaku dengan nada candaannya walaupun seringkali mata-mata sinis sering menatap kami berdua seperti mencurigai sesuatu. Aku berusaha agar aku bersikap biasa meskipun sedikitnya ada gossip-gossip yang beredar mengenai hubunganku denganChai. Sempat suatu ketika saat aku berdiri di pinggir lapangan menyaksikan Chai bertanding sepak bola, mataku menangkap segerombolan siswi yang aku sebut “lebah-lebah genit” itu seperti sedang membicarakanku. Terlebih saat babak pertama selesai, Chaimenghampiriku dan aku segera memberinya sebotol Pepsi dan handuk kecil yang aku pegang untuk menyeka keringatnya. Ia terlihat begitu seksi.

            Babak kedua dimulai. Lewat beberapa menit aku tak mendengar lagi teriakan genit yang memanggil-manggil nama Chai. Lebah-lebah genit itu berjalan kompak ke arahku seperti ingin menyerangku, sekitar sembilan orang dengan perawakan yang paling tambun tepat berdiri paling tengah. Benar saja! Mereka sengaja menghampiriku, tatapan mereka menyapu penampilanku dari bawah sampai atas. Aku hanya bisa diam dan tak melawan, bahkan postur tubuhku saja masih kalah dengan si lebah yang berdiri paling tengah. Ia mulai berjalan selangkah lebih maju dari ke delapan temannya yang lain, tanpa basa-basi ia langsung menanyakan sesuatu padaku membuat aku kikuk menjawabnya.

            “Kau menyukai Chai. Bukankah begitu?” Tanya si lebah tambun membuat hatiku menciut. Aku benar-benar takut. “Chai tidak seperti itu, kan?” lanjutnya terus memborbardir hingga lebah-lebah lainnya ikut menyudutkanku dengan kata-kata yang tak sepantasnya mereka katakan. Aku hanya bisa diam, sungguh pengecut, melawan wanita saja aku tak sanggup. Hingga keributan para lebah genit itu membuat pertandingan dihentikan sementara. Aku melihat tangan Chai menjulur untuk membantuku bangun, aku baru sadar aku tersungkur dan jatuh hingga seragamku mencium tanah. Chai berusaha membelaku, dia sempat berhadapan dengan para lebah-lebah genit itu dan membuat mereka diam seribu bahasa sebelum Chai menarik tanganku keluar dari lapangan dan meninggalkan pertandingan. Saat itu lah dimana aku tambah meyakini, Chai adalah salah satu pelindungku –hm- pujaanku. Secepat itukah aku merasa jatuh cinta?

            Chai sempat memarahiku saat setelah kejadian itu usai, ia mengatakan jangan menjadi seorang pecundang yang bisa mereka kalahkan. Terlebih mereka adalah wanita. Tak seharusnya aku kalah dari mereka. Aku berkilah bahwa aku membelanya. Mereka mencerca dengan kata-kata kasar padaku setelah mereka mengetahui kalau hanya aku saja yang memberinya minum dan handuk untuk Chai. Mereka marah, padahal mereka telah menyiapkan seperti apa yang aku berikan pada Chai bahkan lebih. Mereka rela mempertaruhkan pita suara mereka hanya untuk menyebut-nyebut nama Chai di lapangan namun Chai menghiraukan mereka semua, melirik pun tidak. Aku sukses membuat Chai meyakini apa yang aku katakan, ia tidak lagi mengungkit masalah itu lagi. Aku seolah mendapat perlindungan, di sisi lain aku sangat menyesal telah membohonginya. Itu lah pertama kalinya aku berani berbohong padanya. Sampai saat ini, setelah sepuluh tahun sejak kejadian itu aku pun masih berani melakukannya.

(to be continued)

Hurt Your HeartTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang