514 124 309
                                        

🍃

Aroma sedap malam tercium pekat diembus angin malam. Atap gubuk di seberang danau tampak bercahaya, diterpa sinar rembulan penuh yang menggantung rendah di atasnya.

Riak air danau berkilauan, menciptakan bayangan pohon-pohon seperti menyembunyikan monster menyeramkan.

Seakan waktu berhenti...

Aku dipaksa untuk melihat semua ini. Keabadian yang dipancarkan langit malam. Keabadian yang sunyi dan sepi. Menginginkan penonton untuk atraksi sihir mereka.

Kenapa aku di sini?

Derap langkah kaki terdengar dari kejauhan.

Aku menoleh dari balik bahu.

Rumput ilalang setinggi satu meter bergoyang pelan.

Napasku tertahan.

Oh! Tidak ada siapapun di sana! Arus adrenalin membuat tengkukku meremang.

Sepenuhnya membalikkan tubuh ke arah semak-semak, mataku terbuka lebar. Lebih baik aku menghadapi siapapun itu secara langsung, daripada makhluk itu mengagetkanku.

Menit berlalu.

Aku hanya menatap hampa semak-semak yang bergoyang pelan ditiup angin.

Apa pendengaranku bermasalah?

Kembali menoleh ke arah danau, keningku mengernyit saat melihat jembatan kecil menuju gubuk. Tadi, aku tidak memperhatikan detail dari danau ini. Seumur hidup, aku pertama kali melihat bulan penuh yang cahayanya mampu membuatku lupa.

Lupa akan bahaya.

Di tengah-tengah jembatan, berdiri bayangan yang berpendar. Mengerjapkan mata, aku melihat ada beberapa pendar di sana. Gemerlap hijau, biru, jingga dan indigo berayun, seperti berkobar mengikuti arus energi.

Jantungku tiba-tiba berdetak cepat.

Aku kembali memutar tubuh, meluruskan pandanganku ke arah semak-semak.

Hanya ada bayanganku di atas rumput!

Ada yang aneh... cahaya rembulan dari belakang membuat bayanganku memanjang di atas rumput kering.

Oh... bayangan itu bergerak! Terus memanjang menutupi semak-semak sekitar sepuluh langkah dariku.

Keringat dingin membasahi punggung.

Aku tidak ingin di sini!

Kenapa aku tidak bisa menggerakkan tubuhku? Kenapa aku tidak bisa mengeluarkan suara!

Oh! Air mata menggenang. Aku tidak ingin menangis!

Langkah kaki itu terdengar kembali! Kali ini, langkah itu semakin terdengar nyaring.

Tidak! Jangan mendekat!

Siap untuk pertunjukan?

Aku menutup telinga. Suara siapa itu! Bukan... ini pesan telepati.

Hitung... satu... dua...

Bayangan gelap muncul dari balik ilalang. Makhluk gelap itu berlari kencang, memutuskan aku adalah mangsa buruannya!

Hawa dingin merambat dari ujung kaki, terus ke atas mengisi seluruh bagian tubuhku. Kepalaku berdengung. Dunia berputar menguras sisa adrenalin.

"Sienna!" bisikan dari suara feminin itu bergaung di kepalaku.

Gelap.

"Sienna!!!"

Haaaa!

Aku menarik napas dalam. Udara terasa sesak untuk dihirup. Ruangan berkabut putih menggantikan kegelapan. Jiwaku terombang-ambing, melayang di antara sulur asap tipis. Tercekat, menelan terbukti sulit ketika napasku terasa menyangkut di tenggorokan.

ϲ Ӏ ɑ ղ ժ ҽ Տ Ե í ղ ҽTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang