Yujin keluar dari dalam kamar, dengan wajah murung juga helaan nafas. Ketika di luar, dia membungkuk sedikit di depan Raja yang berdiri di depan kamar.
"Bagaimana Pangeran Kim?"
"Pangeran pingsan Ayah." Jawab Yujin pelan, "Tapi lukanya sudah di jahit. Tubuh Pangeran juga sudah bersih dari darah." Tambahnya di angguki oleh Raja.
Tangan Raja terulur, mengelus rambut putrinya lembut. "Tetaplah temani suamimu. Ayah dan Ibunda akan pergi untuk selesaikan masalah kerajaan."
Kepala Yujin membungkuk, "Baik Ayahanda."
Raja kemudian pergi. Yujin menatap punggung Ayahnya sekilas, sebelum dia kembali masuk ke dalam kamar. Matanya menatap takdirnya yang masih berbaring di atas ranjang, dengan perban yang menutupi seluruh tubuh bagian atasnya.
Perlahan Kaki Yujin mendekat. Hingga gadis itu berdiri di sebelah ranjang, dan membungkukkan punggungnya. Bola mata hazelnya yang cerah, menatap mata takdirnya yang terpejam. Sejenak Yujin tertegun, menatap bibir Pangeran.
Senyum Yujin terbit kecil dan manis. Gadis itu mendekatkan wajahnya, kemudian menempelkan bibirnya di bibir Pangeran. Gadis itu kaget, begitu kecupannya berubah menjadi ciuman saat Pangeran melumatnya.
Mata Doyoung masih terpejam, tapi bibirnya ahli sekali mengambil alih. Perlahan Yujin memejamkan matanya, dengan tangannya perlahan masuk ke dalam tengkuk Pangeran, dan mendalamkan ciumannya, menjadi lebih dominan dalam ciumannya.
Perlahan Doyoung melepaskan ciumannya. Matanya terbuka perlahan, menatap sayu ke arah wajah Yujin tepat di atasnya. Dia terkekeh, "Kau lebih ahli sekarang.." pujinya membuat Yujin tersenyum geli.
"Aku hanya bisa lebih ahli saat kau lemah, Pangeran." Bisik Yujin, mengecup bibir suaminya sekilas kemudian kembali berdiri.
Doyoung membangunkan punggungnya, di bantu istrinya. Tangan Pangeran terulur, menarik lengan Yujin sampai duduk di sisi ranjang― di hadapannya. "Ada apa?" Yujin bertanya, mengernyit tipis.
Doyoung mengambil tangan Yujin, dan menaruhnya di sisi keningnya. "Ini sakit.."
Yujin berkedip, kemudian tersenyum geli. Tangannya mengusap kening Pangeran sampai suaminya memejamkan mata dengan kekehan pelan. "Masih sakit?"
"Kalau aku bilang sudah, apa kau akan berhenti mengelus?"
"Mm.. tidak juga." Yujin terkekeh, detik setelahnya, gadis itu membawa kepala Pangeran mendekat, hingga hidung mereka menyatu. Tatapan Yujin dan Doyoung saling berpandang. Yujin bisa merasakan hembusan nafas hangat Pangeran yang menerpa bibir tipisnya. "Aku selalu takut kau terluka.. aku tidak terbiasa melihatmu kesakitan.." bisik Yujin lemah.
Doyoung terkekeh, tangannya terulur, mengusap rambut belakang gadisnya. "Maafkan aku.. yang bahkan tidak bisa menjaga diri sendiri.." bisik Doyoung tersenyum kecil, "Lain kali aku akan bekerja keras, agar bisa melindungi diri sendiri supaya istriku tidak lagi melihatku terluka."
"Janji?"
Pangeran diam sejenak. Tatapannya mengarahkan Yujin untuk mencari kejujuran. Baru saat itu, jari kelingking Pangeran terulur, dan menaut di kelingking Yujin. "Aku janji untukmu, istriku."
***
Ratu Ahnalon masuk ke dalam kamar Putri dan menantunya. Ketika masuk, bibirnya mengukir senyum tipis begitu melihat Putrinya tertidur di sebelah suaminya dengan kepala bersandar di bahu Pangeran.
Mata Doyoung terbuka, menatap Ratu kemudian langsung bangkit, dengan perlahan.
"Tidak perlu memaksakan jika belum pulih, Pangeran."
"Saya sudah lebih baik, Ibunda." Doyoung membalas. Dia turun dari ranjangnya, dan berjalan ke arah yang mulia Ratu, dan membungkuk sedikit. "Ada yang ingin anda bicarakan, Yang Mulia?"
"Tidak. Tapi Yang Mulia Raja ingin berbicara pada anda." Ratu membalas. "Sekiranya jika anda sudah baikan, silahkan bertemu dengan Raja."
"Saya akan ke tempat Raja sekarang." Kata Pangeran di angguki Ratu. Yang Mulia Ahnalon itu pergi dari kamar.
Pangeran langsung pergi ke lemari. Namun saat membukanya, Pangeran meringis lupa jika ini bukan di kamarnya. Saat bingung ingin berpakaian seperti apa, sebuah tangan lebih dulu memeluknya membuat Pangeran menolehkan kepala.
"Kau mencari pakaian formal?" Yujin bertanya, memejamkan matanya.
"Iya. Maaf membuka lemarimu."
Yujin tertawa pelan, "Tidak masalah." Balasnya kemudian melepaskan pelukannya. Yujin membalikkan tubuh takdirnya, dan memperhatikan tubuh suaminya dari atas sampai bawah. "Aku rasa.. seperti ini saja tidak apa-apa untuk bertemu Ayahanda."
"Kau― kau bercanda?" Doyoung mengernyit tidak habis fikir. Dia menggelengkan kepalanya, "Aku akan meminta ketua prajurit untuk―"
"Apa? Mengambil pakaian-mu di istana?" Yujin menghela nafasnya, "Ketua prajurit akan terkena masalah. Dia bisa di hukum Ratu, kalau dia kembali tanpa kau, Pangeran." Peringat Yujin membuat Pangeran ingat dan ikut menghela nafas.
Yujin berdecak pelan, "Sudah ku bilang. Tidak apa-apa bertemu Ayahanda seperti ini. Ayo!" Ajak Yujin menarik tangan suaminya membuat Doyoung menegak salivanya.
"Ini.. tidak sopan, Kim Yujin."
"Stt.. Ayahanda pasti mengerti." Ucap Yujin menenangkan. Gadis itu kembali menarik tangan suaminya yang masih mencoba melepaskan pegangannya. Yujin tetap kekeuh menarik suaminya, bahkan keluar dari kamar, membuat seluruh atensi pelayan, mengarah ke pasangan itu.
Habis wajah Doyoung merah padam. Pelayan disini di dominasi wanita, membuat Pangeran merasa tidak enak. "Yujin―"
"Tidak apa-apa." Ucap Yujin, kemudian berhenti berjalan membuat Pangeran menatapnya bingung dengan tangan masih mencoba melonggarkan pegangan istrinya yang cukup kencang. "Aku perintahkan, jangan ada yang menatap Pangeran!"
Sontak semua atensi pelayan langsung teralihkan.
Yujin tersenyum, dia menarik suaminya kembali sampai ke depan pintu kediaman Raja. Tapi ketika melihat, tidak ada siapapun. "Kau lihat Raja dimana?" Tanya Yujin pada pelayanan.
Pelayan lelaki itu membungkukkan punggung. "Yang Mulia Raja saat ini sedang berada di singgasana."
"Ah baiklah." Yujin tersenyum, kemudian menoleh ke belakang dengan senyum lebih manis dan lebar. "Ayo ke singgasana, Ayahanda pasti menunggumu!"
"Kim Yujin, kau bercanda?" Doyoung menggeleng, "Aku tidak mau." Ucapnya tegas, namun istrinya malah menariknya sangat kuat. Tubuhnya yang lemah, merasa semakin lemah di bandingkan dengan kekuatan istrinya.
Tepat di depan pintu ruang singgasana, Doyoung menggeleng tidak mau. Ini sangat-sangat tidak sopan. Bagaimana bisa dia berpakaian seperti ini di depan Sang Raja, terlebih itu mertuanya sendiri? Doyoung tidak enak.
"Tidak apa-apa."
Pintu di dorong oleh Yujin membuat Pangeran yang memberontak, berubah diam dengan wajah di setting lebih berwibawa. Dia melepaskan tangan Yujin yang mencekalnya, berubah menjadi dia yang menggenggam tangan Yujin dan membawanya masuk dengan semua rasa percaya dirinya.
Yang Mulia Raja tersenyum kecil, "Kau datang Pangeran. Bagaimana keadaanmu?"
Doyoung bersimpuh di depan Raja, sampai satu lututnya menyentuh lantai di sebelah Yujin. "Saya sudah lebih baik, Ayahanda."
"Bersyukur atas Tuhan." Kata Raja. "Bangunlah Pangeran, saya akan berbicara pada anda secara empat mata di ruangan saya." Ucap Raja, turun dari tahta dan pergi.
Doyoung membuang nafasnya yang tercekat. Kemudian tatapannya beralih ke arah istrinya dan menatapnya penuh permusuhan. "Kau akan terima akibatnya nanti, lihat saja." Ancam Pangeran mendengus marah, lalu pergi mengikuti Raja.
Yujin terkekeh, "Aku akan menunggu malam nanti, suamiku."
KAMU SEDANG MEMBACA
Prince(ss)
Fanfiction[straight] ―Ahn Yujin, Princess yang berasal dari kerajaan Ahnalon, menikahi Prince kerajaan Orlankim, Kim Doyoung. Keduanya terikat karna tetua di dua kerajaan meramalkan keselamatan keduanya jika mereka menikah. [UPDATE JADWAL; SABTU] ⚠️Memuat fot...
