Aku melangkah menyusuri koridor SMA Nuansa, sekolah yang bangun melalui tulisan dalam novel. Semua detail yang ada benar-benar sesuai dengan imajinasiku. Hanya saja tokoh penting dalam cerita ini belum juga muncul meski setengah hari telah berlalu.
Alex.
Nama yang harus ku hindari, penyebab kematian Aliana. Meskipun aku menggambarkan lelaki itu dengan gambaran paling sempurna secara fisik, dia adalah racun yang merusak mental pemeran utama.Meskipun aku bukan Aliana, aku tidak yakin akan kuat menghadapi lelaki itu.
Dalam cerita asli, Aliana dan Alex bertemu di arena karate saat seleksi peserta lomba untuk mewakili SMA mereka. Aku lupa kapan tepatnya saat itu terjadi, tapi aku akan menghindari arena karate. Aku juga harus mencari tahu rupa Alex di dunia ini, agar bisa menghindarinya.
Kaki ku melangkah ke perpustakaan, mencari album foto di buku tahunan siswa. Setelah aku menemukannya, aku mencari nama Alex di daftar kelasnya. Ketemu, tapi wajahnya nihil.
Lelaki misterius itu membiarkan fotonya di buku ini kosong, dia hanya menuliskan kalimat 'Tidak perlu repot mengingatku'.
Aku merinding.
Tindakanku saat ini berada di luar alur novel, album foto ini tidak pernah ada di dalam cerita. Semua hal yang terjadi sampai saat ini berada di luar dugaanku. Semua tokoh bergerak layaknya manusia yang memiliki kehidupan mereka sendiri tanpa alurku.
###
"Lian! kemana saja kamu?" Seorang gadis dengan kepang rambut menghampiriku.
"Hm? Silvia?" aku mencoba menerka nama tokih satu ini.
"Apa? kenapa kamu menatapku seperti orang bodoh?" gadis itu memperbaiki letak kacamatanya.
"Kapan seleksi lomba karate dilaksanakan?" aku mencoba mencari topik lain agar sahabat Aliana ini tidak menyadari perubahanku -perubahan Aliana yang ku gantikan-.
"Heum, entahlah aku gak ikut rapat OSIS kemarin. Tapi mungkin sekitar dua minggu lagi. Kenapa kamu menanyakannya?" Silvia menatapku curiga.
"Aku dengar banyak cogan di klub karate. Acara hari itu pasti ramai dan kamu akan jadi sangat sibuk." Aku beralasan.
"Lalu?" Silvia mengangkat salah satu alisnya.
"Kita sudah lama gak jalan bareng, kalo kamu sibuk aku mainnya sama siapa?" itu kenyataan. Aliana adalah anak rumahan, Silvia adalah satu-satunya teman yang dekat dengan Lian. Sementara Silvia adalah seorang anak yang aktif berorganisasi dan mengikuti lomba, relasi dan kesibukannya berbanding terbalik dengan Aliana.
"Hmm, ah pekan ini aku libur. Guru les piano ku mengambil cuti pernikahan. Gimana kalo kita jalan-jalan?" Aku mengangguk setuju, toh biasanya memang Silvia lah yang menentukan kapan mereka akan pergi bersama.
Setelah itu kami membicarakan banyak hal, lalu aku menyadari bahwa meskipun aku tidak merinci bagaimana awal Aliana dan Silvia bersahabat, jika mereka hidup di dunia nyata ini pasti tetap terjadi. Silvia adalah anak yang sangat ceria, manis, rapi, tersusun, tidak kaku, ramah, dan membuat siapapun merasa nyaman dengannya. Sementara Aliana lebih pendiam dan pemerhati yang baik, setelah ku pikirkan lagi, Aliana sejak awal adalah perempuan yang lemah dan mudah tersakiti.
Sungguh jahat alur yang ku buat untuk gadis ini -untuk diriku sendiri yang ada dalam tubuhnya juga-.
Aku merasa seseorang sedang memperhatikanku, mataku mencoba menelusuri seisi kantin. Aku melihat gadis dengan sweeter dan kupluk hitam menatapku, hingga ia sadar dan berbalik menjauh.
Tunggu, aku mengenali gadis itu.
Aku bangkit dan berusaha mengejar gadis itu. Sekilas, Silvia tampak terkejut sebelum akhirnya ikut mengejarku. Di lorong terakhir menuju arena karate, aku merasakan firasat buruk. Gadis itu melewati segerombolan siswa lelaki dari arah berlawanan, lalu aku berhenti karena melihat wajah yang tak asing.
Alex, tokoh utamaku.
Antara ingin menghindarinya atau mengejar gadis misterus itu, aku memilih mengejar gadis itu. Toh Alex tidak akan melakukan hal yang ku khawatirkan. Karena ini bukan waktu yang sesuai untuk pertemuan pertama kami.
Aku melewati gerombolan siswa itu, secepat mungkin. Lalu aku melihat gadis itu di ujung koridor melepas penutup kepalanya. Wajah itu, wajahku. Lalu ia bergumam dengan mulutnya 'Diandra'.
"Hei!" aku terkejut, saat menoleh aku mendapati Silvia-lah yang menepuk bahu ku dan kini ia berada disampingku.
Saat kembali menatap ke arah gadis itu, ia menghilang.
"Kamu ngejar apa sih?" Silvia menatapku bingung.
"Gadis sweeter hitam tadi, kemana Sil?" pertanyaanku membuat Silvia mengerjap.
"Dari tadi disini cuma ada kita."
Oh baiklah, ini mulai menyeramkan. Mungkin aku sudah mulai gila karena berhalusinasi melihat diriku sendiri.
Tunggu, kalau aku berada dalam tubuh Aliana apakah gadis tadi adalah Aliana yang berada di tubuhku?
Bagaimana bisa dia menyebrangi dimensi dengan tubuh itu. Bukankah itu berarti ada gerbang untuk membawaku pulang?
###
02.10.21
TBC
Next 02.01
KAMU SEDANG MEMBACA
Isn't Sweet
RomanceIsn't Sweet. Buku yang menarik Diandra sang penulis ke dalam cerita, menjadikannya salah satu pemeran dalam fantasi yang ia tulis sendiri. Semuanya akan baik-baik saja jika Diandra menjadi pemeran figuran yang tidak memiliki eksistensi apapun. Masal...
