10. She Have Decided

353 89 30
                                        

Voter ke berapa nih?

Happy reading 🌼

Tidak ada yang lebih merepotkan, disaat Lintang mulai kehilangan hari-hari tenangnya dengan muncul beberapa hama menyebalkan dimanapun ia pergi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Tidak ada yang lebih merepotkan, disaat Lintang mulai kehilangan hari-hari tenangnya dengan muncul beberapa hama menyebalkan dimanapun ia pergi.

"Lintang Alaqsha!"

Dengan gerakan pelan, Lintang berbalik. bisa melihat ekspresi Harun yang tak kalah dingin darinya. "Ada apa?" balas gadis itu. Sepertinya, ia akan mendapat interogasi lain, walau Lintang masih tak mengerti apa kaitannya, baik Arsya maupun pribadi di depannya ini.

Mereka berdua hanya saling berdiam diri, bahkan Harun mengurungkan kembali niatnya untuk membuka mulut. "Kalau nggak ada urusan, aku pergi," sambungnya lagi, lantas menunduk sekilas.

Begitu langkahnya mencapai dua ubin lantai, Harun langsung mencengkram lengan Lintang. Memaksanya untuk berhenti. Sorot mata itu semakin terasa menusuk, "Apa yang lo tau tentang Mada?"

Topik ini lagi.

Meski begitu, Lintang tak terlalu terkejut. Dengan tenang gadis itu menjawab, "Nggak ada, cuma seseorang yang kutemui beberapa minggu lalu."

"Lo pikir gue bakal percaya?"

"Memang, aku minta kamu untuk percaya?"

Mendengarnya, memantik sesuatu dalam kepala Harun. Ia maju, lantas memukul tembok yang berada di belakang, lalu mengurung Lintang menggunakan kedua tangannya. Tampaknya ingin menggertak.

"Lo tau, gue bisa bikin lo menderita disini. Bahkan gue gak perlu repot-repot turun tangan," desisnya. Suara bariton itu terdengar angkuh, penuh penekanan, seakan menegaskan perbedaan level di antara mereka.

Kalimat klasik. Lintang menaikkan dua sudut bibirnya samar, menautkan kedua tangan seolah tak menanggapi begitu serius, "Kalau kamu mau bikin orang takut, nggak perlu sampai seperti ini." Tatkala senyum itu turun, barulah batin Lintang menyebutkan sebuah nama.

Sorot cokelat terang itu kini menatap lurus, mengunci netra milik lawannya.

Entah mengapa, mendadak terjadi perubahan drastis. Aura gadis sederhana lenyap begitu saja, digantikan oleh sosoknya yang berhasil menggentarkannya. Padahal, ia tak bicara, atau mengangkat tangan. Disusul dengan wangi bunga kantil yang menyeruak. Seakan-akan ada sesuatu berdiri dibalik Lintang, energi kuat yang menguar. Hanya dengan satu tatapan saja. Harun dipukul mundur selangkah.

Reaksi itu jelas adalah sebuah sinyal kemenangan bagi Lintang. "Jangan takut begitu dong. Aku cuma diem lho."

"Lo ... " Tangannya terangkat, menunjuk Lintang lantaran merasa semakin dipermainkan oleh gadis desa yang baru saja menginjakkan kaki di kota. "Kampungan, awas aja. Lo gak bakal lolos."

No Soul : Beyond The GateCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang