Pernah suatu malam aku berniat menemani Chai untuk berlatih Muay Thai setelah membeli beberapa pakaian di pasar malam. Aku membelikannya satu potong kaos salah satu kesebelasan liga Inggris kesukaannya, aku pun membeli yang sama persis untukku sendiri. Aku tidak akan bisa melupakan hari ulang tahunnya yang sebelumnya telah aku tandai di kalender jauh-jauh hari. Besok adalah hari ulang tahunnya dan aku tidak ingin melewatkan kesempatan yang berharga itu bersamanya. Bersama Chai yang aku cinta.
Lima belas menit kemudian aku sampai di camp pelatihan yang Chai ikuti. Aku segera duduk di kursi besi panjang yang menghadap langsung pada para trainees, sekitar sepuluh orang berjejer menghadap samsaknya masing-masing dan siap melakukan pukulan dan tendangan. Aku melihat jelas orang ketiga dari kanan, Chai. Ia mengenakan shorts berwarna hitam dengan strip merah di sampingnya, badannya dibiarkan tidak berpakaian seperti atlet Muay Thai lainnya membuat aku harus menelan ludah untuk keberapa kalinya. Sejenak ia membenarkan bandages yang terlepas dari tangannya lalu mengikuti kembali instruksi pelatih dengan melakukan gerakan jab, yaitu pukulan lurus dengan menggunakan tangan kiri disusul dengan gerakan strike, memukul lurus dari arah belakang dengan tangan kanannya. Ia melakukannya berulang-ulang sampai instruksi berhenti terdengar. Chai menyadari keberadaanku, ia melambaikan tangan kanannya, lesung pipinya tertarik mempersilahkan kedatanganku. Aku pun membalasnya.
Setelah menemani Chai berlatih, aku sengaja mengajaknya untuk bermalam di rumahku. Nenek sudah menyiapkan hidangan kejutan ulang tahun untuknya, aku yang memintanya. Chai tak begitu khawatir dengan orangtuanya karena mereka sering pulang kerja hingga larut bahkan sampai tak pulang dengan dalih kepergian mendadak ke luar kota. Ia begitu bahagia ketika nenek mempersilahkannya untuk duduk di meja makan, makanan kesukaanku tersaji diatasnya, aku segera mengambil tempat di samping Chai.
“Jangan sungkan-sungkan. Ini sajian spesial untuk ulang tahunmu dari nenek dan Dao,” kata nenek seraya menyiuk Tom Yum Kungke dalam mangkuk Chai. Chai segera melakukan wai[1] sebagai bentuk terima kasih pada nenek, kalimat khop khun krub[2] keluar dari mulutnya. Tidak ada pembicaraan lebih saat kami bertiga menyantap hidangan, nenek hanya terus menceritakan bagaimana rupaku semasih bayi, nenek bilang aku sangat gemuk waktu itu sampai-sampai nenek tidak bisa membedakan mana aku dan mana sekarung beras, terlalu berlebihan memang. Ya, begitulah nenek selalu ada saja bahan yang membuat cucunya tak bisa menahan tawa.
Setelah menginjak pukul sebelas malam aku meminta nenek untuk menghentikan obrolannya, bukan karena aku bosan bercerita dengan nenek. Dari tadi aku melirik Chai seperti terus berusaha menahan kantuknya, ah, aku tahu ia sangat kelelahan karena Muay Thai tadi. Aku segera mengajak Chai untuk naik ke lantai dua dan mempersilahkan masuk ke dalam kamarku. Ia langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang, hatiku semakin mencelos karena malam ini aku harus berbagi ranjang dengan Chai. Aku langsung menyambar handuk yang menyampir di punggung kursi dan meninggalkan kamar untuk mandi. Aku tidak mau saat tidur ia kecewa dengan bau keringat yang mengoar dari tubuhku.
Saat aku kembali ke kamar, Chai sudah larut dalam tidurnya. Dengan posisinya yang menghadap ke dalam aku bisa melihat wajahnya saat terlelap tidur. Begitu menenangkan. Aku mengambil posisi di sampingnya dan menarik selimut hingga menyatukanku dan Chai. Malam itu adalah pertama kalinya aku berani untuk mengecup kening Chai, aku sematkan kata-kata harapan ulang tahun untuknya dan menyelipkan kotak kado di sampingnya. Chai tidak merespon apapun, hanya saja dengkuran kecilnya terdengar halus menjadi sebuah lullaby pengantar tidur untukku. Aku pegang tangannya dan beberapa menit kemudian tangan itu mengantarkanku masuk ke dalam mimpi yang sangat indah.
Keesokan harinya aku terbangun dengan senyuman Chai yang menjadi penglihatan pertamaku. Ia telah membuka kado yang aku berikan semalam dan memakainya. Kaos kesebelasan Inggris kesukaanya.
“Bagaimana?” Tanyanya seraya memamerkan apa yang sedang ia pakai, menurutku kaos itu terlalu ketat untuk tubuhnya, dadanya terlihat jelas bidang dengan kaos itu tapi aku menyukainya. Aku acungkan jempol padanya tanda nilai seratus untuk Chai. Saat itu juga ia langsung memeluk tubuhku yang masih terbaring di atas ranjang tanpa sungkan. Aku bahagia karena Chai menyukai apa yang aku beri di hari ulang tahunnya. Namun, saat itu aku tidakakan pernah menyangka bahwa hari itu adalah hari dimana pelukan terakhir seorang Chai kepada Dao dan hadiah terakhir dari seorang Dao untuk Chai. Aku tak akan pernah sesekali melupakannya walaupun dalam kenyataannya begitu perih seperti apa yang harus aku terima.
Banyak perbedaan di antara aku dan Chai yang membuat kami saling melengkapi. Tapi hanya ada satu persamaan yang membuat aku takut jika sebuah cinta yang melengkapinya. Dengan tubuhnya yang jangkung Chai kerap sekali menolongku jika tubuhku yang mungil ini tersakiti, kadang aku bertukar PR dengannya, Chaimemiliki kelebihan dalam hitungan dan logika sedangkan aku dalam segi bahasa. Chai memiliki wajah yang tegas sedangkan rupaku terlihat lembut, bahkan teman-temanku sering mengejekku dengan parasku yang tidak seperti mereka pada umumnya. Aku berusaha mengerti akan perbedaan di antara kami berdua, hanya saja aku sering tidak mengerti dan menyalahkan diriku sendiri atas persamaan yang kami punya. Aku dan Chai sama-sama dilahirkan sebagai seorang laki-laki.
Seperti saat di sekolah aku sangat anti menggunakan toilet siswa, apabila aku sudah tidak tahan untuk buang air aku paksakan untuk sembunyi-sembunyi masuk toilet guru, bukan aku tidak mau, aku hanya takut mendapat cercaan untuk kedua kalinya bila siswa-siswa yang lain ada di toilet yang sama. Suatu hari aku pernah menggunakan toilet siswa dan mendapati beberapa siswa sedang memakai urinoir, mereka menghinaku dengan perkataan kalau aku tidak seharusnya ada di toilet pria, aku salah tempat kata mereka bahkan di antara mereka mengejekku dengan sebutan katoey[3]. Kontak fisik sering aku terima, bukan kontak fisik berupa pukulan maupun tendangan melainkan lebih kepada suatu pelecehan. Kadang saat aku memberontak aku sering meludahi mereka bahkan menendang alat vital sebagai suatu pembalasan.
Persahabatan aku dan Chai masih tetap terjaga sampai kelulusan, bahkan kami sering membahas universitas mana yang akan kami masuki. Aku memantapkan diri untuk mengambil jurusan bahasa di Universitas Chiang Mai, aku tercengang saat Chai mengatakan bahwa ia akan mengambil jurusan hukum di Chulalangkorn. Itu artinya Chai akan meninggalkan Chiang Mai dan menetap di Bangkok, meninggalkanku. Aku sempat tak pernah berpikir bahwa kami benar-benar akan berpisah, Chai tidak akan lagi menjadi tetanggaku dan mungkin beberapa tahun ke depan aku akan menyadari bahwa kamar di sebelah tembok kamarku kosong tak berpenghuni. Sampai satu hari dimana kami benar-benar diterima di universitas yang kami minati, aku menangis sejadi-jadinya.
(to be continued)
[1]Wai = Salam hormat orang Thailand (menangkupkan tangan di dada) seperti Namaste dari India.
[2]Khop Khun Krub = Terima Kasih (Pria yang mengucap) Khop Khun Kha (Wanita yang mengucap)
[3]Katoey = Sebutan untuk waria di Thailand (Ladyboy)

KAMU SEDANG MEMBACA
Hurt Your Heart
RomanceHurt Your Heart by Rizky Ho -------------------------------------- Sudah sepuluh tahun rahasia itu tersimpan. Aku hanya ingin bersamanya seperti apa yang aku harapkan, walau memang aku harus bersandiwara. Bukankah itu menyakitkan? Aku pun tertawa me...