Empat Belas

2.4K 145 25
                                        

Malam harinya Hanum dan Arda bisa tidur dengan nyenyak satu kamar berdua, meski Arda lelaki tapi vibe-nya yang memang sebagai Uke tidak membuat Hanum khawatir. Lagipula Hanum tidur di kasurnya biasa dan Arda tidur di kasur lantai di bawahnya, aman bukan. Bahkan pagi harinya ibunda Hanum sudah menyiapkan sarapan lengkap dengan telur kesukaan anak perempuannya itu, ditambah ada sayur labu kesukaan Arda yang Hanum request sebelumnya agar Arda nyaman sarapan pagi ini di rumahnya.

"Ayah sudah berangkat Bu?" Hanum bertanya pada ibunya karena tidak melihat ayahnya ikut sarapan pagi ini.

Ibunya Hanum mengangguk sebelum menjawab, "Iya katanya ada rapat penting, makanya ayahmu berangkat pagi banget tadi. Ibu sudah buatkan bekal untuknya kok, tenang aja." Jawab beliau sambil menyajikan nasi ke piring Hanum dan Arda bergantian. Beliau sudah menganggap Arda seperti anaknya sendiri memang sejak Hanum berteman lama, lagipula Arda bukan anak yang banyak tingkah, bahkan berteman dengan Hanum pun selalu aman-aman saja.

"Ponselmu sudah aktif belum Ar?" Hanum bertanya sambil menaruh lauk di atas nasinya.

Arda masih terdiam, menaruh sayur diatas nasinya agar basah dengan itu. "Hm, belum sih." Katanya begitu yang malah membuat Hanum khawatir.

Dengan terkekeh pelan, Hanum mulai menyantap sarapan pagi ini. "Ya aku sih nggak mau ikut campur urusan kamu, tapi aku cuman kasian aja sama Kak Doni, pasti dia khawatir sama kamu. Bisa jadi juga dia lagi bingung nyari kamu kemana saat ini." Benar yang dikatakan Hanum, tapi dirinya juga bisa lihat kalau Arda sedikit trauma sih dengan hubungannya yang tidak dianggap baik oleh tetangga.

Kali ini Arda tidak menjawab lagi, dirinya langsung menyantap hidangan sarapan pagi ini dengan nyaman. Begitu juga dengan Hanum, sedangkan ibunya Hanum sibuk di dapur untuk masak beberapa lauk lagi buat nanti siang. Tapi, selagi yang lain sibuk sarapan tiba-tiba terdengar suara bel rumah kediaman Hanum itu berbunyi.

"Kalian makan saja, biar ibu yang lihat ke depan." Ibunya Hanum bergerak menuju pintu masuk rumah, membiarkan anak-anaknya itu tinggal menghabiskan sarapan di atas meja makan.

Ibunya Hanum mulai membuka pintu dan melihat dua sosok pria, satunya beliau kenal karena itu adalah Bastian pacar dari anaknya, Hanum. Tapi kalau yang tampan satunya lagi beliau tidak kenal, "Permisi Bu," itu suara Bastian. Bastian sudah biasa memang berkunjung, dan kali ini dirinya membawa Doni bersamanya.

Alih-alih ingin bertemu dengan Hanum, padahal sih memang Bastian tau betul kalau Arda ada di rumah pacarnya itu. Info langsung dari Hanum pastinya. Dengan cepat ibunya Hanum mempersilahkan kedua tamunya itu masuk dan langsung berjumpa di ruang tengah dengan Hanum dan Arda pastinya.

Arda yang melihat sosok Doni itu langsung tersedak, dengan cepat Hanum memberi segelas air putih untuk menghilangkan rasa tersedak sahabatnya itu. "Eh, udah sampai Beb?" Hanum bertanya pada Bastian kali ini, dirinya juga kaget kalau ternyata kedua lelaki itu datang pagi-pagi banget ke rumah.

"Kalian duduk saja dulu ya gabung disana, biar ibu siapkan minuman." Ibunya Hanum memang tidak tau apa-apa, dan beliau lekas ke dapur lagi untuk menyiapkan minuman.

Di sisi lain bisa kita lihat Doni hanya menatap tajam ke arah Arda kali ini. Dirinya hanya kesal kenapa tidak ada pemberitahuan apa-apa dari kekasihnya itu, bahkan Doni kesal ketika melihat pacarnya lebih bergantung pada sahabatnya, padahal Doni adalah kekasihnya. Itu yang membuat Doni menahan amarahnya sekarang, tidak enak kalau harus meluapkan amarah sekarang, ini bukan area dirinya. Setidaknya Doni bisa sopan karena ini rumah kediaman Hanum.

•••
•••
•••

Bastian duduk di sofa dekat taman belakang, sedangkan Hanum mempersilahkan Arda dan Doni berdua ada di kamarnya untuk menyelesaikan masalah mereka. Sedangkan jujur Arda takut banget liat ekspresi wajah Doni kali ini yang terus memandangi dirinya. Kayak pandangan mengintimidasi, tentu saja dirinya tau kalau Doni marah, tapi Arda tidak sampai tau kalau ternyata bakalan mengerikan banget kalau kekasihnya itu marah.

The RebellionCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang