SURYADINI : Perawan yang Perkasa
---Sudut Pandang Suryadini---
Mereka membawa aku dan laki-laki bernama Aryana itu kedalam tandu yang berbeda, begitu lama perjalanan mungkin sampai setengah hari, mereka tidak berhenti sejenak pun, mungkin karena Aryana sedang dalam masa kritis, sementara aku pun terus merasa gelisah karena belum mendapatkan kabar apapun tentang Mang Sapong.
Aku sadar, mereka tidak akan membiarkan aku pergi terutama lelaki yang terlihat lebih muda dariku itu yang permainan pedangnya sungguh luar biasa. Aku bersama dengan Aryana saat dia terluka, tentu mereka butuh penjelasanku, meski aku pun tak tahu harus menjelaskan apa.
Aku sama sekali tidak bergerak dan tak dapat berpikir apapun, hanya diam didalam tandu dengan perasaan was-was, entah akan dibawa kemana diriku sebenarnya.
Aku kemudian meraba kembali bajuku yang robek di dekat bahu, bekas tusukan pedang pikirku tapi semakin bertambah heran karena tidak ada luka disana.
Dan tandupun berhenti, seseorang membuka kan tirainya, aku bisa melihat sinar mata hari, lalu aku berjalan keluar. Tidak banyak orang disana, hanya beberapa pelayan wanita yang terlihat seumuranku, dan enam pelayan pria yang membawakan tanduku. Mereka terlihat memberikan hormat mereka untuk ku.
"Nyonya, selamat datang di Rumah Ageung," Seru mereka semua.
Aku terkejut setelah mendengar kata "Rumah Ageung", sontak kepala ku berputar melihat-lihat sekitar ku, dari tempatku berdiri aku bisa melihat sebuah rumah yang atapnya terlihat sangat tinggi dan besar, apakah aku sudah sampai di tujuanku?
"Mari," Para pelayan wanita menunjukan jalan kepadaku. Menuju salah satu pintu yang masih tertutup rapat.
Rupanya, para pelayan laki-laki tidak di izinkan untuk memasuki area tersebut, aku terus saja mengikuti arahan dari ke enam pelayan wanita itu meski dengan perasaan yang masih tak karuan, karena aku belum mengetahui kabar dari mamang ku.
Disana berjejer banyak rumah, dengan di tengahnya sebuah kebun bunga. Rasanya kaki ku mulai lemas, mengingat mungkin ajal ku akan semakin dekat, bagaimana aku bisa keluar dari permasalahan ini, namun meski begitu hati kecilku berkata agar aku terus maju dan menghadapi apa yang harus aku hadapi.
"Silahkan, Nyonya," Kami telah sampai di depan salah satu rumah.
Perlahan aku melangkahkan kakiku, masuk kedalam rumah yang pintunya sudah di bukakan oleh dua pelayan wanita. Berat rasanya untuk masuk kedalamnya, seketika nafasku seakan tercekik.
"Nyonya, air untuk mandi sudah siap,"
"Aku akan mandi sendiri," Jawabku pelan tak lupa ku bubuhkan senyum kepada mereka yang sudah sangat ramah kepadaku.
Mereka tidak langsung menjawabnya, saling menatap satu sama lain dengan tatapan penuh kebingungan, membuatku seketika merasa tidak nyaman dengan tatapan itu.
"Ada apa?" Tanyaku.
Mereka semua seketika bersimpuh dan menyatukan kedua tangan mereka untuk memohon, "Nyonya, maafkan kami. Ampuni kami yang tidak layak untuk melayani anda Nyonya, kami pantas untuk dihukum," dari wajah mereka terlihat sangat ketakutan.
"Ah, tidak. Maksudku tidak seperti itu, tapi...." Aku juga panik dan tak dapat melanjutkan kalimatku, aku hanya menutupi dadaku dengan kedua tanganku.
"Aku tidak biasa untuk mandi beramai-ramai, mohon pengertiannya, aku masih segan dan butuh waktu untuk terbiasa," Seru ku, membuat mereka mengangkat kepala dan menatapku keheranan.
"Aku bukan berasal dari keturunan bangsawan, bahkan juraganpun bukan, aku hanya gadis desa biasa," Gumamku lirih.
"Nyonya, jangan katakan hal itu, anda sudah menjadi bangsawan sejak anda lahir, anda sudah terpilih oleh Nyai Castem, tolong jangan berbicara hal buruk seperti itu," Seru salah satu dari pelayan wanita.
"Ah, maaf. Sepertinya perkataanku salah, aku hanya ingin mengatakan, aku memiliki kebiasaan yang berbeda dan butuh waktu untuk terbiasa," Seruku. Aku harap mereka semua bisa menerima alasanku.
KAMU SEDANG MEMBACA
SURYADINI
FantasySeorang anak laki-laki yang takdirnya telah di tentukan oleh orang lain membuat dirinya terpaksa menjalani hidup sebagai seorang anak perempuan.
