Penjara seumur hidup

63 7 0
                                    

Langkah kaki terdengar menggema dari lantai keramik polres yang tak jauh dari tempat kejadian perkara. Di mana kecelakaan yang melibatkan orang penting di negeri ini.

Kedatangan keluarga Anteras di kantor polisi tersebut sudah disambut oleh Pak Robby selaku pengacara dari pihak keluarga Aldric yang akan menangani kasus ini.

Di mana Pak Robby yang sudah lebih dulu datang dan telah melakukan beberapa pembicaan dengan pihak yang berwenang.

"Pak Robby bagaimana keadaan putra saya?!" tanya Tuan Adrian dengan raut kecemasan di wajahnya.

"Iya di mana putra kami Pak?" timpal Nyonya Renata.

"Tuan dan Nyonya tenang dulu. Tuan muda sedang menjalani pemeriksaan di dalam dan sekarang Tuan muda dalam kondisi baik-baik saja!" jelas Pak Robby.

Nyonya Renata selaku sang Ibu menghembuskan nafas lega setelah mendengar kabar bahwa putranya dalam keadaan baik-baik saja, sehat wal afiat tanpa kekurangan satu apapun.

"Bagaimana kejadian sebenarnya Pak? Boleh Bapak jelaskan kronologinya sekarang!" pinta Tuan Adrian. Sedangkan Nyonya Renata hanya diam menyimak.

"Silahkan duduk dulu Tuan dan Nyonya," ucap Pak Robby sembari menunjuk sofa yang berada tak jauh dari mereka.

Belum sempat melangkah menuju sofa, suara seseorang menginterupsi pendengaran ketiga orang tersebut. Dialah petinggi kepolisian yang baru saja hadir setelah mendapat kabar bahwa ada kecelakaan yang melibatkan orang berpengaruh di negeri ini.

Tentu saja dengan harta kekayaan yang Tuan Adrian miliki membuatnya mendapatkan perlakuan khusus dari semua kalangan. Bahkan petinggi kepolisian saja sampai rela menyempatkan waktunya hanya untuk datang ke polres guna ikut menangani masalah yang menimpa putranya.

"Tuan Adrian maaf saya terlambat datang, karena saya baru saja mendapat kabar ini dari anak buah saya," ucap komandan polisi yang bernama Umar itu.

"Tidak apa-apa Pak, saya juga baru saja datang!" jawab Tuan Adrian.

"Sebaiknya kita bicarakan masalah ini di dalam saja!" usul komandan Umar.

"Saya rasa itu ide yang bagus!" jawab Tuan Adrian.

"Baiklah kalo begitu silahkan!"

Sebuah tempat khusus telah disiapkan oleh kapolres setempat guna kenyamanan Tuan Adrian berserta istri yang datang untuk mendampingi sang putra menjalankan proses hukum.

Walaupun bisa saja Tuan Adrian menggunakan uang dan kekuasaan-nya untuk menutup kasus ini agar tidak merembet kemana-mana apalagi ini berurusan dengan masa depan putra semata wayangnya.

"Saya telah mendapat pengakuan dari Tuan muda beberapa saat yang lalu bahwa Tuan muda memang mengakui telah menabrak seseorang yang tiba-tiba melintas di depan mobilnya. Namun menurut Tuan muda, beliau tidak mengetahui jenis kelamin korban karena kejadian itu terjadi dengan begitu cepat," ungkap Pak Robby selaku pengacara keluarga Anteras.

"Benar, keterangan yang sama juga Tuan muda berikan kepada kami sebagai pihak penyidik tapi yang jadi masalahnya di sini si korban adalah wanita hamil tujuh bulan dan kini telah meninggal dunia dalam perjalanan ke rumah sakit. Dan kini suami dari korban sudah datang untuk mengajukan tuntutan kepada si penabrak istrinya dengan hukuman penjara seumur hidup!" ucap Pak kapolres membenarkan.

"Tidak ...!" Nyonya Renata histeris mendengar tuntutan yang akan diberikan kepada putra tunggalnya tersebut.

Ibu mana yang tega melihat putranya dihukum seumur hidup. Kalau seandainya bisa ditukar dengan nyawanya Nyonya Renata bersedia melakukannya demi kebebasan sang putra.

"Tenang Ma tenang!" ucap Tuan Adrian menenangkan istrinya, tangannya tampak mengusap lembut bahu wanita yang dicintainya itu.

"Tapi Pa, Mama nggak rela Aldric dipenjara seumur hidup. Mama nggak bisa! Hiks ... hiks!" tangis Nyonya Renata pun pecah membayangkan nasib sang putra ke depannya.

"Apa tidak ada solusi lain? Dengan cara kekeluargaan mungkin?!" harap Tuan Adrian.

"Kami akan mengusahakannya Tuan, semaksimal mungkin agar Tuan muda bisa terbebas dari jeratan hukum. Apalagi Tuan muda tidak sengaja melakukannya karena si korban yang sembarangan menyeberang jalan," ucap Pak Robby.

"Benar Tuan, tim kami di lapangan sedang mengumpulkan saksi dan memeriksa CCTV yang ada di tempat kejadian. Semoga kasus ini segera terselesaikan!" saut Bapak kapolres.

"Ya semoga masalah ini cepat selesai. Tapi bagaimana pun juga kita harus menawarkan perdamaian kepada keluarga korban dengan jalan kekeluargaan," ucap komandan Umar.

"Ya saya siap memberikan apapun permintaan mereka asal mereka mau mencabut tuntutan kepada putra saya!" jawab Tuan Adrian.

"Baiklah saya akan berusaha untuk bernegosiasi kepada suami korban!" kata Pak Robby.

"Apakah sekarang saya sudah diperbolehkan untuk melihat putra saya?" tanya Nyonya Renata dengan penuh harap.

"Silahkan Nyonya, anak buah saya yang akan mengantar anda bertemu dengan Tuan muda!" jawab Bapak kapolres.

"Terima kasih," ucap Tuan Adrian mewakili istrinya.

Hati Nyonya Renata serasa teriris melihat wajah kuyuh sang putra. Kelihatan sekali jika putra kebanggaannya itu kelelahan. Bagaimana tidak baru sehari menginjakkan kaki di negaranya sendiri, dirinya malah terbelit masalah serius yang menyebabkab orang lain kehilangan nyawanya. Apalagi setelah semalam suntuk menghabiskan waktu dengan berpesta di salah satu tempat hiburan malam kota ini. Lengkap sudah penderitaan Aldric saat ini.

Namun, ia sama sekali tidak mau menunjukkan rasa lelahnya kepada sang Mama karena takut membuat wanita yang masih cantik di usianya itu menjadi khawatir dan sedih.

"Kamu tidak apa-apa kan Sayang?!" tanya Nyonya Renata seraya merangkum wajah sang putra dengan kedua tangannya.

Wanita cantik itu tak berhenti memberikan ciuman di seluruh wajah sang putra mulai dari kening, kedua mata, hidung dan pipi. Dan itupun diulanginya beberapa kali membuat Aldric menjadi geli sendiri akibat menjadi tontonan semua anggota polisi yang berada di ruangan itu.

Astaga Mama, wajah Aldric bisa bau jigong ini, ucapnya dalam hati.

"Ma, Al nggak kenapa-napa. Mama jangan sedih lagi karena tidak akan terjadi apa-apa sama Al. Percaya deh Ma!" ucap Aldric meyakinkan.

"Nggak mau percaya, musrik!" jawab Nyonya Renata cepat.

Astaga ini emak-emak, lagi situasi kayak gini masih sempet-sempetnya bercanda!

"Pokoknya Mama nggak mau tahu kamu harus pulang bareng Mama, sekarang!" keukeh Nyonya Renata.

"Nggak bisa gitu donk Ma. Al harus koperatif agar masalah ini cepet selesai dan kita bisa kumpul lagi di rumah!" bujuk Aldric.

"Mama nggak nyangkah Sayang. Kamu bisa sedewasa ini. Mama seneng dengernya!"

"Lah emang anak Mama udah dewasa. Mama aja yang sering melupakan kenyataan dengan terus menganggap Al anak kecil terus," celetuk Tuan Adrian.

"Iya Pa, itu Mama lakukan biar Al terus menjadi putra kecil Mama. Rasanya baru kemaren kita nyunatin Al, eh sekarang udah besar aja dia!" jawab Nyonya Renata.

"Kalo Al belum gede, emang Mama mau nyunatin dia lagi apa?" tanya Tuan Adrian asal.

Aldric yang mendengar obrolan unfaedah dari kedua orang tuanya pun bergidik ngeri membayangkan dirinya disunat dua kali.

Buntung donk!

Sedangkan para anggota polisi yang juga berada di tempat yang sama dengan keluarga itu pun mati-matian menahan tawa.

"Nggak usah ngomongin sunat dua kali. Papa aja nangis pas kejepit resleting celana!"

Tuan Adrian yang mendengar sang istri membuka aibnya di depan semua orang hanya mampu mengumpati istrinya itu dalam hati dengan wajah memerah menahan malu.

Tenggelamkan saja abang ke dalam rawa-rawa dek!

Anak Sultan [DREAME/INNOVEL]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang