Enam Belas

2.5K 143 23
                                        

Sudah pasti sangat terpukul dan sampai detik ini Hanum ataupun Arda belum bisa menghubungi Riko, ponselnya mati, dan kedua sahabat itu memutuskan hari ini untuk pergi ke rumah Riko untuk mendapat jawaban, apa sebenarnya yang ingin anak itu lakukan sampai bertindak seperti itu. Arda mendapat izin dari Doni untuk pergi dengan Hanum, karena sekarang Arda dan Doni tinggal bersama makanya dia harus izin dulu sama Doni kalau ingin keluar dari rumah itu, semacam pacar yang perhatian banget nggak sih Doni ini. Bukan untuk mengekang, Doni hanya tidak mau kalau Arda sampai kenapa-kenapa lagi, terlebih sekarang kasus si Riko ini belum terselesaikan.

Sampai di kediaman rumah Riko, ternyata halaman rumahnya juga sepi, rumah sebesar itu dan halaman terbentang rapih terlihat di sana, Riko memang memiliki segalanya dan dia memang termasuk keluarga mampu di kampusnya. Sudah sekitar dua atau tiga kali Arda dan Hanum mampir ke rumah itu untuk mengerjakan tugas bersama dengan Riko, tapi kali ini entah kalau dipikir-pikir semenjak UAS terkahir waktu itu Riko jadi jarang keliatan memang. "Biasanya ada tukang bersihin tanaman, kok sekarang sepi sih." Hanum masih celingak-celinguk melihat area sekitar rumah Riko, dirinya ingat kalau biasanya ada bibi atau paman yang merawat taman di halaman depan, tapi ini kok sepi banget.

Tapi tidak lama dari itu Arda melihat sosok pria kurus dengan wajah yang familier, "Riko?" Arda memanggil nama itu sontak Hanum pun juga melihat sosok pria kurus dari kejauhan tersebut.

Riko berjalan dari arah yang berlawanan, dia berjalan sampai tepat didekat Hanum ataupun Arda saat ini. Wajahnya bersurai hitam dan pucat menyelimuti kulit pipi Riko seolah sedang sakit. "K-ka-kau kenapa?" Arda mendekati sahabatnya itu, memegang pundak Riko,

Namun Riko menepis tangan Arda karena tidak suka, dirinya jijik melihat Arda. "Jangan sentuh aku..." Riko bersuara pelan, namun sangat jelas didengar oleh Hanum dan Arda.

Namun dengan gerakan cepat Hanum menampar pipi kiri Riko dengan tangan kanannya. "Kau... Dasar tidak punya hati!" Terdengar bahkan suara perempuan itu sampai ke seluruh area, namun area itu kebetulan memang sepi.

Tidak ada perlawanan, Riko malah tertawa sambil wajah menengadah ke atas langit. "AHHHHH~ Akhirnya ketahuan juga, sudah lama aku menahan hal ini."

Arda kembali memegang pundak Riko, anak itu berharap kalau semua ini hanyalah salah paham. "Ini semua salah kan? Riko, kita ini sahabat kan." Arda masih saja belum paham,

Hanum menarik tubuh Arda agar menjauh dari Riko, "Jadi benar kan?! Kamu sudah melakukan ini semua? Atas dasar apa kamu melakukan semua ini hah?! Kenapa Riko! Kenapa!" Hanum sudah kesal, menjawab saja rasanya tidak enak, ingin sekali Hanum menampar wajah Riko yang ada di depannya itu, karena Hanum sudah terlanjur benci dengan Riko.

Riko mulai memandang bergantian ke arah Hanum dan juga Arda, "Munafik sekali. Dengar ya, kalian berdua hanya senang dengan kehidupan percintaan kalian saja, kalian tidak perduli dengan ilmu yang seharusnya bisa kalian serap semuanya! Kalian punya kasih sayang, kalian bisa tertawa lepas, kalian bisa enak melakukan ini dan itu! Terlebih adalah ketika Arda menjadi seorang gay dan disukai banyak lelaki, kau Hanum malah mendukungnya. Itu sangatlah menjijikkan!!! Kalian semua sampah!" Riko ternyata iri dengan kebahagiaan Arda dan Hanum, karena jujur meski Riko pintar dalam hal akademik dan prestasi, tapi teman yang lain beranggapan kalau Riko hanyalah menang di otak, tampilan fisiknya tidak mendukung. Terlebih hanya karena orangtua Riko yang kaya raya, makanya Riko hidup selalu di tekan untuk belajar dan belajar. Entah setan apa yang ternyata mendorong Riko perlahan iri dengan Arda dan mulai mengatur hal untuk anak itu.

"Apa maksudmu Riko? Kita ini sahabat, kita ini kan..." Ucapan Arda terputus, dirinya diam karena hatinya hancur mengetahui memang Riko lah pelakunya.

"Hallah jangan sok baik kamu! Bertahun-tahun aku ingin dekat dengan Genk The Rebellion, tapi entah kenapa kamu masuk dalam Genk tersebut dan mengambil hati Doni. Dasar jalang!"

The RebellionCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang