[Caution! Masih dalam proses revisi, mohon maklum jika ada yang mengganggu bagi para pembaca]
NO SOUL : RESET VERSION
"Human eyes are easy to fool."
Jika manusia sangat bergantung pada apa yang mereka lihat, apakah dunia memang sesederhana itu?
Kare...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Lintang berjalan menuju ke kamar mandi putri yang ada di dekat kantin satu, spot yang jarang sekali dipakai oleh siswi-siswi di SMA Lokatara. Rumor mengatakan disana selalu terdengar orang yang menangis, katanya desas-desus yang beredar dulu pernah ada seorang siswi yang diduga bunuh diri di dalam sana.
Tapi ini Lintang, dimana ada tempat horor, disitulah ia datang.
Selama dapat berfungsi dengan baik, mengapa tidak? Selain itu, sejak datang ke sekolah juga Lintang tidak pernah---hampir tidak pernah melihat keberadaan arwah. Apalagi kalau sampai mengganggu. Jadi, ia rasa, tidak ada masalah yang benar-benar harus dikhawatirkan.
Mungkin.
Keadaan disana memang sepi, bahkan bisa dibilang sangat tidak terawat. Banyak sekali coretan pada dinding, hampir dipenuhi malah. Lantai kotor oleh lumut dan tanah. Sangat berbanding terbalik dengan kamar mandi lainnya, seolah ada sesuatu yang membuat para tukang bersih-bersih sengaja mengecualikan ruangan ini.
"Lin, lo yakin mau cuci tangan disini?" Mega kembali melemparkan pertanyaan yang sama seperti lima menit lalu. Dan Lintang pun masih menjawab dengan anggukan mantap. "Di kamar mandi atas kayanya udah kosong deh, gak mau kesana aja?"
Gadis itu berhenti. Lantas menolehkan kepala, menatap dengan sorot mata kosong. "Kamu tau kan, kalau tujuanku bukan untuk cuci tangan."
Sontak hal itu berhasil membuat bulu kuduk Mega berdiri. Ia rasa, ternyata bukan tempatnya yang seram. Namun gadis ini.
"Oke, oke, gue paham. Kita cuci tangan disini." Menyesal ia tadi makan makan gorengan, sangat menyesal. Tangannya jadi berminyak seperti ini, ditambah lagi, Mega menceritakan kisah seram tentang kamar mandi lama. Niatnya ingin membuat Lintang balik kanan, ternyata tetap terus tancap gas.
"Kalau kamu takut, tunggu aja disini." Lintang merogoh saku kemeja putihnya, lalu menyodorkan tisu. "Pakai ini."
Mega menerimanya dengan sedikit keraguan. Ternyata dari awal ia sudah membawanya. Jadi, temannya ini benar bersungguh-sungguh untuk masuk menjelajah kamar mandi lama ini.
"Jangan ditinggal loh, ya. Aku nggak lama kok."
Setelahnya, gadis berkuncir itu benar-benar melangkah masuk, semakin ke dalam sendirian.
Meninggalkan Mega yang masih terbengong-bengong di tempat. Disertai hela nafas dan gelengan pelan, Mega berucap, "Gue beneran nggak paham sama cara kerja otak Lintang."
Suasana suram, lembap dan sunyi. Bunyi tetesan air dari keran air menjadi satu-satunya backsound yang ada menemani gadis itu. Lintang membuka salah satu bilik. Tidak ada apa-apa. Hanya toilet yang sudah rusak, penuh kotoran, sampah dan menjijikkan. Kepalanya mengangguk-angguk, "Oke, selayaknya kamar mandi terbengkalai pada umumnya."