[Caution! Masih dalam proses revisi, mohon maklum jika ada yang mengganggu bagi para pembaca]
NO SOUL : RESET VERSION
"Human eyes are easy to fool."
Jika manusia sangat bergantung pada apa yang mereka lihat, apakah dunia memang sesederhana itu?
Kare...
Haiii, minal aidzin wal faidzin semuaaa 🙌🏻 maapin baru bisa up sekarang🙇🏻♀️🙇🏻♀️ hehe
Happy reading 🌼
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Di hari senin ini, pagi terasa dingin sekali. Lintang terus saja bersin-bersin saking udaranya sangat dingin dan menusuk ke dalam hidung. Sampai gadis itu harus memakai jaket tebal untuk pergi ke sekolah.
"Ih, kamu bawa virus." Ningsih tiba-tiba berkomentar.
Lintang lantas menoleh sambil tersenyum, "Mau aku tularin?"
Perempuan itu juga ikut menyunggingkan senyum. "Kalau bisa gitu, tularin aja sebanyak-banyaknya." Terdengar lebih menyesal.
Tentu saja Lintang paham arah pembicaraan ini. Ningsih bertahan di dunia bukan karena keinginannya, ada sesuatu yang membuat arwah itu tidak bisa pergi. Bahkan, Ningsih sendiri tidak tahu apa itu. Jadi, ia hanya bisa menempel pada Lintang, menunggu sampai waktunya tiba. "Nggak apa, suatu hari nanti, kamu pasti bisa pergi dengan tenang."
Perempuan pribumi itu semakin menarik kedua sudut bibirnya.
Tiba-tiba, kaki jenjang itu berhenti menapak. Lintang terdiam. Perlahan, kepalanya bergerak, menoleh ke belakang guna mengamati jalanan yang kosong selama beberapa detik.
Lintang kembali menatap Ningsih dengan senyum kecil. "Mungkin hanya perasaanku aja, ya." Kemudian kembali berjalan sembari membenarkan jam tangannya.
Sementara, berjarak sekitar enam meter darinya—Harun Defaris, pemuda itu terus menguntit Lintang sedari tadi.
Jangan tanya bagaimana kabar jantung Harun, rasanya seperti saat dia dikejar anjingnya pak satpam sekolah saat ketahuan membolos. Melihat gadis itu yang berjalan, dengan hati-hati Harun keluar dari tempat persembunyian, semak-semak. "Anjing, untung aja nggak ketahuan!" umpatnya.
Sosoknya membuat Harun penasaran. Bukan, bukan perasaan romansa klise seperti di film-film. Namun, sebab aura mencekam yang gadis itu pancarkan. Misterius dan penuh teka-teki. Ada sesuatu yang Lintang sembunyikan, dibalik wajah yang selalu memasang senyum dingin itu.
Alih-alih Harun menghela napas lega dan kesal, tiba-tiba ada sebuah suara perempuan yang mengudara sayup-sayup dari belakang.
"Hai, mas ganteng!"
Harun spontan menoleh, tidak ada siapa-siapa kecuali semak belukar. Lalu siapa yang bilang itu? Mendadak, ia merasakan angin menyapa tengkuknya, bersama dengan bisikan aneh tepat di sebelah telinga.
"Mas, aku di depan kamu loh!"
Harun kembali melihat ke depan. Sama. Tidak ada manusia.
Jujur, ini mulai tidak lucu.
Tangannya mencengkram erat tali tas yang melingkar di bahu, sembari menatap sekeliling dengan tajam. "Jangan usil, lo nggak tau siapa gue?" lucunya, walau mengancam, siapapun pasti bisa mendengar bahwa suara Harun bergetar hebat bak gempa bumi.