1 -

32 3 0
                                    

Pertemuan antara Min Yoongi dan seorang perawat--- bernama Han Yura, bermula karena seorang anak kecil berusia sekitar 3 tahunan mendadak berlari dari pelukan Yoongi dan terjatuh di hadapan Yura.

Bocah laki-laki berambut ikal itu menangis kala telapak tangannya mencium aspal jalan yang panas. Lalu Han Yura dengan sigap membantu anak tersebut berdiri.

"Kau baik-baik saja?" Tanya Yura dengan wajah yang cukup cemas. Yura tak segan mengusap peluh serta air mata yang mengalir begitu saja di pipi bocah itu. "Dimana yang sakit?"

Bocah laki-laki itu masih terisak, namun membuka telapak tangannya di hadapan wajah Yura, menunjukkan bagian mana yang terluka. "Sakit." Rengek bocah itu.

Lantas Yura segera mengeluarkan satu bungkus coklat kepingan, serta salap pereda nyeri dan mengoleskannya pada lengan bocah itu. "Sudah. Nanti malam lukanya akan sembuh." Ucap Yura lalu mencium telapak tangan bocah yang bahkan Yura belum tahu siapa namanya. "Di habiskan coklatnya ya?" Senyum Yura mengembang begitu manis, mengalahkan manisnya kepingan coklat yang tengah di kunyah oleh sang bocah.

Tersenyum, lalu mengangguk paham. Bocah ikal itu memeluk Yura sebagai balasan terimakasihnya. "Anak pintar."

Namun Yura tak sadar jika perlakuan, ucapan serta senyuman yang ia berikan pada bocah yang tak sengaja jatuh itu, membuat jantung seseorang mendadak hampir berhenti. Lalu detik berikutnya membuncah lebih cepat. Tatapannya tertegun. Langkah kakinya terhenti. Nafasnya tercekat.

Yoongi, Min Yoongi. Sosok laki-laki dengan jaket denim dan topi hitam itu menatap Yura tak berkedip. Seolah Yura adalah sosok malaikat yang benar adanya. Yang Yoongi bisa lihat bahkan dengan mata telanjangnya.

Yoongi tidak salah, jika menganggap Yura dengan seragam perawatnya yang serba putih itu bak malaikat, rambut yang di cepol ke atas, memperlihatkan tengkuk indah serta senyuman yang menawan. Yoongi yakin, jika Yura memang malaikat yang menyerupai manusia.

Lalu senggolan kencang mengenai sikunya. "Ambil anaknya!" Yoongi mengerjap seketika, tersadar dan mulai berjalan mendekati Yura dan bocah itu.

"Permisi. Dia--- ke--- ponakanku." Ucap Yoongi canggung, sembari menggaruk tengkuknya.

"Oh?" Yura berdiri, tengannya masih tergenggam oleh bocah yang sibuk menghabiskan coklat kepingan untuk kedua kalinya. "Maaf. Tadi dia terjatuh, jadi aku berikan coklat. Maaf ya?" Senyuman manis Yura tercuat lagi, hingga membuat Yoongi hampir melupakan tujuan sebenarnya, merebut bocah kecil itu dari Yura.

"Baiklah. Terimakasih." Ucap Yoongi lalu membungkuk dan mengangkat bocah laki-laki itu dengan satu tangan. "Aku--- permisi." Yoongi masih canggung, tak mampu menatap langsung mata Yura.

Saat Yoongi berbalik, wajah bocah itu kembali bertemu dengan mata Yura. "Nanti malam, tolong di oleskan lagi salapnya. Supaya lebih cepat sembuh." Ucap Yura setengah berteriak karena langkah Yoongi semakin menjauh.

Yura dan bocah itu sama-sama melambaikan tangan. Yura dengan senyum bahagia dan manisnya, sedang bocah itu dengan senyum polos yang belum terkena dosa. "Gemasnya."

Lantas mendengar ucapan Yura yang manis, bibir Yoongi bergetar, hatinya mendadak parau merasa bersalah. Lalu gumamnya, "Aku bahkan tidak tahu, nyawa anak ini apakah sampai nanti malam."

                           [ ***** ]

Rupanya, wanita berseragam perawat kemarin tak lantas membuat Yoongi hanya berdebar saat melihat secara langsung saja, Yoongi juga berdebar bahkan hanya saat membayangkan bagaimana manisnya sikap Yura saat mengobati luka kecil pada bocah ikal yang sudah ia habisi nyawanya.

"Ini.."

Satu botol hijau mendarat di hadapan wajah Yoongi, membuat Yoongi malu dalam sekejap. Karena pada dunianya--- Yoongi seperti kesulitan untuk tersenyum walau sudah menonton banyak film komedi atau kartun lucu sekalipun. Tapi lihat--- Yoongi hanya terdiam sembari duduk, memandangi bekas bungkusan coklat kepingan di tangannya lalu tersenyum. Siapa yang tak heran?

Min YoongiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang