Jangan lupa vote commentnya ya guys, follow dulu yuk sebelum baca
[On going ]
***
Kisah ini tentang seorang cowok anak pengusaha ternama namun mimiliki sifat playboy karana ia belum mau memiliki pasangan yang se...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kayra masih mematung di tempat dan menatap lurus ke arah luar jendela yang terlihat Nio sedang mengeluarkan sepeda motornya. sebenarnya raga ingin sekali menampar mulut cowok tersebut dan melontarkan umpatan-umpatan namun hati berkata lain. hati malah memilih untuk tak berkutik sama sekali.
Benar-benar hal yang tak terduga. Batin Kayra terus memberontak. Sebenarnya Nio anak yang asik untuk di ajak berteman namun jika naluri playboy atau buasnya sudah keluar itu yang bahaya, jadi Kayra harus bisa menjaga dirinya jangan sampai tergoda rayuan maut dan benar-benar jatuh kepelukan Nio. Ia harus bisa menggaris bawahi bahwa dia merupakan PARTNER KERJA tak lebih.
***
Di tengah perjalanan Elard mengirim pesan kepada Nio. Nio dapat notif pesan masuk dari smartwatch miliknya yang sudah terkoneksi dengan ponselnya.Pada akhirnya ia memutuskan untuk menepi sejenak untuk membalas pesan kawannya.
El : Bro, dimana? free ga lo? gue mau kerumah bosen. Nonton bola kita
Nio : Bentar gue lagi di jalan, free gue lo ke rumah aja
Nio hanya membalas singkat pesan dari temannya tersebut dan kemudian melanjuti perjalanannya. teriknya matahari membuat Nio mencapkan gas lebih kencang dari biasanya dan untungnya saja jalanan di siang hari sedang lengang mungkin orang-orang sedang malas keluar walaupun hari libur. sampailah ia di rumahnya dan di halaman parkir sudah terlihat motor milik Elard yang sudah terparkir dan Nio pun langsung memarkirkan sepeda motornya tepat di seblah motor Elard kemudian ia turun dan tak lupa menyapa penjaga rumahnya.
"Selamat siang pak." sapa Nio kepada penjaga rumahnya
"Selamat siang den, itu den El sudah tunggu di kamar."
"Iya pak, dari tadi dia?"
"Engga den belum lama kok berselang beberapa menit den Nio dateng."
"Oke pak, saya masuk dulu ya."
"Iya silahkan den."
Nio pun segera memasuki rumahnya dan menuju kamarnya yang berada di lantai dua, masuklah ia kedalam kamarnya terlihat Elard sedang duduk di sofa yang terletak di dekat pintu balkon kamar Nio. Sadar akan kedatangan Nio, Elard pun menyapanya.
"Dari mana lo?" tanya El
"Abis ketemuan sama Kayra." Jawab Nio sembari memasukan helmet yang bekas ia kenakan kedalam lemarinya.
"Ngapain? gimana galak ga orangnya?" Tanya El penasaran
"Biasa abis bahas dikit buat nanti, aman si ga galak, asik anaknya cuma begitu agak berlebihan," ujar Nio sembari berjalan ke arah El yang masih duduk di sofa. "Gila sih masa gue pegang tangannya doang langsung ngamuk." lanjut Nio
"Haha.. kan gue bila jangan aneh-aneh." tawa El mendengar cerita Nio
"Sialan malah ketawa, gue pegang tangannya juga bukan mau ngapa-ngapain. Gue cuma mau ngajak dia pulang bareng dan kebetulan dia mau cabut ya gue pegang aja tangannya malah kena semprot."
"Lah dia kaga bawa motor? Biasanya bawa motor tuh anak."
"Bawa, tapi gue suruh taro motornya di rumah soalnya dia mau ke kampus biar gue yang anterin maksudnya."
"Terus lo paksa anaknya? jangan di paksa anaknya ga suka"
"Eh iya bener, dia bilang begitu katanya gasuka di paksa makannya gue di semprot."
"Haduh, lo dibilangin anaknya beda dari cewek-cewek yang sering lo pacarin."
"Eh gue mau tanya dah, itu keluarga Kayra ekonominya kurang."
"Setau gue dulu engga, tapi semenjak bokapnya sudah gaada baru ekonominya turun. memang dia ga cerita?"
"Cerita, tapi gue mau tanya lebih ga enak."
"Itu bokap nyokap lo sudah tahu latar belakang keluarga Kayra?"
"Belum."
"Terus gimana, gue takut ada kata-kata yang kurang berkenan terutama dari bokap lo."
"Kayaknya gue bakal palsuin identitas dia deh."
"Gila aman ga tuh?"
"Aman kalo kerja samanya bener, sudah gausah nanyain gituan itu biar jadi urusan gue aja." Nio pun beranjak dari sofanya dan mulai menyalakna televisi dan memutar siaran ulang bola. "Lagi kan cuma sementara aj, kenalin terus bokap ngasih perushaannya ke gue terus kalo nanti di tanya tinggal bialng we broke up, gampang kan."
"Kalo orangtua lo nyaman bagaimana?"
"Udah lo gausah repot-repot ngurusin yang bukan urusan lo," ujar Nio sembari memakan cemilan yang ia ambil dari lemari kecil yang terdapat di samping tempat tidurnya
"Terserah lo sudah, gue pusing sama hidup lo."
"Nih mendingan lo ambil makanan itu di lemari gue biar nontonnya enak."
Benar juga sih dari pada El repot-repot mengurusi yang bukan urusannya mending ia mengambil cemilan saja supaya lebih enjoy menonton siaran ulang bola tersebut namun saat ia hendak mengambil cemilan Nio mulai melontarkan pertanyaan kembali.
"Eh, El lo tau alamat rumah Kayra ga?"
El yang mendengar pertanyaan tersebut langsung membalikan badannya kembali sembari menyerngitkan dahinya, ada apa gerangan temannya ini ingin tau mengenai alamat rumah Kayra.
"Tau, mau ngapain lo?"
"Udah lah kepo banget lo tinggal kasih tau aja, eh lo kasih taunya alamatnya shareloc aja biar gue gausah nanya lagi kalo lupa."
"Iya dah serah lo."Jawab El yang kemudian mengambil ponselnya dari dalam ponselnya dan mulai mengirimkan alamat Kayra kepada Nio. "Noh udah gue kirim." Celetuk El sembari melanjutkan kegiatannya yang terhenti ketika mendengar pertanyaan Nio.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.