Pagi ini aku melihat Silvia meletakan surat dispensasi di meja guru sebelum menghampiriku dan berkata "Aku jadi panitia seleksi lomba karate, kalo ada absen bilangin ya aku dispen!" Aku hanya mengangguk meng-iyakan.
Jika sesuai alur novel yang ku buat, sampai siang nanti beberapa guru tidak akan masuk kelas karena menjadi pembina olimpiade ataupun menjadi tim penyeleksi calon peserta lomba. Karena itu, di alur asli Aliana memutuskan untuk kabur dari kelas dan menyusul Silvia. Saat itulah pertemuan pertama antara Aliana dan Alex.
Aku menutup komik di hadapanku lalu meletakan kepala di atas meja, bersiap untuk tidur. Beberapa menit kemudian bel masuk berbunyi. Teman sekelasku segera menempati kursi masing-masing, mungkin guru pertama pagi ini tidak sibuk sehingga kami harus belajar seperti biasa.
###
Setelah bel istirahat makan siang berbunyi, aku tetap berada di kelas. Tidak ada satupun orang yang mengajakku keluar, pertemanan Aliana sangat sempit. Gadis ini bahkan tidak memiliki teman selain Silvia. Hmm, karena sekarang aku yang hidup dalam tubuh ini, apakah aku boleh mencari teman?
Aku akan menbuat kebahagiaanku sendiri, Aliana, aku akan berteman dengan orang lain dan hidup bahagia. Tekadku.
Aku menatap sekeliling, disini tidak benar-benar sepi. Selain aku, ada seorang gadis yang sedang mencatat sesuatu di bukunya. Lalu didekat pintu ada gerombolan orang lelaki yang sepertinya sedang mabar game online.
Aku memutuskan untuk menghampiri gadis yang sedang mencatat di mejanya. "Hei!" sapaku tenang dan ramah.
"Emmm, hai Lian." Dia terlihat kaku dan canggung saat berbicara denganku.
"Nyatet apa... Put?" aku membaca nametag nya, sepertinya gadis ini pemeran figuran karena aku tidak pernah memberi nama Putri pada tokoh utamaku.
"Tugas, hm aku gak konsen kalo ngerjain di rumah." Putri masih terlihat canggung saat menjawabku. Sepertinya dia adalah tipe pendiam dan pemalu.
"Oh gitu, aku ngeganggu kamu nggak?" aku masih mencoba basa-basi, padahal aku tahu pasti bahwa keberadaanku disini sangat mengganggu.
"I-iya, maaf ya." tanpa ku duga, Putri menjawab jujur meskipun nada yang ia buat berusaha tidak menyakitiku.
"Eh nggak papa, justru aku yang harusnya minta maaf udah ganggu kamu yang lagi nugas." aku berusaha menjelaskan, karena tampaknya ia merasa sangat tidak enak.
Putri hanya diam, sehingga aku kembali bersuara "Kalo ada yang gak ngerti, tanya aku aja ya. Meja aku diujung." Kataku sambil menunjuk tempat dudukku. Yah, Putri pasti mengerti dan bisa mengerjakan tugas ini dengan baik tapi namanya juga basa-basi.
Aku kembali duduk ke kursiku, tidak lama bel masuk terdengar. Beberapa siswa memasuki kelas dan duduk di kursi masing-masing. Tetapi, tiga puluh menit berlalu tidak ada guru yang masuk ke dalam kelas.
"Jam kosong nih, kita nonton seleksi karate aja yuk!" ujar siswi yang duduk di depanku.
"Kenapa gak nonton anak basket aja?" tanya teman di sampingnya.
"Iyasi anak basket kece-kece, tapi kamu gak mau ngeliat pangeran es?" sahut yang lain.
Pangeran es, Alex.
Aku mendengus, sepertinya jika aku mengikuti alur asli, seharusnya Aliana sudah pergi ke arena karate. Siapa peduli, lebih baik aku menikmati waktu bebas ini dengan memanjakan diri, tidur cantik.
Brak!!!
"Guys, ayo nonton pertandingan karate, seleksinya udah masuk sepulih besar! Ada Alex juga di posisi pertama!" Teriak seorang gadis berdasi biru, menandakan bahwa ia satu tingkat diatasku. Mungkin dia adalah teman sekelas Alex karena ia menyebut lelaki itu dengan nama langsung.
"Kak Riska heboh banget, dasar fans nomor satu Bang Alex" gumam gadis didepanku. Ia dan teman-temannya kemudian berdiri dan pergi ke luar kelas, mungkin mereka akan menonton Alex.
Dasar fans Alex.
Aku melanjutkan niatan ku untuk kembali tidur. Namun tidak sampai sepuluh menit, suara pintu yang dibuka kasar kembali terdengar.
Brak!!!!
"Guys, ayo nonton pertandingan karate, seleksinya udah masuk sepulih besar! Ada Alex juga di posisi pertama!" Kalimat yang sama, suara yang sama kembali terdengar. Aku mengangkat kepalaku, itu Riska.
"Kak Riska heboh banget, dasar fans nomor satu Bang Alex." kalimat dari gadis didepanku membuatku terkejut. Bukankah mereka tadi sudah keluar kelas?
Aku tidak peduli, di dunia ini pasti ada yang disebut de javu juga seperti diduniaku. Aku kembali memejamkan mata, tapi lagi-lagi suara pintu dan kalimat yang ku dengar sebelumnya terdengar lagi. Aku mulai merinding dan berpikir, lalu aku menyadadi sesuatu. Loop, pertemuanku dengan Alex adalah alur utama novel. Jika alur utama menghilang, maka kejadian yang sama akan terulang hingga alur itu terjadi.
###
04.10.21
TBC
02.02
KAMU SEDANG MEMBACA
Isn't Sweet
Storie d'AmoreIsn't Sweet. Buku yang menarik Diandra sang penulis ke dalam cerita, menjadikannya salah satu pemeran dalam fantasi yang ia tulis sendiri. Semuanya akan baik-baik saja jika Diandra menjadi pemeran figuran yang tidak memiliki eksistensi apapun. Masal...
