Seperti yang dikatakan Doni sebelumnya, Arda malam ini mengemasi barang-barang miliknya dalam satu tas besar. Tidak terlalu banyak karena dirinya juga baru menginap dua hari saja di rumah kediaman Hanum. Tapi malam ini setidaknya Hanum masih bisa merasakan senang ketika sahabatnya itu bisa tinggal dekat bersamanya, seru dan asik sebenarnya, namun tetap saja nggak mungkin juga selamanya Arda akan tinggal dengan Hanum. Beruntung ada Doni, meski Hanum belum tau Arda bakal dibawa kemana, tapi yang jelas Hanum percaya bahwa Doni adalah sosok lelaki yang bisa dipercaya.
"Makasih ya Num, udah nerima aku untuk tinggal disini sementara. Buat orangtua kamu juga makasih banyak ya, mereka udah baik sama aku." Sambil masih membenahi pakaiannya ke dalam tas, Arda berbincang santai di kamar Hanum malam ini.
Hanum yang duduk di kursi belajarnya langsung menghampiri Arda untuk memeluk lelaki itu, "Aduh nggak usah makasih kali, udah biasa kan kita begini. Lagian kamu sahabat aku dari dulu. Kalau Riko bisa diandalkan mah kamu pasti tinggal sama dia, secara kalian sama-sama laki, tapi apa daya orangtuanya Riko sedikit ribet sih."
Mendengar itu malah Arda tertawa, "Oh jadi sekarang kamu bisa bilang aku laki-laki?"
Sambil tertawa juga Hanum menepuk pundak Arda, "Ya kamu memang laki-laki, cuman sedikit kenyal kayak agar-agar."
Kedua sahabat itu pun tertawa sambil terus menikmati malam terakhir mereka berdua di satu kamar, mungkin suatu hari Arda bisa menginap lagi, Hanum ingin hal itu terjadi lagi, karena seru aja gitu kalau ada temen/sahabat yang nginap dirumah.
Sambil menengadah ke atas atap kamarnya, memandangi langit kamar sembari tiduran di kasur, Hanum bahagia sekali ketika mengingat sekarang ada sosok laki-laki baik yang menjaga sahabatnya, Arda. "Kamu beruntung deh sekarang, punya Kak Doni." Hanum berkata demikian dan hal itu membuat Arda sempat tersenyum.
Selesai membenahi pakaiannya, Arda juga duduk di sebelah Hanum yang sedang tiduran itu. "Aku awalnya juga nggak pernah tau, ternyata aku bisa sedekat ini sama Kak Doni. Meski dari luar terlihat ganas dan menyeramkan, tapi dia memiliki hati seorang pelindung." Bersyukurlah Arda sekarang kalau diingat-ingat.
"Berarti besok pagi kamu bakalan ikut sama Kak Doni?" Hanum memastikan saja jadi bertanya demikian.
Arda menghela nafas sejenak sebelum lanjut menjawab, "Kak Doni bilang begitu sih, aku harus ikut sama dia. Aku rencana ngekos tapi sama dia nggak boleh."
Hanum kembali menepuk pundak Arda lagi dengan pelan, "Ya pasti Kak Doni nggak bakal izinin kamu lah, dia pasti khawatir. Udah deh ikutin aja apa kata suamimu. Hehehe~"
Mendengar hal itu malah Arda jadi malu, wajahnya sedikit memerah dan panas. "Suami apanya sih? Jangan aneh deh Num." Timpal Arda lagi.
Mereka berdua pun lanjut berbincang tanpa peduli hari mulai larut karena ini malam terakhir mereka berdua sekamar, mungkin akan ada hari lain tapi entah kapan bakalan terjadi lagi. Yang jelas Hanum dan Arda senang sekali bisa ada waktu beberapa hari berdua untuk saling bercerita, canda, serta tawa.
•••
•••
•••
Pagi harinya Arda tengah siap menikmati sarapan bersama Hanum dan kedua orangtuanya. Di sebelah Arda sudah tertata rapih tas yang berisi beberapa pakaian miliknya, tentu saja ia harus siap lagi ini sebelum Doni datang untuk menjemputnya. "Tante, Om, terimakasih banyak. Karena udah nerima aku buat tinggal disini, maaf kalau aku ngerepotin." Ditengah menikmati sarapan, Arda berterimakasih pada kedua orangtua sahabatnya itu,
"Jangan sungkan, kan sudah dibilang kalau kamu udah Ibu anggap anak sendiri. Tapi kamu selalu manggil Tante, padahal panggil 'Ibu' juga bisa lho." Ibunya Hanum memang begitu, selalu baik pada Arda.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Rebellion
RomanceArda, yang cuman seorang anak biasa berbakti dengan ibunya yang berjualan bunga di toko, kehidupan anak itu tidak akan begitu-begitu saja karena dirinya mulai didekati oleh pria bernama Doni ketua dari Genk The Rebellion. Doni, Pria dengan sejuta ke...
