Sembilan

2.9K 179 23
                                        

Tibalah sekarang diwaktu yang sangat menentukan untuk masa depan Arda dan kawan-kawan semua.

Setelah Tour sebelumnya, hari selanjutnya tentu saja adalah hari dimana Arda, Hanum, Riko dan temannya yang lain mulai mengadakan UAS di semester 5 ini. Hal yang mendebarkan sekali memang, setelah sebelumnya bersenang-senang liburan dengan seluruh mahasiswa lain, sekaranglah saatnya mereka harus beradu otak dan skill mengingat mereka. Sama seperti yang Arda ingin lakukan adalah lulus dengan nilai yang cukup membuatnya puas, bukan menjadi yang terbaik, karena Arda tau kemampuan dirinya sangat terbatas dibandingkan mahasiswa yang lain, dalam artian adalah Arda tidak terlalu bodoh namun tidak bisa juga dibilang pintar, normal saja, karena memang Arda kepikiran memiliki tujuan agar lulus kuliah dan langsung ingin mengembangkan bisnis toko bunganya bersama sang ibu kelak.

Loh, ngapain sibuk-sibuk Sarjana kalau nyatanya ijazah tidak kepakai buat kerja di perusahaan besar? Hey! Bukankah berbisnis atau membuka peluang usaha bisa lebih menguntungkan jika di tekuni dengan baik? Itu sih yang terkadang dipikirkan oleh Arda. Tapi jika sewaktu-waktu memang dirinya harus bekerja di perusahaan demi urusan keuangan, bisa jadi itu adalah jalan alternatif. Pokoknya ini baru saja masuk ke semester lima, masih ada semester 6,7,8 jadi masih sekitar setahun lebih lagi Arda menempuh pendidikan. Sabar.

Arda sudah siap di kursinya, ruangan dipisahkan antara dirinya dan Riko, terlebih Arda juga duduk di kursi yang berjarak sekitar beberapa meter dengan mahasiswa lainnya agar menghindari kecurangan atau mencontek. Tidak sebodoh itu, Arda juga sebenarnya masih bisa berpikir sendiri kok. Tenang saja.

•••
•••
•••

Doni baru saja turun dari motornya untuk mengganti mesin dekat bengkel, sepertinya ada kendala di bagian mesin motornya. Dirinya mau memperbaiki motor tersebut sebelum nantinya ia ada rencana ingin mengajak Arda ke suatu tempat, seperti ingin memberikan kejutan setelah anak itu selesai mengerjakan UAS. Selagi menunggu motornya diperbaiki, bengkel tersebut dekat dengan rumah/toko bunga milik keluarga Arda, jadi sekalian saja Doni mampir ke rumah anak tersebut untuk melihat-lihat saja karena ia tau pasti Arda tidak ada di sana.

Dari kejauhan Ibunda Arda sudah melihat kehadiran pria itu, benar sekali, sebenarnya ibunda Arda tau betul sikap dan perlakuan Doni pada anaknya berbeda dengan kebanyakan teman yang lain. Awalnya beliau juga takut kalau mungkin saja Doni menjadi hal buruk bagi diri Arda, tetapi setelah dipikir berulangkali dan sempat putus asa karena dirinya tau juga kalau anaknya seorang penyuka sesama jenis, tapi kali ini ibunda Arda percaya bahwa sepertinya Doni adalah pria yang baik buat Arda anaknya.

Pria itu masuk dengan senyuman ketika sampai di dalam toko bunga milik beliau, sambil siap di depan meja kasir beliau menyambut kehadiran Doni selayaknya customer yang ingin membeli sesuatu. "Nak Doni, Nggak ke Kampus?" Ibunda Arda bertanya demikian sambil membuat secangkir teh di dekat meja kasir tersebut.

Doni yang melihat beliau repot-repot begitu malah jadi tidak enak, "Nggak usah repot-repot kok Bu, saya cuman lihat-lihat sebentar. Jadwal kuliah saya kosong hari ini." Jawab pria itu.

"Tidak merepotkan, ibu seneng kok kalau Nak Doni datang, daritadi juga toko masih sepi. Kebetulan Arda udah ke kampus dari pagi buta, ada UAS hari ini." Ibunda Arda membawa secangkir teh itu ke meja customer yang tersedia seperti biasa. Benar saja, Doni juga sudah tau perihal Arda itu.

Doni duduk di sana dan ternyata Ibunda Arda duduk di depannya menemani. "Terimakasih Bu." Ucap pria itu seraya menyeruput teh tersebut.

Terdapat rasa canggung bagi Doni, tapi tidak dengan ibunda Arda yang langsung menatap wajah pria itu dengan senyuman lembut. "Nak Doni..." Perlahan beliau berbicara pada pria tersebut, rasanya sedikit ragu namun beliau mau membicarakan ini memang empat mata dengan Doni. Kebetulan ini waktu yang tepat.

The RebellionCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang