Kuda berhenti di depan istana Ahnalon. Pagarnya tertutup rapat, sehingga Pangeran Kim tidak dapat melihat keadaan di dalam. Tapi dia tetap turun dari kudanya, dan berdiri di depan pagar dengan jubah hitam menutupi tubuhnya.
Tudung dia pakai, kemudian kakinya melangkah, mencari jalan lain dari belakang istana.
Sementara itu, Yujin di dalam mendesis kasar. Tatapannya tertuju ke arah Raja dan Ratu yang terikat di tengah area tarung. Amarahnya semakin meningkat, tanpa sadar giginya menggigit bibirnya hingga berdarah.
"Lepaskan mereka." Yujin berucap lagi, namun Kakaknya tak mengindahkan, justru tertawa renyah. "Apa yang kau inginkan sebenarnya? Kerajaan ini tidak akan menjadi milikmu, sekalipun kau membunuh kami."
"Benar." Lee-Soo mengangguk setuju. Dia berbalik badan, menatap adik perempuannya dengan senyum lebar. "Maka dari itu, sebelum aku membunuh kalian, aku akan menghancurkan kerajaan ini lebih dulu. Supaya kalian mati, dalam keadaan menangis darah." Ucapnya terkekeh gila, kemudian tatapannya menajam.
Pangeran itu mendongak ke arah langit, kemudian tersenyum. "Sebentar lagi, kerajaan ini akan hancur. Jadi," tatapannya turun, menatap kedua orang tuanya. "Ada yang ingin kalian katakan?"
Raja menoleh, menatap putra sulungnya dengan tatapan tajam. "Kalau kau ingin membunuh aku silahkan, tapi jangan bawa Ibundamu dan Adikmu."
"Hahahaha tidak bisa." Lee-Soo membalas dengan tawa renyah. Seringaiannya terbit meremehkan, "Kalian semua harus mati, setelah kerajaan ini hancur, paham?"
Lee-Soo menggeleng pelan, dengan kekehan lucu. Dia mendongak, menatap langit kembali. "Sudah waktunya, jadi selamat tinggal semua. Aku sejujurnya ingin mati bersama kalian, tapi aku harus pergi." Ucapnya tersenyum sedih, kemudian terkekeh geli.
Para prajurit yang berdiri di berbagai area, sudah siap dengan anak panah mereka. Mendapat tanda dari Ahn Lee-Soo, mereka mulai menyalakan api ke anak panah.
Suing~
Crass!
"Bagaimana kalau kau yang mati saja?"
Langkah Lee-Soo berhenti. Pangeran Ahn itu berbalik badan, kemudian tatapannya tertuju pada seseorang berjubah hitam. Kepalanya mendongak, menatap semua prajuritnya tumbang dengan anak panah tertancap. Kepalan tangannya terkepal keras, dengan rahang mengeras.
Doyoung membuka tudung jubah hitamnya. Manik hitamnya, menatap Kakak istrinya dengan tatapan datar namun tajam.
"Jadi bagaimana? Kau ingin mati bukan?" Tantang Doyoung, memegang pedangnya di bagian kiri dengan tangan kirinya.
"Hah.. sial." Lee-Soo terkekeh sinis, kemudian dengan cepat mengeluarkan pedangnya. "Kau yang akan mati di depan takdirmu, sialan."
tap! tap! tap!
Sring!
Dua besi pedang saling beradu dengan kaki bertahan. Tatapan mereka membunuh, siap mengunus pedang ke perut lawan. Kaki Doyoung bergerak maju satu langkah, membuat kaki Lee-Soo mundur.
Tang!
Keduanya sama-sama mundur, nafas mereka mulai berkeluaran cepat. Doyoung dan Lee-Soo mencengkeram lebih kuat gagang pedang mereka, sebelum akhirnya berlari dan saling beradu pedang dan menghindari serangan.
Yujin menegak salivanya takut. Tatapannya fokus ke arah kedua lelaki yang berharga baginya. Tanpa sadar, air mata Yujin jatuh, ranumnya bergetar, sakit melihat dua lelaki kehidupannya bertarung.
"T-tolong.. berhenti.."
Seakan terikat batin, Doyoung berhenti bergerak. Detik itu, bagian kiri perutnya di hunus pedang membuat darah banjir berjatuhan. Tatapan Doyoung menajam ke arah Lee-Soo dengan desisan. Perlahan tangannya memegang besi pedang, kemudian menariknya cepat dan membuang pedang itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Prince(ss)
Fanfiction[straight] ―Ahn Yujin, Princess yang berasal dari kerajaan Ahnalon, menikahi Prince kerajaan Orlankim, Kim Doyoung. Keduanya terikat karna tetua di dua kerajaan meramalkan keselamatan keduanya jika mereka menikah. [UPDATE JADWAL; SABTU] ⚠️Memuat fot...
