Note Penulis:
Aku baru download wp dari hp, banyak yang bilang kalo nulis suka error. Nah aku mensiasati supaya tulisanku gak tiba-tiba hilang. Aku akan nulis jadi beberapa bagian, misalnya 1 Bab jadi 2-4 bagian. Jadi, kalo kalian baca 01.01 berarti Bab 1 Bagian 1.
Segitu aja, enjoy reading guys :)
###
"Lian bangun nak!!!" Seseorang mengetuk pintu kamarku keras dan tanpa henti sejak lima menit yang lalu. Aku hanya membalikan tubuh sambil menutupi telingaku dengan bantal.
Bukannya menghilang, suara ketukan itu sekarang disertai omelan tentang sulitnya memiliki anak gadis seperti Lian. Yah aku tidak peduli, toh tidak mungkin anaknya bangun kalau yang ia ketuk bukan pintu kamar anaknya. Aku mengusap wajahku kasar, suara itu tidak segera menghilang justru ketukan yang ia tersengar semakin keras. Lagi pula kenapa dia hanya mengetuk pintu, padahal kamar kost ku memiliki bel ruangan.
Aku meraba nakas disamping kasurku mencari kacamata, nihil. Padahal semalam dengan jelas aku meletakannya di nakas bersama buku -aneh- itu. Aku menyerah, ku bangkitkan tubuh malas ini setengah tak rela. Mataku terbuka perlahan mencari titik fokus, tapi ada yang aneh dari apa yang ku lihat pagi ini.
Tatanan kamar.
Mataku tidak buram.
Apa ini keajaiban ataukah aku masih di alam mimpi?
Aku tersadar ketika ketukan itu terasa semakin menyebalkan. Mungkin ini masih di alam mimpi, tapi dalam mimpi sekalipun kenapa aku harus bangun pagi. Aku ingin menikmati mimpiku dengan tidur nyenyak. Tapi sepertinya ketukan itu tidak akan berakhir jika aku hanya kembali menjatuhkan diri ke kasur. Bangkit dan melangkah gontai aku menghampiri pintu.
Ceklek!
"Maaf bu sepertinya anda salah kamar, saya bukan Li--" Kalimat ku terpotong saat wanita berusia empat puluh tahunan dihadapanku tiba-tiba menarikku keluar kamar.
"Salah kamar! Memangnya kakakmu yang lain ada yang masih tinggal disini? Kamu itu satu-satunya bayi yang harus mama urus Lian!" wanita itu menarikku melewati dapur dan berhenti di depan kamar mandi.
"Tapi saya bukan Lian bu." Aku menatapnya bingung dan ia balas memelototiku gemas. Sambil mengambil handuk dan menyerahkannya padaku ia mendorongku masuk ke kamar mandi.
"Mama gak mau bercanda, sebentar lagi Pak Asep jemput kamu ke sekolah!" Aku rasa ini mimpi yang sangat aneh hingga menyentuh nyata.
"Kalo aku mandi, pasti pas bangun ngompol nih." Gumamku sendiri. "Tapi kalo ngompol, biasanya langsung bangun. Dicoba aja kali ya." Lanjutku sambil membasahi tubuh.
Selesai mandi, aku sama sekali tidak terbangun dari mimpi ini. Aku justru mencium bau masakan yang enak dari arah dapur. Kaki ku melangkah ke sumber bau, tiba-tiba langkahku terhenti di depan cermin wastafel.
Cantik.
Aku memuji diriku sendiri yang terpantul di cermin, meski wajah ini bukan milikku. Kulit putih susu, mata coklat terang yang bulat, serta rambut coklat bergelombang.
Tunggu, ini bukan wajahku, ini bukan kamar dan rumahku, lalu wanita tadi bukan ibuku. Dalam mimpi, segala hal bisa terjadi. Tetapi ini terasa terlalu nyata dan hidup.
Aku mencubit diriku sendiri "Awh! sakit banget kaya beneran"
"Kamu ngapain masih berdiri disana? ayo sarapan!" Wanita yang sejak tadi menyebut dirinya sebagai 'Mama' ku mulai merapikan makanan diatas meja.
Aku berjalan ke tengah ruangan sambil mencari sesuatu di dinding. Jam, menurut artikel yang ku baca didalam mimpi kita tidak bisa menemukan jam. Hingga aku menangkap sesuatu di samping kulkas, hingga kesadaranku muncul.
Aku tidak sedang bermimpi.
Mulai hari ini jadilah diriku, kamu akan memahami rasanya gagal mendapatkan kebahagiaan yang seharusnya kamu genggam.
Semalam, Aliana mengutukku.
###
01.10.21
TBC
Next 01.02
KAMU SEDANG MEMBACA
Isn't Sweet
RomanceIsn't Sweet. Buku yang menarik Diandra sang penulis ke dalam cerita, menjadikannya salah satu pemeran dalam fantasi yang ia tulis sendiri. Semuanya akan baik-baik saja jika Diandra menjadi pemeran figuran yang tidak memiliki eksistensi apapun. Masal...
