3. Perjalanan Pertama

12 1 0
                                        

SURYADINI : Perawan yang Perkasa

  -- Sudut Pandang Pengarang --

Dini hari, saat sebelum fajar menyingsing, Sapong sudah duduk diatas kudanya, dibelakang Sapong ada kereta kuda dimana ada seseorang dengan pakaian wanita berwarna emas di sana bersama beberapa penjaga. Mereka berjalan perlahan meninggalkan gubuk tempat tinggal Suryadini dengan Ibunya.

Sapong menghentikan kudanya ketika melintasi markas pasukan keamanan desa setempat, disana sudah berdiri dengan tegap Sudam nenanti kedatangan rombongan. Jarak dari rumah Suryadini hingga markas ini sekitar tiga jam dengan berjalan kaki.

Sapong turun dari kudanya, ia melirik ke kereta kuda melihat Suryadini sedang duduk dan memainkan wayang goleknya disana. Sapong menghampiri Sudam, lalu di sambut dengan hormat oleh Sudam.

"Apakah sudah ada hasil?" Tanya Sapong.
"Masih butuh waktu untuk membuka tabirnya Tuan, ini tidak bisa sembarangan karena ada dugaan mereka difitnah," lapor Sudam.

"Baiklah, kita memang tidak bisa gegabah, jangan sampai kita menghukum yang tidak bersalah, aku sudah mengirimkan pesan agar mereka mengirim beberapa pasukan tambahan kesini untuk mengusut tuntas yang terjadi disini," tegas Sapong.
"Terimakasih Tuan, atas perhatiannya," ungkap Sudam.

"Dan satu lagi, ada janda bernama Dareni, dia Kakak Iparku, tolong bantu aku untuk menjaganya, ia tinggal sendirian sekarang," Sapong menepuk pundak Sudam.
"Baik Tuan,"
"Aku mau ke dalam dulu sebentar, kau tunggu disini, jaga yang di dalam sana," Sapong menunjuk kereta kuda yang ditumpangi Suryadini.

Sedari tadi ada rasa penasaran yang menggelitik Sudam, kemudian diam-diam dia mencuri pandang untuk melihat sosok wanita di dalam kereta kuda tersebut, namun situasi terlalu remang dan kereta itu cukup tertutup, mungkin agar yang di dalam tidak merasa kedinginan.

*PLUK

Tiba-tiba sebuah wayang golek terjatuh dari dalam kereta kuda, Sudam pun seketika mengambil wayang yang jatuh ke tanah itu dan memberikannya kembali kepada sang pemilik yang berada di dalam kereta kuda, tentu setelah ia bersihkan sebelumnya.

Awalnya Sudam hanya menunduk, selain untuk kesopanan ia juga tidak berani untuk melihat seseorang yang pastinya sangat dihormati itu.

"Terimakasih," Seru sebuah suara orang yang mengambil wayang golek itu dari tangan Sudam.

Entah kenapa, jantung Sudam seketika berdetak kencang hanya dengan mendengar suara itu, membuat Sudam semakin takut untuk memandangnya.

Benarkah orang itu masih satu desa dengannya? Kenapa suaranya begitu asing padahal dia hampir sudah bertemu dengan semua warga di desanya, pikir Sudam.

"Apakah itu Bagas Rama?" Sudam seketika bertanya.
"Maafkan hamba yang kurang sopan santun ini, sekali lagi maaf," Sudam membatalkan pertanyaannya dan hendak menjauh dari kereta kuda itu.

"Benar, dia Bagas Rama," Suryadini memandangi wayang goleknya.
"Dia adalah pahlawan bagi negerinya, dia memerintah dengan kelembutan dan penuh cinta," Terang Suryadini.

"Apa kau tahu tentangnya?" Imbuh Suryadini.
"Bapak ku sering menceritakan nya, dia sangat menyukai tokoh Bagas Rama, bahkan adik ku pun ia beri nama Bagas Rama," Jawab Sudam antusias.
"Adik mu pasti setampan dan seberani Bagas Rama,"
"Dia seorang pelajar, dia memang anak yang sangat pintar," Sudam menerangkan tentang adiknya dengan penuh bangga.

"Kau ketua keamanan di desa kami bukan? Aku pernah melihatmu satu kali di pasar, kau sangat ramah, darimana asalmu?" Tanya Suryadini.
"Sebelumnya maaf Nyonya, saya tidak pantas untuk pujian itu," Seketika nada bicara Sudam berubah, ada perasaan bahagia bercampur takut.
"Saya berasal dari kota, keluarga kami semua tinggal disana, saya di pindah tugaskan sekitar satu tahun lalu," imbuh Sudam.

SURYADINICerita yang bikin terobses. Temukan sekarang