3

43 5 1
                                    

Selama balapan dimulai Livai memimpin jalannya balapan. Namun, kadang Max menyalip tapi tidak untuk waktu yang lama Livai memimpin lagi. Di persimpangan terakhir Gilang berhasil menyalip motor Livai dan juga Max.

Sedangkan di belakang pembalap yang belum diketahui siapa masih terlihat santai. Seakan menikmati pertunjukan didepannya.
Namun saat garis finis terlihat dengan lihainya dia menyalip tiga motor didepannya. So, sudah pasti tau siapa pemenangnya.

"Yeyyyyy" teriak salah satu di antara mereka.

Mereka yang ada di area balapan kaget karena suara itu adalah suara perempuan.

Bee menginjak kaki Rara karena Rara berteriak sangat keras, "hust, diem goblok" ucapnya.

"Hehe maap Bee kalepasan" ucap Rara

Mereka berdua pun menghampiri Della dan memberi ucapan selamat kepada sahabatnya itu.

"Wew, keren banget tadi lu Dell" ujar Bee

"Ya dong pasti itu, Della" ucap Della

"Pokoknya besok kita party" kata Rara

"Lu party mulu njir" sergah Della, kesal kepada sahabatnya yang satu itu.

"Hahaha, ya dong. Rara is queen party" ucap Rara sombong.

"EDAN" ucap Della dan Bee bersamaan.

"Dah ah, Ra gak like sama kalian" ujar Rara kesal.

Della merasa seperti ada yang mengawasi dirinya. Sedikit membuka kaca helmnya, Della melihat sekitar dan benar saja salah satu dari lawannya tadi tengah memperhatikan dirinya. Della mengenal aura yang dilayangkan orang tersebut. Dengan pasti Della turun dari motornya dan mendekati orang itu.

Sedikit menjinjit Della membisikan sesuatu ke telinga orang itu dan senyum tipis tercipta begitu saja.
Setelah itu Della mengajak sahabatnya untuk pulang.

"Anjirt, lu tadi di bisikin apa Vai sampai senyum gitu" tanya Fajar

"Kepo lu kayak sepongebob" jawab Livai

"Bukannya Dora ya?" Tanya Vall

"Bodo dah bodo serah, capek gue jadi orang paling waras" ujar Rafli dengan sedikit kesal

"Kok ngamok? Situ kesurupan babi celeng ya?" Tanya Attar tanpa beban

"Bacot anjing" seru Rafli kali ini benar-benar kesal

Livai meninggalkan teman-temannya dan berjalan ke arah pemuda lain. "Gimana, seru?" Tanya Livai

"Seru, apalagi liat wajah dia. Gue ngakak" jawab Max dengan kekehan diakhirnya.

Ya, Livai menghampiri Max. Jika di sekolah mereka seperti musuh tapi diluar mereka adalah kawan tapi diwaktu tertentu, contohnya seperti saat ini.

"Gimana rasanya kalah sama cewe?" Tanya Max

"Rasanya, ah mantap" ujar Livai

"Kayak odading" seru Vall

"Bangsat!" Ujar Gilang

"Lu berdua juga kalah kan? So, gimana rasanya?" Tanya Gilang

"Gue udah bilang kalo rasanya ah mantap" ucap Livai

"Kalo gue sih biasa aja. Losing and winning is common in matches" ucap Max ringan

"Dah lah gue mau balik, males gue disini" kata Livai

"Gaes, balik!" Seru Livai

Livai dan teman-temannya pergi dari sirkuit itu. Begitupun dengan Max dkk.

Livai dan teman-temannya menuju markas mereka. Karena malam ini mereka memutuskan untuk tidak pulang.

"Anjir, gue ngakak beneran tadi liat wajahnya si Gilang alias manusia setengah belut" ucap Attar

"Bener asli mukanya pas tau dia kalah komuk banget anjirt" ujar Vall

"Btw, tapi tadi siapa? Keknya si Livai kenal" ucap Attar

"Siapa tadi Vai?" Tanya Rafli

"Kepo lu, mau jadi kembarannya Nobita lu" kata Livai.

"Bangkek lu, yang bener Dora goblok" seru Fajar tidak terima karena Livai selalu asal menyebut nama kartun itu.

"Suka-suka gue lah, mulut-mulut gue napa lu protes" ujar Livai

"Pengen gue ceburin ke empang depan sana" gerutu Fajar

Suasana markas sangat ramai meski hanya beberapa anggota yang kumpul.

***

"Lu tadi liat mukannya si Gilang gak?" Tanya Rama

"Anjir ngakak gue, beneran kesel tapi kayak nahan berak" ujar Sandi dengan tawa dibelakangnya.

"Btw lu kok kagak kesel Max?" Tanya Rama

"Gue, kesel kenapa coba" tanya Max

"Ya kan lu kalah tadi" ucap Rama dan diangguki oleh Sandi

"Selagi gue gak kalah dari Livai, gue mah santai aja" ujar Max

"Tapi gue beneran kepo deh siapa orang tadi" kata Sandi

"Dahlah ngapain ngomongin dia" ujar Max menghentikan pembahasan yang menurutnya tidak penting.

"Dah balik yok" ajak Sandi

"Yeyy...masa udah balik aja sih ntar lah" seru Rama

"Bacot njing, gue mau balik karna nyokap gue dah telpon dari tadi" ujar Sandi

"Yaudah kita balik aja, besok kita kumpul di basecamp kayak biasa" ucap Max

Mereka pun akhirnya pulang ke rumah masing-masing.

Max sampai di depan rumah mewah dengan arsitektur bangunan yang kental dengan gaya Eropa klasik tapi sangat elegan.

Sepi. Satu kata yang menyapa saat Max masuk ke rumah itu. Hal biasa bagi Max dan itu juga alasan dirinya jarang pulang ke rumah. Rumah itu memang besar bahkan mewah tapi sayang hampa. Hanya ada maid dan penjaga yang menjadi penghuni jika Max tidak pulang.

Tidak mau terlalu memikirkan hal yang sudah biasa dirasakan Max memutuskan untuk masuk ke kamarnya. Setelah membersihkan diri Max memilih merebahkan tubuhnya di atas king size.
























-

-

-

-

-

-

-

Gantung ah:v

Ini keluar konteks banget:')

Mon maap ya Dee cuma berani nistain kalian di sini kalo di sana Dee gak berani huhuhu:(

Jangan lupa vote and comen...

Masukan dari kalian bisa jadi cermin buat Dee memperbaiki kekurangan Dee

Suport dari kalian yang bakal jadi motivasi untuk Dee....

Verein für MotorradkinderTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang