[Caution! Masih dalam proses revisi, mohon maklum jika ada yang mengganggu bagi para pembaca]
NO SOUL : RESET VERSION
"Human eyes are easy to fool."
Jika manusia sangat bergantung pada apa yang mereka lihat, apakah dunia memang sesederhana itu?
Kare...
Hai, ini luvies! Im back, with new character! Btw ini hanya gambaran dari aku aja ya? Kalian bisa bebas berimajinasi siapa karakter yang cocok menurut kalian sendiri! [edited] This story is still in the process of revision, there are several characters that have been changed to better fulfill your imagination.
*****
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Nanti tokoh-tokoh lain akan muncul dengan sendirinya seiring berjalannya cerita, seperti kamu yang tiba-tiba muncul dalam hidupku eakk!!🤣
Eh, nggak-nggak bercanda kok😌
Ini sebenarnya cerita dari tahun 2021 kemarin, akuunpub dan kuperbaiki lagi karena masih ada banyak kesalahan dalam penulisan. Mungkin versi ini beda jauh dari versi yang lama, ya! Tapi nggak kalah seru kok!
Jadi ikuti terus petualangan Lintang ok?
Jangan lupa masukkan library ❤️ Salam, luvies!
***
Pagi ini diawali dengan kicauan burung yang terdengar merdu bagi siapapun yang mendengarnya, kalian tahu, seperti di pembuka film romansa pada umumnya. Terlalu klise untuk dikatakan, mengingat berbanding terbalik dengan genre yang ada dalam hidup Lintang condong ke arah horor komedi setiap harinya. Gadis itu berdiri di depan gerbang, terdapat papan nama raksasa di atas yang menggantung. SMA Lokatara, itulah namanya.
Tapi, bukankah itu hal yang wajar? Disetiap sekolah pasti ada penunggunya. Tidak hanya sekolah, dari sepasang bola kecil berkedip itu menangkap sosok di mana kakinya memijak. Hampir ada di setiap tempat. "Entah kenapa, disini auranya terasa sangat berbeda."
Alea sontak menepuk bahunya. "Lebay Lin, perasaan kan memang dimana-mana pasti ada hantunya. Lo sendiri kan yang sering bilang. Mau niru adegan yang ada di film horor ya?" balasnya dengan nada bercanda.
Bukan, Lintang tidak melebih-lebihkan. Hanya saja ... ia tidak tahu bagaimana harus menjelaskan.
"Al, kamu sudah setengah tahun sekolah disini emang nggak ngerasain apa-apa?" Lintang kembali bertanya pada Alea. Gadis itu melihat banyak sekali arwah yang tampak marah, namun anehnya, mereka hanya berputar-putar diluar saja. Mungkin itulah yang membuat aura gelap tampak mencolok di sekitar sekolah. "Sebagai tulang wangi, harusnya kamu sadar sih."
"Enggak kok, biasa aja. Ya, cuma kadang pundak gue agak terasa berat sih," Alea mengusap-ngusap bahu. Jujur setelah Lintang mengatakan itu, semacam ada beban yang ada di punggungnya. "Atau paling nggak ya ketindihan."