--- Sudut Pandang Winata ---
"Aku akan merobek mulut kotormu itu," Bagas Rama menghunuskan pedangnya kearah wajahku.
Pedangnya melayang tepat di depan mata, aku tersenyum ketika tangan kiriku berhasil memegang pergelangan tangan kanan Bagas Rama yang tengah memegang pedang, Bagas Rama membuka lebar-lebar matanya, ia seolah tak percaya bahwa aku bisa melakukan hal tersebut.
KRETAAAK
Aku mematahkan pergelangan tangan Bagas Rama dengan tanganku, membuat dia tak lagi sanggup memegang bilah pedangnya dan terjatuh hingga menimpulkan bunyi yang cukup nyari seketika, sungguh miris melihat Bagas Rama di lucuti di depan anak buahnya, oleh seorang wanita.
Tanpa ampun, aku menghajar semua pasukan yang menyerangku disana tak terkecuali Bagas Rama, anak itu menjengkelkan. Aku belum mengenalnya tapi perasaan Suryadini mengatakan demikian, jadi aku sangat menikmati saat aku memukuki Bagas Rama.
"Cukup," Sapong menahan tanganku yang ingin mengabisi Bagas Rama yang sudah babak belur.
"Dia bisa tewas," sambung Sapong.
"Maaf, aku terbawa suasana, lagipula sepertinya Suryadini sangat ingin melakukan hal ini, andai dia bisa melihat apa yang terjadi sekarang, dia akan sangat berterimakasih kepadaku," Aku memijat pergelangan tanganku.
"Aku tidak memanggilmu untuk ini," Seru Sapong.
"Jadi apa yang akan kita lakukan sekarang?" Aku benar-benar merasa penasaran.
"Aku meminta kepadamu agar tidak muncul dulu untuk beberapa hari, lagi pula Kepala Adat baru akan muncul sekitar tiga hari lagi, aku khawatir mereka akan menyelidiki Suryadini, biarkan dia tetap tidak mengetahui apapun," Jelas Sapong.
"Baiklah, aku mengerti," Aku meraih tangan Sapong, menggenggam nya erat.
"Berhati-hatilah," Imbuh ku.
GREEEEBB
Sapong memeluk ku, akhirnya aku bisa merasakan kembali hangat tubuhnya, ia memberi sedikit belaian di kepalaku, Tatang, kutuklah aku karena sudah menyukai Adik mu juga.
Setelah nya aku segera berbalik arah untuk kembali ke rumah ku, aku perhatikan para pelayanku masih menunggu di depan gerbang kediaman Aryana. Mereka sepertinya ditahan dan tidak diperbolehkan masuk.
"Ekhem, permisi saya ingin menjemput keenam pelayan saya," seru ku terhadap salah satu penjagan.
"Nyonya, darimana saja anda, kami mengkhawatirkan mu Nyonya," seru Salsih.
"Apakah tidak apa-apa jika kami kembali sekarang?" Tanyaku.
"Silahkan," Seru penjaga tersebut.
Aku berjalan menyusuri jalan setapak di iringi ke enam pelayan wanitaku, aku berjalan dengan sangat tegap, lalu aku berhenti tepat di depan pintu masuk ke rumah terbesar yang menjadi pusat Rumah Ageung. Aku menghela nafas merangkai kembali potongan kenangan yang ada saat aku bermain bersama Sudam.
"Nyonya, waktu sudah semakin gelap, kita sudah harus segera sampai di rumah, tidak baik---" Aku sudah pergi sebelum Salsih menyelesaikan kalimatnya, ekor mataku bisa melihat bahwa Salsih merasa tidak nyaman dengan itu, aku memang tidak ingin untuk terlalu akrab dengan pelayan.
Kemarin malam, saat Suryadini tak dapat tidur aku pun terbangun, merasa sedikit terkejut melihat banyaknya pelayan yang berjaga di rumahku, seperti nya Suryadini benar-benar dijadikan tawanan.
Tapi aku sudah sampai di Rumah Ageung, kurang sopan rasanya jika tidak menyapa teman lama, akupun berhsil menyelinap pergi dari rumah, berjalan dari satu genteng ke genteng lainnya, aku menjadi pendekar merah.
Berpakaian serba merah, memakai caping merah juga penutup wajah berwana merah. Aku menari dibawah rembulan, untuk mendatangi seorang teman, konon katanya dia sekarang sudah menjadi Gubernur, dari seorang penjaga kuda sekarang sudah Gubernur, dia mendapatkan nya dengan cara berkhianat kepadaku dan juga Tatang.
KAMU SEDANG MEMBACA
SURYADINI
FantasíaSeorang anak laki-laki yang takdirnya telah di tentukan oleh orang lain membuat dirinya terpaksa menjalani hidup sebagai seorang anak perempuan.
