Semenjak kejadian malam sebelumnya, Arda esok hari mendapatkan tamu yang cepat sekali datang pagi hari buta, karena dirinya libur setelah UAS makanya ia tidak keberatan kalau kedapatan tamu. Ibunda Arda bahkan semalam sampai harus geleng-geleng kepala karena betapa tidak peka anaknya terhadap Doni.
Tamu pagi hari buta itu adalah Doni, entah ada angin apa tiba-tiba saja dirinya mau berkunjung pagi ini. Membawa buah-buahan segar untuk dikupas dan dimakan bersama dengan Arda dan ibunya. "Ayahku baru balik dari Cina dan kebetulan bawa banyak banget buah, semoga kalian suka." Doni berkata demikian karena dirinya membawa tiga kantung besar buah-buahan, satu kantung berisi buah apel, satu lagi berisi buah jeruk, dan sekantungnya lagi berisi buah mangga. Nggak kebayang kan gimana dia bawa tiga kantung buah itu dengan motor besarnya, tapi bukan Doni namanya kalau tidak usaha, setidaknya motor miliknya aman dan tidak bermasalah.
Arda segera menyiapkan ember untuk membersihkan buah tersebut, kemudian ibunda Arda mulai mengupas kulit buahnya serta memotongnya kecil-kecil. "Ahhh~ buahnya harum sekali, pasti ini kualitas baik. Oh iya, Nak Doni, sampaikan ke orangtuamu banyak terimakasih ya." Ibunda Arda sangat berterimakasih, karena jujur Doni dan keluarganya itu sudah baik banget.
"Nggak masalah kok Bu." Daripada diam, Doni membantu Arda mencuci buah-buah tersebut. "Oh iya, sehabis ini boleh nggak saya bawa Arda? Kita akan pergi ke suatu tempat."
Arda bahkan merendam buah tersebut dengan cairan aman untuk makanan, tapi dirinya langsung menatap ke arah Doni ketika pria itu meminta izin ke ibunya. "Mau kemana?" Arda bertanya demikian karena ini masih pagi, mau kemana coba.
Sudah percaya, dan tidak ada penolakan. "Tentu saja, kapan kalian pergi?" Tanya beliau lagi sambil terus memotong buah lebih karena harus membaginya ke tetangga.
Doni tidak akan menjawab Arda kalau mereka mau kemana, Doni lebih fokus menjawab ibunya Arda justru. "Agak siang nanti mungkin kita berangkat." Timpal Doni lagi untuk ibunda Arda.
Karena merasa tidak direspon, Arda masih melanjutkan aktivitasnya mencuci buah-buah tersebut. Biarlah, mungkin saja memang dirinya tidak harus tau dan bukan urusannya, bisa jadi Doni cuman mengajaknya ke suatu tempat yang biasa pria itu kunjungi sebelumnya.
•••
•••
•••
Sepertinya cukup rapih memang dan sepantasnya Doni bersyukur memiliki kekasih yang cukup manis rupawan seperti Arda, pacarnya itu mengenakan pakaian apapun tetap terlihat pantas. Arda dengan kemeja batik dan terusan celana bahan pin wajah baby face anak itu tidak lepas. Itu memang yang disuruh Doni, Arda harus memakai pakaian formal karena Doni akan membawanya ke suatu tempat.
Arda berdiri di sebelah pria itu dengan wajah sedikit cemberut, "Kita mau kemana sih? Siang ini panas banget loh, seperti mau kebakar kepalaku." Tentu saja dia takut hitam, kulitnya yang halus cerah tersebut bisa rusak karena panas matahari siang ini.
Berbeda dengan Doni yang masabodo dengan tekstur kulit atau apalah itu, karena memang kulitnya tidak sebersih Arda. Beda memang, tapi kalau dibilang maskulin ya Doni lebih unggul dibanding Arda. "Ayo naik, jangan ngeluh terus. Kamu jelek tetap aku sayang kok." Doni bicara demikian karena memang bukan karena paras, hanya saja dirinya suka dengan sikap lugu Arda, terlebih dia bukan tipe pria yang banyak mau. Fisik bisa dikesampingkan, menurut Doni fisik Arda yang imut itu adalah bonus tambahan baginya.
"Kamu belom jawab aku, kita mau kemana sih?" Arda masih terus bertanya.
Tapi Doni telah siap di jok motor depan dengan helm, Arda pun memakai helm yang dikasih Doni sebelumnya. Kemudian anak itu mulai naik di belakang, "Bu, aku pamit ya. Assalamualaikum." Arda tidak lupa untuk pamit.
Lantas Doni melaju setelahnya dengan kecepatan normal, tanpa disuruh bahkan Arda memeluk Doni dari belakang sekarang. Jujur hal yang dirasa Doni kali ini menjadi kenyataan, anak itu memeluknya tanpa disuruh, bahkan Doni harap kalau Arda tidak usah canggung lagu terhadap dirinya, karena Doni anggap dirinya sudah milik Arda seorang. Lebay nggak sih? Ya karena Doni sebenarnya bucin banget, tapi nggak kelihatan aja sama Arda, ditambah Arda yang nggak begitu peka terhadap Doni. Keduanya memang sangat menggemaskan.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Rebellion
RomanceArda, yang cuman seorang anak biasa berbakti dengan ibunya yang berjualan bunga di toko, kehidupan anak itu tidak akan begitu-begitu saja karena dirinya mulai didekati oleh pria bernama Doni ketua dari Genk The Rebellion. Doni, Pria dengan sejuta ke...
